Pertemuan

Ilustrasi Lidah Ketut RaptiAku tidak bisa membayangkan, keanehan macam apa yang bakal terjadi di kampung kami. Dua tokoh masyur akan pulang kampung secara bersamaan. Entah apa tujuannya. Yang lebih gila lagi, keduanya meminta aku untuk menjadi penengah pertemuan mereka. Alasannya, hanya aku yang mengerti perseteruan apa yang sedang mereka alami di Jakarta dan di TV-TV. Hanya aku yang bisa menjembatani antara kekotaan dengan kekampungan. Hanya aku yang bisa memilih siaran TV yang berbobot dibandingkan dengan warga kampung yang asyik dengan kegemarannya menonton berita tentang Odalan, kekawin, tari-tarian atau sekedar laporan keindahan pariwisata Bali.

Konyol sekali. Aku satu-satunya orang yang berfikir alangkah tidak bermanfaatnya pertemuan mereka berdua. Apa peduliku, bila Ketut Rapti sedang berseteru hebat dengan Wayan Wari. Apa peduliku bila Ketut Rapti sedang berada pada titik nadir hidupnya, ketika ia gagal menghasilkan satupun lukisan baru.

Gosip terakhir yang beredar, Ketut Rapti hanya mereproduksi lukisan-lukisan lamanya yang fenomenal. Ia bekerja sama dengan tim kreatifnya yang canggih, untuk membuat cerita untuk pernak-pernik yang mereka produksi. Ketut Rapti adalah bentuk perlawanan terhadap upaya diskriminasi terhadap kedaerahan. Ketut Rapti adalah seorang aktivis sejati. Hidupnya sendiri adalah perlawanan.

Sebagai pelampiasannya dari kegagalan membuat lukisan baru, Ketut Rapti mulai menghadiri talkshow-talkshow TV yang selama ini tidak pernah digubrisnya. Ketut Rapti sebelumnya teramat takut jika ada mic yang disorongkan ke mulutnya. Sekarang tidak lagi. Ada seorang ahli public speaking yang melatihnya secara intensif. Tentu saja dengan bayaran yang sangat mahal. Sebuah harga yang pantas dengan kepandaian Ketut Rapti berbicara saat ini.

Ketut Rapti merasakan kegembiraan yang meluap-luap pada kemampuannya berbicara. Sesuatu yang tidak dibayangkannya dapat terjadi. Seperti anak kecil yang menemukan mainan kegemarannya. Ketut Rapti terpesona pada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Buah pikiran-buah pikiran cemerlang menyembur dan memesona orang-orang mendengarnya. Juga pemirsa TV, yang kagum pada kepolosan sekaligus keberanian Ketut Rapti menyuarakan kebenaran.

 “Saya yakin kita tidak cuma lahir untuk kejayaan dan kekayaan. Kalaupun kita ditakdirkan untuk itu, saya yakin itu harus dilakukan dengan cara yang benar. Bukan dengan saling sikut, apalagi dengan menjadi calo politik. Lebih baik hidup miskin dengan uang apa adanya, daripada harus hidup dari kekayaan yang haram, begitu kawan-kawan muslim menyebutnya. Saya sangat setuju. Tidak ada kebahagiaan yang bisa diraih dari harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar. Hidup pun tidak bisa tenang.”

   “Anda sendiri sangat kaya? Bagaimana anda meraihnya?”

        “Anda mungkin belum membaca biografi saya. Saya datang ke Jakarta, nyaris tanpa bekal apapun. Saya hampir terlempar dalam keputusasaan. Namun lidah saya menyelamatkan saya, eh maksud saya lukisan-lukisan saya. Saya tidak menggunakan apapun untuk mencapai apa yang saya miliki sekarang, selain kecintaan saya untuk melukis. Saya tidak habis mengerti dengan orang-orang meraih kekayaan dengan korupsi, sikut sana sikut sini. Menjadi calo untuk menguras anggaran rakyat. Sedihnya, bahkan ada kawan yang saya kenal baik, melakukan itu. Mencari celah untuk memanfaatkan dan menggunakan APBD yang melimpah-ruah itu. Saya sangat sedih karenanya. Sekarang ia menjadi kaya-raya karena kecipratan APBD. Untuk apa kekayaan yang diperoleh dengan cara begitu. Saya yakin tidak ada kebahagiaan yang bisa diraih di situ.”

  “Boleh tahu siapa tokoh yang anda maksud itu?”

“Tidak eloklah bila saya menyebutnya. Kelak anda pasti tahu siapa dia. Dia sekarang sudah berada di Jakarta, untuk melubangi APBN, agar ia kecipratan.”

“Wah kami sungguh penasaran dengan siapa yang anda maksud.”

            Ketut Rapti hanya tersenyum simpul. Menolak terpancing menjawab pertanyaan si penyiar TV. Ia hanya memandang sekilas dari tabung kaca TV, dan memastikan orang yang dimaksudnya sedang menonton.

Ketut Rapti tahu betul si penyiar TV ataupun tim yang ada di belakangnya, akan berhasil mencari tahu siapa yang dimaksud Ketut Rapti. Gosip semacam ini adalah bahan berita yang menggaruk gatal para jurnalis, untuk menghasilkan berita yang menimbulkan ledakan.

Wayan Wari memang ada di depan TV dan mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan Ketut Rapti. Wari bersungut-sungut kesal.

Perempuan kurang kerjaan. Tidak bisa melihat orang lain hidup tenang.”

 Aku tahu betul, perseteruan Ketut Rapti dan Wari tidak dimulai sekarang,  pada saat keduanya menjadi orang yang kaya dan terpandang. Itu dimulai jauh hari ketika mereka masih  kelas satu SMP di sebuah sekolah inpres yang berada di tengah padang ilalang. Ketut Rapti naksir Wayan Wari yang menurutnya berhati baik. Namun Wari naksir Ayu Dewi yang sekarang ini menjadi istrinya. Kami sering bermain ke sawah bersama dan sangat mudah mengetahui perasaan Ketut Rapti kepada Wari. Wari hanya tertawa terbahak-bahak ketika aku mencandainya dengan kenyataan itu. “Mana mungkin aku naksir Ketut Rapti. Kulitnya lebih hitam daripada panci di rumahku.”  Senyum di wajah Ketut Rapti lenyap. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari kami berdua. Kami berdebat panjang setelah kejadian itu.

“Kalau kamu tidak suka dia, tidak perlu menghinanya seperti itu?” kataku marah.

“Aku tidak menghinanya. Cuma bercanda. Kita kan biasa bercanda. Mengapa sekarang dia jadi lebih sensitif begitu. Dia juga sering mengata-taiku, “belog”, cuma karena ia sering juara satu.”

“Kalau itu sih memang kenyataan.” Kataku sedikit bercanda. “Nilaimu tidak ada yang bagus kan?”

“Tuhkan. Kamu tidak adil. Dia boleh menghinaku, sementara aku tidak boleh menghinanya. Kamu harus akui kan, Ketut Rapti tidak cantik. Kulitnya hitam, wajahnya tidak simetris. Terlalu banyak hal memanjang di wajahnya.” Aku tercenung sesaat kala itu. Wari memang ada benarnya.

Begitulah. Dendam kesumat seperti sudah bersarang di benak Ketut Rapti, begitu mengetahui Wari pun berhasil memanjat tangga menuju sebuah awan di langit sana. Selama ini, ialah satu-satunya orang dari kampung kami yang terkenal dan dipuja-puji dengan kekayaannya. Ia agak gemas dan geram ketika mengetahui Wari pun sudah berada di Jakarta dan menjadi seorang pejabat.

Wari menelponku berulangkali untuk menyampaikan kekesalannya.

Apa sih maunya Ketut Rapti mulai menyinggung-nyinggung namaku. Dia juga menuduhku yang bukan-bukan di TV.”

  “Apa kamu memang tidak pernah melubangi anggaran rakyat?”

    “Iya sih, tapi kamu harus menutup mulutmu. Kamu tahu, bahkan seorang koruptor mati dengan dielu-elukan karena kemurahan hatinya. Aku sudah berdana punia ke  banyak Pura. Sudah sering menyumbang besar setiap ada Piodalan di kampungku. Mereka pasti lebih menyukaiku daripada Ketut Rapti”

   “Lalu untuk apa kamu memberitahuku soal ini?”

     “Kamu mengenalnya. Tolong kasih tahu dia. Dia tahu kamu juga ada di Jakarta.”

    “Sejak kapan aku peduli, Yan. Kaupun dulu menghindariku sejak kau mulai kaya.” Kataku setengah menyindir.

     “Apa kau meminta bayaran untuk hal ini?”

       “Ha… ha…. ha…., tidak semua orang tertarik pada uangmu, Wari. Aku hanya tidak ingin terlibat dalam urusanmu.”

  Wari terdiam di ujung telepon. “Apa yang dikatakan Ketut Rapti sangat berbahaya. KPK bisa mencariku, padahal reputasiku sedang baik saat ini.”

  “Itu salahmu sendiri, Wari. Karena menghinanya dulu. Ketut Rapti sekarang punya kuasa untuk mempengaruhi media.”

  “Jangan terlalu melebih-lebihkan keagungan Ketut Rapti. Aku tahu kenapa dia begitu bawel di TV. Apalagi kalau bukan karena dia sudah tidak punya kemampuan melukis. Dia hanya mencoba peruntungan barunya sebagai aktivis. Dia sudah tidak bisa menggerakkan kuasnya. Dia sekarang bergantung pada mulutnya untuk menciptakan sensasi demi sensasi. Setelah kuasanya kehilangan daya, sekarang dia menggunakan mulutnya.” Kata Wari dengan mencibir.

 “Terserah kalianlah. Aku tidak mendapat keuntungan apa-apa dari pertengkaran kalian. Sudah ya Yan, aku harus balik kerja. Bosku sudah memandangku tajam sejak tadi.”

**

Kemudian yang membuat aku makin tak habis mengerti adalah, sms yang aku terima dari Ketut Rapti tadi pagi. Ternyata bukan hanya Wari yang mengganggap aku punya peran penting dalam perseteruan keduanya. Ia mengajakku bertemu di sebuah kafe.

            “Ada hal penting yang mau tiang bicarakan.”

            “Ada apa Tut?”

           “Lebih baik di kafe aja. Lebih enak suasananya.”

Gelap mulai turun saat aku masuk ke dalam Kafe. Seorang perempuan cantik tersenyum manis menyambut kedatanganku.

“Hai.. Made, sampai juga kau. Tiang sudah menunggu sejam.”

“Kamu Ketut Rapti?” Aku terbelalak tak percaya.

“Kok Made seperti melihat hantu.”

“Kamu… berubah sekali.” Kataku agak tercekat.

“Ah tidak. Kulitku tetap hitam. Wari akan tetap mengatai kulitku lebih hitam daripada panci di rumahnya.”

“Tapi kamu sungguh cantik seperti artis.”

“Belakangan sejak sering tampil di TV, tiang punya seorang tukang rias.” Katanya ringan.

Melihat aku masih terdiam, Ketut Rapti melanjutkan. “Belakangan tiang tidak  pernah melukis, jadi tiang punya banyak waktu lowong. Tiang menghubungi seorang dokter untuk memperbaiki beberapa bagian dari wajah tiang yang kurang simetris.” Aku hanya melongo. Kehabisan kata-kata.

Seperti tidak menghiraukan kekagetanku, Ketut Rapti terus saja bicara. “Tiang punya sebuah rencana.”

“Rencana apa itu Tut?”

“Made tahu kan apa yang terjadi antara tiang dengan Wari.”

“Tidak Tut. Apa yang terjadi?”

“Sudah ah jangan berpura-pura. Perseteruan kami makin meruncing. Kemarin di TV, Wari membeberkan masa lalu, bahwa tiang pernah naksir padanya dan dendam padanya.”

“Hmm… Lalu apa kaitan semua itu dengan aku?

“Tiang berencana untuk pulang kampung dan bertemu Wari di sana?”

“Untuk apa Tut. Kalian bisa bertemu disini.”

“Sejak perseturuanku dengan Wari, ingatanku terus melayang pada pertemuan terakhir kami di sawah itu.”

“Kamu tidak berniat merebutnya kan, dari istrinya yang sekarang?”

“Konyol betul perkiraanmu, Made. Dengan wajahku yang sekarang dan nama baikku sebagai seorang aktivis, untuk apa aku mengejar Wari. Masih banyak laki-laki tampan yang lebih berkelas daripadanya.” Aku tersenyum kecil menyetujui ucapannya.

“Kamu ingin Wari menyesal karena dulu menolakmu?”

Ketut Rapti mengulum senyum. “Aku hanya ingin bertemu dengannya”

Aku memandang perempuan cantik di depanku dengan setengah tidak percaya. Mana mungkin niatan sederhana itu muncul dari benak Ketut Rapti yang sekarang. Ketut Rapti yang sekarang bukanlah perempuan yang sederhana lagi. Ia bukan lagi perempuan pemalu yang senang menyembunyikan dirinya di sudut kelas. Wajahnya bertebaran di koran dan di TV. Ia kini bisa menyusun kalimat-kalimat yang rapi untuk menyampaikan pikirannya.

“Mengapa Made masih diam. Tiang memang hanya ingin bertemu dengannya. Semacam reuni setelah lama kami tidak bertemu. Di sana kami akan berdamai, tidak lagi saling berseteru. Tiang akan mengatakan bahwa tuduhan tiang kepada Wari hanyalah karena dendam masa lalu saja. Dendam karena cinta yang tidak terbalas.”

“Jadi Ketut akan mengalah, tidak lagi menyerang Wari seperti sebelumnya.”

Perempuan di hadapanku hanya menggangguk kecil dan tersenyum manis. Tanpa kusadari aku terhisap dalam pusaran senyumnya yang menghayutkan.

“Made… Made… Made…” Ketut Rapti menguncang-guncang bahuku berulang- kali.

“Eh…. iya, a…a… pa, Tut?”

“Kok Made bengong seperti orang linglung seperti itu?”

“Tidak… tidak apa-apa. Apa yang Ketut mau, saya akan mencoba untuk membantu.”

“Jadilah penengah pertemuan kami. Tiang mohon.”

Aku menganggukan kepala pasrah. Ketut Rapti sudah menundukkanku dengan senyumnya yang menghanyutkan.

“Karena tiang sudah mengalah, maka Wari pun akan mengalah. Di sawah terakhir kami bertemu, ia akan meminta maaf karena menghinaku waktu itu. Juga 1000an laki-laki yang pernah melakukan hal yang sama kepada teman perempuannya. Kata-kata semacam itu adalah kekerasan nonverbal kepada perempuan dan harus dilenyapkan dari jagat raya.”

“Aku kagum pada niatmu Tut.”

“Ada 20 stasiun TV dalam dan luar negeri akan meliputnya” mata Ketut Rapti berbinar-binar seperti bintang-bintang di malam paling gelap.

“Tahun depan tiang akan maju menjadi calon bupati.” Mataku terbelalak. Ketut Rapti bukan saja tak lagi sederhana, ia juga melenting-lenting untuk mencapai langit tertinggi yang bisa diraihnya.

“Bukankah Ketut ingin menjadi seorang seniman?”

Ketut Rapti hanya tersenyum tipis menanggapinya. Dan aku makin yakin perempuan di hadapanku ini, bukankah perempuan yang sama yang aku kenal di masa kecil dulu.

oleh Ni Komang Ariani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s