Bulan: Oktober 2018

Senjakala

Prolog

SENJAKALA revisiPernahkah engkau mendengar kisah tentang sepasang bocah kembar yang bermain di celah-celah tebing. Pernahkah kau dengar kisah mereka yang menjadi kesayangan raja-raja yang memerintah berabad lalu. Pernahkah kau dengar lengking tawa mereka yang nyaring saat matahari pagi berebut kuasa dengan malam yang dingin. Legenda ini telah diceritakan turun-temurun dan masih hangat dibicarakan.

Pantai Lovina, Oktober 2000

Sesosok tubuh terhempas dalam genangan berpasir. Subuh yang hening berganti dengan kegemparan. Nelayan-nelayan yang hendak menjala ikan di laut berkerumun dan mengeluarkan suara dengung yang menyerupai ribuan tawon. Tubuh itu adalah tubuh seorang bocah berkulit cokelat. Seluruh wajah dan tubuhnya bersemu kebiru-biruan. Ada darah yang mengental di sudut bibir dan kakinya. Sepertinya tubuh mungil itu telah dihantam dengan semena-mena, entah oleh siapa? Barangkali tubuh itu telah menjadi mayat, jauh sebelum hantaman terakhir menghajarnya.

Tubuh itu kemudian diangkat dari air yang menggenang. Pasir yang mengotori tubuh dan wajah dibersihkan dengan guyuran air. Alangkah tampannya wajah bocah laki-laki ini. Terdengar gumaman bernada prihatin. Nada-nada marah. Nada-nada khawatir. Anak siapakah yang gerangan bernasib demikian malang? Warga sekitar semakin banyak yang berdatangan. Ibu membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Terdengar jeritan ngeri begitu perempuan-perempuan itu melihat dengan jelas sosok tubuh bocah itu.

Kulkul bulus terdengar membahana di kawasan pesisir yang biasanya dibuai ketenangan. Semakin banyak warga yang berdatangan untuk membunuh rasa ingin tahu. Mereka tidak percaya di pantai mereka yang begitu suci ditemukan jasad manusia. Gumam dan desah terus saja terdengar tanpa putus-putusnya. Seperti tak habis-habisnya kata-kata untuk mempertanyakan. Barangkali karena pemandangan itu terlalu tak mengenakkan hati. Terlalu melukai jiwa. Terlalu menyedot rasa ingin tahu. Saat tak putus-putusnya pertanyaan, hentakan sepatu lars membuat semua orang berpaling. Dua orang berseragam polisi menyeruak kerumunan. Sejenak keduanya memeriksa mayat bocah itu.

“Kami harus membawanya ke rumah sakit untuk diautopsi,” ungkap salah satu polisi yang berkumis tebal kepada orang-orang yang masih melongo. Mereka masih bergeming ketika dua polisi itu perlahan mengangkut mayat itu dengan mobil bercat hitam. Kerumunan baru bubar setelah mobil hitam itu membentuk sebuah titik di kejauhan. Mulut itu masih saja memperdengarkan kalimat-kalimat lirih walaupun langkah kaki mereka sudah begitu jauh dari tempat itu. Siapakah gerangan bocah tak dikenal itu?
**

Gunung Kawi, Januari 2000

Matahari tepat berada di atas kepala saat Lily tiba di kawasan wisata Candi Tebing Gunung Kawi, Gianyar. Walaupun matahari bersinar dengan sangat terik, udara masih terasa sejuk. Barangkali karena daerah ini berada pada kawasan perbukitan.

Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma segar di paru-parunya. Aroma sangit tanah terasa sangat nikmat. Hampir dua pekan berada di Bali, Lily selalu melakukan ritual yang sama sebelum memulai liputannya.
Mengunjungi Candi Tebing Gunung Kawi membuat Lily merasa dibawa ke masa lalu. Candi tua yang terpahat di tebing-tebing itu terlihat begitu misterius dan menghadirkan nuansa magis. Lily sudah merasa perasaannya terpengaruh ketika ia mulai berjalan menuruni ratusan undakan menuju ke bagian dalam candi.
Liputan yang harus dilakukan Lily kali ini tergolong ringan. Mungkin atasannya berharap Lily sesekali menikmati liburannya. Karena, bagi mereka dedikasi Lily terhadap pekerjaannya sudah terasa di luar batas. Selama lima tahun terakhir Lily tidak pernah mengambil cuti tahunannya. Ia hanya tidak masuk kalau sedang sakit. Kantor koran Memoar seolah menjadi rumah kedua bagi Lily.

Mas Tony sering geleng kepala bila melihat Lily begitu suntuk dengan layar komputer di depannya. Tidakkah kamu bosan dengan suasana kantor ini, Ly? kata redakturnya itu suatu ketika. Lily hanya menanggapi kata-kata itu dengan senyuman kecil.

Lily sangat menikmati pekerjaannya sebagai wartawan. Pada saat bekerja, waktu seolah-olah hilang. Begitu Lily merasa puas dengan tulisannya barulah ia meninggalkan meja kerjanya untuk pulang beristirahat.

Itulah yang ia lakukan hari demi hari, minggu demi minggu. Ternyata tahun demi tahun pun lewat. Mungkin ada satu hal lain yang membuat Lily seolah kesetanan dalam bekerja. Lily merasa enggan pulang setelah putus dengan pacarnya, Rafa. Laki-laki yang belum juga enyah dari pikirannya.

Rafa meninggalkannya demi sebuah cinta lain. Alasannya karena Lily terlalu sibuk dengan dunianya sebagai wartawan. Aku bukan pacarmu Ly, koran itulah pacarmu, kata Rafa. Lily hanya ternganga dan kehilangan kata-kata saat itu.

Benarkah ia telah begitu sibuk, sampai-sampai Rafa berkata begitu. Ah sudahlah, barangkali itu hanya alasan Rafa untuk meninggalkannya. Lily mengembuskan napasnya kuat-kuat, berusaha membuang sakit hati yang masih tersisa di dadanya.
Pekan lalu, tiba-tiba saja Mas Tony memanggilnya dan menyodorkan tiket pulang pergi Jakarta-Bali. Buat kamu, liputan di sana. Proyek promosi wisata sekalian jalan-jalan. Aku takut suatu saat lihat kamu digiring ke rumah sakit jiwa kalau nggak pernah libur, katanya dengan senyum menggoda.

Lily memasang wajah galak untuk menanggapi candanya itu. Sudah separah itukah kegilaan Lily dalam bekerja? Bukankah ia hanya berusaha bekerja dengan serius untuk memaksimalkan hasil kerjanya? Tapi, tidak apa-apalah, Lily senang mendapat kesempatan ini. Dengan begitu ia bisa jalan-jalan gratis dengan liputan yang tergolong ringan.

Lily hanya harus meliput sejumlah tempat wisata yang mulai berkembang, namun tidak seramai tempat-tempat wisata yang sudah lebih terkenal. Ada sepuluh objek wisata yang harus ia liput, tersebar di berbagai kabupaten di Bali. Lily harus membuat tulisan ringan mengenai tempat-tempat wisata itu ditambah foto-foto kawasan wisata tersebut. Gunung Kawi adalah tempat wisata terakhir yang harus ia liput.

Langkah-langkah Lily memasuki dan menuruni anak tangga terdengar bergema di lorong gua yang dimasukinya. Hari ini Gunung Kawi terlihat cukup ramai. Turis-turis berambut pirang, berambut cokelat, dan berwajah Asia berpapasan dengan Lily di lorong itu. Lily sedang bersenandung lirih ketika telinganya mendengar suara orang berlari yang semakin dekat dengannya. Dua langkah kaki yang saling berkejaran. Ketika menoleh ke belakang, Lily terkesiap, seorang bocah laki-laki hampir saja menabraknya.

Muka bocah itu tinggal beberapa senti saja dari mukanya. Lily merutuk dalam hati pada kenakalan bocah itu. Untunglah, bocah itu dengan sigap melompat ke samping kemudian meneruskan larinya.

Jika tidak, pastinya Lily sudah jatuh berguling-guling.
Lily cepat-cepat menyingkir karena beberapa saat setelah si Bocah Laki-laki, seorang bocah perempuan berlari kencang mengejarnya. Muka si Bocah Perempuan tampak memerah dan terengah. Kedua bocah itu tentulah tinggal di kawasan ini, jika tidak, tidak mungkin balapan lari di tangga seterjal ini. Lily meneruskan langkah sambil terus merapatkan tubuhnya ke bagian pinggir. Ia khawatir ada gerombolan bocah lain yang berlarian di sana.
**

“Bagus Ly, fotomu asyik-asyik. Tapi, kayaknya masih ada yang kurang?” kata Mas Noch, redakturnya, lewat telepon.
“Yang mana, Mas?”
“Ada beberapa gambar bagus yang kamu dapat dari Gunung Kawi. Tapi, beberapa di antaranya buram karena kameranya bergerak. Kamu bisa ambil ulang?”
“Bukankah masih banyak foto yang lain, dari objek wisata lain, masih belum cukup?”
“Aku suka sekali beberapa foto itu. Foto itu akan jadi foto utama di display foto koran akhir pekan. Masih ada waktu, kamu bisa ambil ulang?”
“Bisa Mas. Besok pagi saya ke sana lagi.”

Keesokan harinya, Lily hanya membawa satu ransel kecil ke Candi Tebing Gunung Kawi. Maklum, hanya beberapa foto yang ia perlukan untuk memenuhi permintaan Mas Noch. Lily kembali memasuki bagian dalam candi. Ia memasuki ruang demi ruang. Ternyata masih banyak bagian candi yang belum dilihatnya kemarin. Mas Noch pasti akan semakin kagum dengan hasil jepretannya kali ini.

Candi Tebing Gunung Kawi terbagi menjadi dua bagian utama yang dipisahkan oleh Sungai Pakerisan yang membujur dari arah utara ke selatan. Ada sembilan gugus candi, lima di sisi timur dan empat di sisi barat. Konon candi ini dibangun untuk dipergunakan sebagai makam Raja Bali pada masa itu, yaitu Raja Udayana. Selain dua kelompok gugusan itu, di bagian timur Sungai Pakerisan juga terdapat kelompok-kelompok candi tambahan yang membentang hingga ke kawasan persawahan.

Candi-candi itu terdiri dari ruangan-ruangan yang digunakan sebagai tempat pertapaan dan tempat beristirahat bagi para petapa. Alangkah luar biasanya bangunan yang begitu istimewa diciptakan pada abad 11 Masehi. Batu yang demikian keras dipahat menjadi ruangan-ruangan yang sangat indah. Lily tidak bisa membayangkan betapa hebatnya para ahli bangunan yang mengerjakannya pada masa itu.

Setelah meneliti setiap sudutnya lebih seksama, Lily semakin mengagumi tempat wisata terakhir yang harus diliputnya ini. Lily berjanji akan datang lagi ke tempat ini suatu saat. Dengan bersenandung kecil ia menjepret setiap sudut candi yang dianggapnya menarik. Foto-foto yang sesungguhnya tidak diminta oleh redakturnya.

Lily ingin menyimpannya sebagai koleksi pribadi karena ia begitu terpesona pada kompleks candi ini. Sebuah mahakarya yang belum banyak diketahui orang sehingga tempat ini belum menjadi tempat wisata favorit. Setelah puas dengan foto-foto untuk koleksinya, Lily kemudian menuju ke lokasi gugusan lima candi yang harus ia ambil ulang. Sepuluh foto ia siapkan untuk Mas Noch. Mudah-mudahan Mas Noch puas dengan hasil jepretannya kali ini. Lily menarik napas panjang setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Lily bergegas memacu mobilnya ke kantor. Ia ingin segera menyelesaikan tugas Mas Noch agar bisa segera menyelesaikan seluruh tulisannya di semua kawasan wisata. Waktu yang dimiliki tidak banyak. Lusa, ia sudah harus kembali ke Jakarta. Pukul delapan malam lewat lima menit, Lily menuliskan titik pada bagian akhir tulisannya. Ia kemudian mengirimkannya lewat email kepada Mas Tony dan Mas Noch.

Lily mengeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena duduk terlalu lama. Ia mengembuskan napas lega. Akhirnya, rampung juga semua tugas yang harus dikerjakannya. Lily memutuskan untuk membuat satu folder untuk foto-fotonya yang berasal dari Gunung Kawi. Ternyata foto hasil jepretannya cukup banyak jumlahnya. Sebanyak enam puluh tiga foto. Lily harus menghapus sebagian foto yang jelek agar komputernya tidak terlalu berat menampung foto sedemikian banyaknya.

Lily meneliti satu per satu foto hasil jepretannya. Walaupun jumlah foto-foto yang dihasilkannya demikian banyak, ternyata hanya sedikit yang buram dan kabur. Sebagian besar foto-foto itu malah terlihat sangat hidup dengan pengambilan angle yang tepat dan pencahayaan yang bagus. Lily merasa sayang untuk menghapusnya. Ia memutuskan untuk menyimpan foto-foto itu dalam file tersendiri dalam sebuah CD.

Dari sekian banyak foto yang diamatinya perhatian Lily tersedot pada sebuah foto. Foto itu adalah foto Sungai Pakerisan yang dijepretnya hari ini. Foto itu terlihat agak seram dan bagian sungai terlihat gelap padahal waktu diambil hari masih siang. Batu-batu besar bergelimpangan begitu saja sepanjang sungai. Air sungai terpaksa mengalah, harus meliuk-liuk di antara batu-batu besar itu. Pohon beringin yang rimbun, berebut menjuntaikan sulurnya ke sungai membuat sungai semakin gelap, walaupun di siang hari. Belum lagi rumpun pohon pisang yang tumbuh di sepanjang sungai.

Lily menekan tombol zoom di keyboard komputernya. Sebuah objek menarik perhatian Lily. Ada foto seorang bocah berjongkok di pinggir sungai. Tangannya memegang benda kecil berbentuk memanjang. Rambutnya dikucir dua dan diikat tinggi. Lily kembali menekan tombol zoom di keyboard komputernya. Bocah itu ternyata seorang gadis kecil berkulit cokelat. Kacamata mungil bertengger di matanya. Lily tidak bisa melihat lebih jelas lagi karena bocah itu terlalu jauh dari fokus kameranya. Lily tidak menyadari telah mengambil gambar anak itu ketika ia menjepretkan kameranya. Siapakah bocah itu? Rasanya Lily pernah melihatnya. Namun, ia betul-betul lupa di mana.

oleh Ni Komang Ariani

Menemui Thailand, Menemui Bali Menemui Marigold

Doi Suthep 114 Agustus 2018 senjakala telah tiba ketika saya menjejakkan kaki di Thailand untuk pertama kali. Juga negeri asing untuk pertama kalinya. Selama tiga belas tahun ini, saya lebih merasa sebagai seorang ibu rumah tangga, daripada pekerjaan-pekerjaan lainnya. Saya menulis cerita, dan sejak tiga tahun terakhir ini saya mengajar. Namun saya selalu merasa, pekerjaan utama saya adalah ibu rumah tangga.

Saya merasa terikat dengan rumah. Di rumah, tugas harian saya adalah memastikan makanan yang cukup untuk anak saya, memastikan ia mengerjakan PR, menyediakan perlengkapan sekolah yang ia perlukan dan memastikan ia tidur dengan baik di malam hari. Setiap tahun, perjalanan rutin saya adalah terbang ke Bali, untuk menemui keluarga saya di sana. Saya agak cemas dengan terbang, jadi saya agak menghindari untuk sering terbang. Kali ini sebuah program residensi memaksa saya mengatasi rasa takut saya.

Grand Palace 1Saya tiba sebuah hotel kecil di Bangkok sekitar jam setengah enam sore untuk transit semalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai. Saya menggunakan waktu transit saya di Bangkok untuk mengunjungi The Grand Palace. The Grand Palace merupakan istana raja Thailand yang sangat indah. Ada perpaduan warna yang sangat semarak dari emas, perak, merah, hitam, hijau, biru dengan ukir-ukiran yang sangat rumit. Menurut Asisten Profesor Arsitektur dari Universitas Silkaporn, Fakultas Arsitektur (dikutip dari buku A Geek in Thailand, karya Jody Houton), arsitektur Thailand dipengaruhi oleh dua peradaban besar, yaitu India dan China, juga beberapa tetangga terdekat.

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan di City Art and Cultural Museum- Chiang Mai, di masa lalu, Thailand merupakan sebuah kerajaan yang bernama Siam. Kerajaan Siam sempat berperang dengan Birma untuk merebutkan Kerajaan Lanna (Chiang Mai). Kerajaan Lanna sempat dikuasai oleh Birma selama ratusan tahun. Oleh karena itu, arsitektur candi-candi di Thailand lumayan mirip dengan candi-candi yang ada di Birma.

Yang cukup menarik juga adalah beberapa candi kuno di Thailand mengingatkan saya pada arsitektur bangunan di jaman Majapahit, dan juga arsitektur Pura-pura di Bali. Sebagaimana yang tampak pada Wat Chedi Luang dan Wat Umong. Di Wat Chedi Luang, saya sempat bercakap-cakap dengan para biksu Buddha melalui program The Monk Chat Program. Program ini bertujuan untuk saling mengenalkan kebudayaan dari daerah asal dan saling berlatih menggunakan bahasa Inggris. Cukup menyenangkan juga bisa mengenal dan bercakap-cakap dengan para biksu itu, walaupun dalam perbincangan itu mereka masih terlihat malu-malu. Banyak pula hal yang sulit saling kami mengerti karena dialek bahasa Inggris kami masing-masing.

Di Chiang Mai, saya menetap di dekat kawasan Old City, yang merupakan bekas ibukota kerajaan Lanna di masa lalu. Chiang Mai adalah kota kecil yang ramah. Harga makanan, hostel dan transportasi di Chiang Mai juga relatif murah. Untuk pergi di sekitar kota, kita bisa menggunakan Tuk Tuk, Song thew, dan Grab.

Grabcar ada dalam jumlah banyak, jadi begitu memesan grab melalui aplikasi, mobil ini akan tiba menjemput kita dalam waktu 2-3 menit. Harganya juga relatif murah dan drivernya juga sangat ramah. Tidak yang kebut-kebutan seperti driver mobil online di Indonesia. Tak salah bila Thailand dijuluki sebagai The Land of Smile. Setiap orang yang kau mintai bantuan, akan menjawab dengan senyuman atau suara yang bersahabat. Sekalipun mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka akan tetap tersenyum. Ketika saya hendak menemui seorang kawan Indonesia yang bekerja di Maejo University, salah seorang mahasiswa dengan suka rela mengantar saya ke Faculty of Liberal Arts, yang lumayan jauh jaraknya. Bahasa barangkali menghalangi, namun kesediaan untuk membantu tak terhalang kendala bahasa.

Menemui Thailand dan Menemui Bali
Kuil Mini 1.jpgBegitu menginjakkan kaki di Thailand, saya cukup takjub juga mengamati praktek keagamaan di Thailand, cukup mirip dengan praktek keagamaan di Bali. Menurut penulis buku “A Geek in Thailand”, Jody Houton, jumlah pemeluk agama Buddha di Thailand mencapai 95 persen. Sementara Bali, merupakan sebuah pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Orang Thailand beragama melalui kuil-kuil mini yang mereka tempat di setiap tempat aktivitas mereka. Di rumah, di toko, di mobil, di pasar, di mall, dll. Di kuil mini biasanya ada patung Buddha, ada bunga, ada tempat dupa, ada polesan warna emas atau tidak.  Di Bali kami menyebutnya Sanggah atau Plangkiran. Sanggah adalah kuil mini di setiap rumah. Sementara Plangkiran adalah kuil yang lebih mini lagi, bisa ditemui di sebuah kamar, satu booth di pasar, satu stand pameran, dll.

Di lihat sekilas, Chiang Mai bukanlah kota yang megah. Mirip dengan kota-kota kecil di Jawa. Dibandingkan dengan Bali, Bali terasa lebih mewah. Namun Chiang Mai mempunyai semua fasilitas yang dibutuhkan agar turis merasa betah. Harga makanan, transportasi, laundry, hostel yang relatif terjangkau.

Chiang Mai mengingatkan saya pada Bali sepuluh tahun yang lalu. Mudah sekali menemui touris berambut pirang atau merah dimana pun. Di Seven Eleven atau di Mall. Waktu kecil, saya ingat bagaimana Ibu saya harus berkomunikasi dengan kalkulator atau bahasa isyarat dengan para turis saat berjualan di toko miliknya. Sekarang ini, pemandangan serupa tak saya temui lagi. Turis yang datang ke Bali sudah tak sebanyak dulu atau mereka sudah disambut langsung paket-paket tur yang disediakan para pelaku wisata. Saya sendiri tak terlalu mengikuti perkembangan pariwisata Bali. Pendapat saya, pariwisata Bali lebih mahal dari Chiang Mai. Turis yang datang ke Bali, harus merogoh kocek dalam-dalam. Sementara pariwisata Chiang Mai lebih terjangkau. Sebagai turis, saya betah mengabiskan waktu dalam waktu lama di Chiang Mai. Thailand merupakan salah satu negara dengan kunjungan wisata terbesar di dunia. Barangkali itulah resepnya, pariwisata di Thailand cukup ramah di kantong orang kebanyakan.

Marigold, dari Meksiko, India, Bali sampai Thailand
Marigold 3Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, ada satu jenis bunga yang menarik perhatian saya, yaitu bunga Marigold. Di Bali bunga ini diberi nama bunga Gumitir. Hampir di setiap candi, saya menemui keberadaan bunga Marigold ini. Kemudian ingatan saya melayang film favorit saya, film animasi Coco, yang menceritakan tentang tradisi kematian di Meksiko. Bunga marigold menjadi bunga utama pada De Muertos, atau Hari Orang Mati di Meksiko. Melalui film Coco pula ditampilkan bahwa jembatan yang menghubungkan Tanah Orang Mati dengan Tanah Orang Hidup terbuat bunga Marigold. Di India, bunga Marigold dirangkai menjadi kalung bagi patung-patung Dewa.

Di Bali, bunga marigold digunakan hampir di semua sarana upacara. Bunga Marigold bisa ditemukan di Canangsari dan Banten yang digunakan di Bali.
Bunga Marigold berasal dari Meksiko dan Amerika Selatan dan masih satu keluarga dengan Daisy. Bunganya berwarna kuning dan oranye cerah. Marigold tumbuh berupa semak dengan ketinggan antara 15 cm sampai 90 cm. Terdapat tiga jenis Marigold, yaitu French Marigold, African Marigold, dan Triploid Marigold. (disarikan dari kompas.com). Bunga marigold konon cukup banyak manfaatnya di bidang kesehatan, seperti mengeluarkan racun dari tubuh, mengobati masalah pencernaan, melawan radikal bebas, mengobati demam dan sakit tenggorokan (merdeka.com). Bunga Marigold, dengan wangi khasnya itu telah mengingatkan saya pada rumah dan juga mengembarakan imajinasi saya ke berbagai tempat di dunia.