Kategori: Cerpen

Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai

Mimpi yang berulang. Bunga Marigold. Candi-candi keemasan berubah warna menjadi merah. Patung setengah manusia dan setengah burung yang bisa bergerak-gerak seolah hidup. Memilin-milin dan tumpang tindih dalam mimpiku sepekan ini. Alur ceritanya semakin lama semakin ganjil. Bahkan kadang tanpa alur cerita sama sekali. Bunga marigold. Candi-candi berwarna kemerahan. Patung manusia berkepala burung. Hanya itu yang … Lanjutkan membaca Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai

Iklan

Perempuan Berambut Api

Dosa terbesar saya hari ini adalah karena saya telah membiarkan rambut saya tergerai. Orang-orang memandang saya dengan kebencian yang tidak saya mengerti. Terutama perempuan tua berambut kusut itu. Ia mengira saya adalah perempuan Liak, yang gemar menari di kuburan desa untuk merapal mantra ilmu hitam. Ia menuduh saya kerap menari memutari Sanggah Cucuk, dengan menaikkan … Lanjutkan membaca Perempuan Berambut Api

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di tepi Persimpangan

Bagian I: Laki-laki yang Menyeberang Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa baru yang mempesona. Jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudera. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah … Lanjutkan membaca Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di tepi Persimpangan

Pohon Kelapa di Kebun Bibi

Tumpukan cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa langkah. Bahkan mungkin aku sudah merasakannya, jauh sebelum memasuki pintu rumah. Seperti apa baunya? Sulit untuk dijelaskan. Aku mencium sayur basi, ikan basi, ayam basi,  kecap basi. Bercampur-campur sampai sulit dikenali lagi. Pada saat itu terngiang-ngiang kalimat bibiku, Me Man Rindi. Perempuan tinggi besar … Lanjutkan membaca Pohon Kelapa di Kebun Bibi

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan Indonesia. Di penghujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia … Lanjutkan membaca Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua