Kategori: Cerpen

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

oleh Ni Komang Ariani Dewa Made Dinaya sudah menduga dimana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini. Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapa pun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orang tuanya memintanya untuk meneruskan … Lanjutkan membaca Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

Iklan
Matinya Sang Pengarang

Matinya Sang Pengarang

Oleh Ni Komang Ariani Pagi ini Maya terbangun dengan firasat yang buruk tentang pekerjaannya. Belum pernah sekalipun firasat ini datang sebelumnya. Lima tahun terakhir ini, Maya percaya hidupnya paripurna. Ketukan lembut pada keyboard laptopnya seperti lagu yang mengiringi hidupnya. Kalimat demi kalimat berhamburan. Menyusun ribuan kata, dan beratus-ratus halaman. Semua komentar orang tentang hidupnya tidak … Lanjutkan membaca Matinya Sang Pengarang

Mall

Mall

oleh Ni Komang Ariani Sepertinya memang nyaris mustahil untuk membayangkan untuk hidup dengan baik-baik saja di  Jakarta. Aku merasakan kegilaan yang hebat saat memasuki ruangan-ruangan mall  yang demikian mewahnya, yang sulit kubayangkan kubangun dengan uangku sendiri. Apa yang harus aku lakukan dalam pekerjaanku untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Apakah aku harus jungkir-balik atau nungging-nungging? Mungkin … Lanjutkan membaca Mall

Lidah Ketut Rapti

Lidah Ketut Rapti

Oleh Ni Komang Ariani Apa yang dapat terjadi dalam sepuluh tahun hidup seseorang? Bisa jadi bukan apa-apa. Setiap pulang kampung ke Karangasem, aku melihat orang-orang yang melakukan hal yang sama. Perempuan tua penjual pindang  itu masih setia menyunggi sayur-mayur, tahu, pindang, bawang merah, bawang putih, yang menjadi barang dagangannya. Mas penjual dawet itu masih menjual … Lanjutkan membaca Lidah Ketut Rapti

Lidah

Lidah

Oleh: Ni Komang Ariani Ni Ketut Rapti baru betul tiba di Jakarta dari perjalanan panjangnya dari Rendang, Karangasem, desa permai nun jauh di kaki Gunung Agung. Kini, di ruangan kecil, pengap, Ketut menyeka keringat yang deras menetes. Kulit legam dan alis tebalnya basah oleh keringat. “Boleh saya lihat lidah kamu?” “Tentu Pak!” Ketut menjawab dengan … Lanjutkan membaca Lidah