Kategori: Cerpen

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di tepi Persimpangan

Cerpen Lekaki yang Menyeberang

Bagian I: Laki-laki yang Menyeberang

Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa baru yang mempesona. Jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudera. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah perenang olimpiade. Diam-diam, ia merasa iri. Pada jiwa-jiwa besar yang telah dimasukinya. Ia sengaja membiarkan dirinya terserap, diombang-ambingkan pusaran, timbul tenggelam menuju dasar yang amat jauh dan dalam. Ia tak mau hanya menjadi sepotong wajah  menawan.

Ia tahu, sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bisa menjadi sosok yang sederhana. Ia tidak dapat lagi menjadi seseorang yang memikirkan hal-hal yang dangkal. Ia tidak dapat lagi menjadi seseorang yang tertawa keras dan lebar. Ia telah mendatangi tempat-tempat yang membuatnya mengenal air mata yang meleleh di lubuk hati. Air mata yang tidak pernah tumpah menjadi titik-titik air yang dapat dipegang. Air mata yang mengalir bersama garis senyum dan tawa. Ia telah bertemu dan mengenal orang-orang yang memiliki kebesaran jiwa. Jiwa yang lebih besar dari bumi yang dapat mengukurnya. Air mata itu meresap dan menetes dalam batinnya. Menetes-netes di sudut yang kosong dan perlahan memanjat ke dalam jiwa-jiwa barunya yang terus tumbuh besar.

Laki-laki itu mencintai perempuan itu. Perempuan yang membuat tarikan senyumnya selalu melebar, walaupun ia berusaha sembunyikan. Namun ia tahu, ia dan perempuan itu, tak lagi berbagi ruang batin. Tawa lebar perempuan itu berada di dunia yang berbeda dengannya. Mereka dapat menikmati tawa masing-masing, namun mereka tak lagi berada pada dimensi yang sama.

Ia percaya cinta dapat abadi di hati pemiliknya. Ia dapat memeluk dirinya sendiri, seperti ketika tiga puluh tahun yang lalu, ia memeluk dirinya sendiri meluncur dari rahim ibunya. Sendirian memeluk tangisnya yang melengking membelah kesunyian. Kesendirian bukanlah penderitaan, namun kesadaran akan jiwa yang telah genap sejak ia dilahirkan.

Ia akan merindukan, namun merindukan bukanlah kesengsaraan. Merindukan hanyalah mengabadikan kenangan. Ia melukis perempuan itu di kanvas hatinya, dan memajangnya pada setiap dinding, sehingga hatinya penuh oleh lukisan perempuan itu.

Selanjutnya, laki-laki itu tahu apa yang akan selalu dilakukannya. Ia akan bercengkrama dengan air mata yang mengajarinya banyak pengetahuan. Air mata yang mengajarinya jiwa-jiwa besar. Ia tahu ia terlahir bukan hanya menjadi sepotong wajah yang menawan. Ia ditakdirkan untuk melampui wajah dan menyeberang ke dimensi lain. Perjalanan itu telah membuatnya mengenal begitu banyak hal. Bahkan hal-hal yang tidak pernah dipikirkannya.

 

Orang-orang yang Berdansa

Di perjalanan, selalu ia temukan orang-orang yang berdansa. Orang yang selalu memandang dengan wajah nyaman, seperti semua masalah di dunia sudah menjadi masa lalu. Mereka adalah orang-orang memikul beban yang teramat ringan di pundak. Mereka dapat merasa sama pada kesedihan dan kegembiraan. Laki-laki itu menyerap air mata yang telah tersuling menjadi air murni.

 

Orang-orang yang Menghentikan Waktu

Laki-laki itu menemui orang-orang yang berhenti di suatu titik waktu. Tepat ketika mereka tiba di titik setimbang, mereka tidak mau lagi melangkah maju. Apa yang terjadi kemudian adalah pengulangan demi pengulangan. Air mata mengalir dari pipi-pipi yang terlipat garis waktu. Waktu tidak berhenti dalam sejenak pun.

 

Kerumunan yang Berdengung

Yang paling membuatnya lelah adalah jika ia dipaksa berada di tengah kerumunan yang terdengung. Jumlah mereka begitu banyak, namun suara mereka amat seragam. Suara-suara yang terdengar adalah suara-suara yang membuat laki-laki itu mual. Suara tawa yang ribut. Cekikikan. Suara pertengkaran yang memekakkan. Keramaian celoteh di sosial media yang memuakkan. Mereka kerumunan yang menyerbu kemana saja, tanpa tahu apa yang menunggu mereka di tujuan. Kerumunan yang berlari sekencang-kencangnya, namun tak tahu apa yang dikejar. Kerumunan yang mengistirahatkan isi batok kepala mereka di kulkas dan tak pernah menyentuhnya. Dibiarkan mengeras menjadi daging beku.

 

Orang-orang yang Ditakdirkan Berselisih Jalan

Laki-laki itu memikirkan beberapa orang yang selalu gagal ditemuinya. Ia tidak berupaya mencari atau menanyakannya. Ia hanya berharap dapat bertemu pada persilangan yang tidak terduga. Dan itu tidak pernah terjadi. Karena itulah ia percaya, beberapa orang yang saling memikirkan, telah ditakdirkan untuk  tak pernah saling bertemu. Mereka dapat berada di suatu bandara yang sama beberapa saat, pulau yang sama beberapa lama, mall yang sama beberapa waktu, namun tak ada satupun persilangan yang mempertemukan mereka; menautkan mata mereka berhadapan di satu titik. Barangkali agar mereka dapat terus saling memikirkan. Ada masa lalu yang akan sepenuhnya terkubur. Ada masa lalu yang barangkali kelak akan memberikan jawaban.

 

Bagian II: Perempuan di tepi Persimpangan

Perempuan itu, adalah perempuan yang bimbang di tepi persimpangan. Persimpangan empat penjuru itu seperti mengarah ke empat jalur yang serba misterius. Serba mencekam. Perempuan itu tak bisa melihat ujung dari setiap persimpangan yang ada di hadapannya.

Sekali lagi soal pilihan ganda yang ganjil. Setiap kali hidup menyodorkan pilihan ke depan hidungnya, perempuan itu berusaha memilih dengan cermat dan siaga, namun pilihan-pilihan yang tersedia tidak pernah cukup baik. Seperti halnya soal-soal pilihan ganda, kau tetap harus menyilang salah satu jawaban, betapapun anehnya jawaban-jawaban yang tersedia.

Dia percaya begitulah hidup yang sesungguhnya. Hidup adalah meloncat dari satu soal pilihan ganda ke soal pilihan ganda yang lainnya. Hidup adalah memilih jawaban-jawaban ganjil dari seorang pembuat soal yang ogah-ogahan. Hidup bukanlah dongeng cinderella dengan pilihan seorang pangeran tampan yang tinggal di istana yang megah.

Hidup adalah kegiatan memilih benda-benda. Di rumah seperti apa yang kau bayangkan hidupmu. Berpakaian seperti apa, laki-laki yang menjadi pasanganmu. Di restoran mana kalian menghabiskan waktu untuk merayakan anniversary. Apa dessert yang disajikan di restoran itu? Kemana kalian akan pergi berlibur?

Kadang ia mengingat laki-laki itu, namun perempuan itu tahu apa yang paling diinginkannya dalam hidup. Ia tahu betul  jenis gaun yang harus tergantung di lemari bajunya. Ia tahu betul jenis sepatu yang berjejer di rak sepatunya. Dan ia telah lelah. Lelah mendengar suara kerumunan yang terus berdengung di depan telinganya. Ribuan tawon yang tak lama lagi mungkin akan memasuki labirin dan memukul-mukul gendang telinganya. Dan perempuan itu menyerah. Menyerah pada jawaban ganjil yang disilangnya. Mengucap kata-kata penghiburan memilih adalah pekerjaan paling absurd di dunia? Setiap pilihan akan menjebakmu di tikungan yang tak terduga.

          Rindunya telah menjadi fosil, yang ia simpan di dalam lemari terkunci di museum-museum yang lengang. Seperti kata laki-laki itu, ia akan bisa memeluk tubuhnya sendiri, sama seperti ia pertama kali meluncur dari rahim ibunya. Ia bisa memeluk tubuhnya sendiri bersama suara tangis yang melengking, membelah kesunyian.

 

Dua Sisi Mata Uang

Laki-laki itu berdiri di satu sisi, dan perempuan itu berada di sisi yang lain. Mereka hidup bersisian, namun tak pernah bersilang tatap. Laki-laki menyentuh dinding-dinding mata uang yang dingin. Perempuan itu menyusur gurat-gurat gambar dan huruf timbul yang ada di sana.

Kadang-kadang cinta diabadikan dengan cara yang amat ganjil. Dibiarkan terus tumbuh menyusun perasaan-perasaan baru seperti tumbuhnya kuncup-kuncup daun. Dibiarkan terpisah dan tak dapat saling menyentuh, seperti sebuah cetakan untuk terus mengabadikan rindu.

Air mata-air mata di perjalanan telah mengajari laki-laki itu tentang dua sisi mata uang. Bahwa kesedihan maupun kegembiraan tidak pernah abadi.  Setiap kali kesedihan datang, akan tiba waktunya kegembiraan tiba. Setiap kegembiraan tiba, ia menyimpan sebuah kesedihan yang akan hadir. Dua hal yang berlawanan selalu berada berdampingan. Tak ada hal baik yang tak berdampingan dengan hal buruk. Tak ada yang datang, yang tak pernah pergi.

 

Karya Ni Komang Ariani. Cerpen ini dilhami oleh Kumpulan Puisi karya M Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini . Dimuat di Kompas 19 Februari 2017.

 

Pohon Kelapa di Kebun Bibi

cerpen-pohon-kelapa-di-kebun-bibiTumpukan cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa langkah. Bahkan mungkin aku sudah merasakannya, jauh sebelum memasuki pintu rumah. Seperti apa baunya? Sulit untuk dijelaskan. Aku mencium sayur basi, ikan basi, ayam basi,  kecap basi. Bercampur-campur sampai sulit dikenali lagi.

Pada saat itu terngiang-ngiang kalimat bibiku, Me Man Rindi. Perempuan tinggi besar yang menghabiskan hidupnya bergaul dengan buah kelapa.

“Aku benci bau cucian piring. Aku tidak mau menghabiskan hidupku mencuci tumpukan piring.”

Apakah bibiku akan menertawai hidupku sekarang, bila ia tahu, hidupku tiada lain adalah menunggu dari satu cucian piring ke cucian piring lainnya. Apakah ia akan mengejekku, bila ia tahu betapa aku merasa pengar dengan baunya, yang seperti menempel di bajuku, kemana pun aku pergi. Hey, kapan terakhir aku pergi dari rumah ini?

Dia, selalu mengatakan dunia luar sana, adalah dunia yang liar, tempat bagi semua niat jahat berdesingan seperti peluru, menyambar siapapun yang tidak mempunyai pelindung. Laki-laki itu selalu melihatku dengan rasa iba, tubuhku hanya tulang, terbungkus daging yang tipis. Tenagaku yang tidak seberapa takkan kuasa menahan angin kencang di luar sana. Begitu penuturannya, setiap kali aku mengutarakan keinginanku untuk menghirup udara segar di luar sana. Di rumah adalah tempat yang paling aman bagimu, untuk berlindung dari para pemangsa.

Rumah ini seindah rumah-rumah yang kulihat di TV, namun entah mengapa, begitu pintu rumah terbuka, segala macam barang tampak bertebaran di segala penjuru. Seolah mereka mempunyai kaki dan bisa pergi ke tempat-tempat yang mereka sukai. Keset yang miring, lantai yang lengket, tali horden yang terlepas sebelah, bantal sofa yang tak rata semua sudutnya. Benda-benda ini selalu menyambutku dengan cara yang sama. Semakin aku rapikan, semakin banyak yang memanggil-manggil untuk dibenahi.

Terngiang kembali kata-kata Me Man Rindi. “Aku tidak mau menjadi keset dimana semua daki diusapkan”

Kalimat itu makin sering terngiang setiap kali aku mengusapkan kaki di keset depan rumah. Kata-katanya yang lain pun kembali terngiang. Seolah hidupku dihantam kutukan karena tidak mendengarkan perempuan itu.

Kamu harus keras dan teguh seperti pohon kelapa itu. Terus menjulang ke langit, tanpa memerdulikan teriakan ribut di sekelilingnya.” Katanya berulangkali, seolah berupaya menyimpankan mantra itu di kepalaku.

Tapi Me Man, tubuhku kecil, aku tidak bisa menjadi seperti Me Man.”

Tubuhmu boleh kecil, tapi pikiranmu yang harus besar. Jauh lebih besar daripada tubuhmu.”

“Tapi Me Man aku ingin berkeliling melihat tempat tempat-tempat terindah bersama laki-laki yang menggenggam tanganku.”

Me Man hanya mencibir mendengar kata-kataku yang puitis.

“Carilah… carilah sampai kau menemukannya. Jika tak kau temukan juga, jangan sungkan untuk pulang ke kebun kelapa ini.”

Aku seperti anak baginya yang tidak pernah menikah. Tak seorang pun dari kami yang mampu mengikuti jalan hidupnya. Me Man Rindi selalu berjalan dengan langkah-langkah berat yang seolah meretakkan tanah.  Ia seperti ingin menyaingi kegagahan pohon-pohon kelapa yang menjulang di kebunnya. Kulitnya makin menghitam terpanggang matahari. Badannya makin membesar dan berotot. Perawakannya mirip Barong Landung.

Teriakannnya garang ketika ia sedang memerintahkan para laki-laki yang menjadi buruh panjatnya. Sepuluh laki-laki besar itu, tak satupun ada yang berani menyela, ketika Me Man sedang berbicara. Mereka hanya mengangguk-angguk patuh mengikuti perintah Me Man. Semua pekerjaan selesai dengan cepat dan rapi. Me Man memandangnya dengan senyum puas. Perempuan itu kini berhasil mengemas minyak kelapa merknya sendiri, dan menjualnya ke banyak supermarket besar di Bali. Nama Me Man harum seperti aroma minyak kelapa yang dibuatnya.

Perempuan itu berharap, aku akan mengikuti jejaknya. Tumbuh dengan liat, tumbuh makin tinggi ke angkasa dan membuat jerih bulan dan matahari. Jika ada perempuan yang mampu melakukannya, pasti bibikulah orangnya. Perempuan itu bisa menakuti siapa saja, karena ia tidak memiliki rasa takut.

Namun perempuan itu tak mengetahui kegemaranku yang lain, saat aku tak mengunjungi kebun kelapanya. Aku sering duduk berlama-lama di atas dipan bambu di warung nasi jenggo Meme. Mobil-mobil mengkilat keluaran terbaru dengan aneka rupa bersliweran sejak pagi hingga petang di depan hidungku. Desa kami adalah jalan pintas menuju Ubud, tempat persinggahan turis-turis dari Denpasar. Aku mencatat jenis-jenis mobil itu di buku lusuh milikku. Meme tidak pernah memperhatikan, ia hanya berhenti sejenak untuk menyuruhku apa saja. Menyapu, mebanten atau menanak nasi.

Setelah terlampau lelah mencatat mobil-mobil yang bersliweran, aku sering jatuh tertidur dengan kepala menyandar ke tiang warung. Seorang pangeran tampan berjalan mendekatiku. Ia turun dari sebuah mobil putih besar yang berkilauan tertempa cahaya matahari. Laki-laki itu melambaikan tangan, mengembangkan senyum lebar, kemudian menggamit tanganku yang masih terpana. Perlahan ia menuntunku menuju mobil itu, dan membuka pintu untukku. Pupil mataku membesar dan dadaku mengembang seperti balon. Meme sering menertawaiku, bila kuceritakan tentang mimpiku yang berulang-ulang. Ia baru berhenti menertawakan, ketika seorang laki-laki yang kasat mata menyapaku di dipan bambu itu. Memerhatikan tingkahku pada saat mebanten dan mengajakku bicara tentang apa saja.

Dia, laki-laki yang memandangku dengan rasa terpesona itu, telah membuatku membuat keputusan kilat. Menerima lamarannya, walau kami baru saling mengenal selama enam bulan. Laki-laki itu datang dengan mobil berwarna cokelat hangat yang teramat aku sukai. Ia membukakakn pintu ketika pertama kali mengajakku berkencan. Sampai hari ini, aku tidak pernah bisa mengerti, bagaimana laki-laki semacam itu dapat menyukai perempuan semacam aku. Aku menyukaimu dengan kebaya kuning dan kain hijau yang kenakan. Aku menyukaimu yang bermandikan aroma dupa, katanya.

Me Man Rindi memandangku kecewa waktu itu.

“Aku berharap, kau menjadi satu-satunya perempuan yang tidak menyerah pada ketakutanmu. Namun sebaliknya kaulah yang menyerah paling cepat. Siapa laki-laki itu, De? Kau bahkan tidak mengenalnya. Apa yang membuatmu memilihnya?”

“Aku hanya bosan dengan kampung ini Me Man. Kampung ini terlalu sunyi dan usang. Aku hanya ingin berada di sebuah tempat yang sama seperti yang kulihat di TV. Elegan dan berkelas, Me Man ”

Me Man memandangku dengan mata terluka. Ia bahkan menolak menghadiri upacara pernikahanku. Para kerabat dan saudara membisikiku untuk tidak terlalu menghiraukannya.  Mereka berguncing kalau Me Man Rindi kurang waras pikirannya. Rindi perempuan yang kesepian. Karena itu dia menjadi galak seperti anjing gila. Aku ingin membantah perkataan itu. Aku ingin mengatakan Me Man Rindi perempuan yang baik hati dan  penyayang. Perempuan yang berani melukis sendiri garis di telapak tangannya.

Dia, laki-laki itu memang telah membuatku tinggal di sebuah rumah yang elegan dan berkelas. Rumah yang teramat luas, sehingga membuatku pegal menyusuri tiap bagiannya dengan kain pel. Rumah yang sunyi dari pagi sampai tengah malam. Rumah yang berdinding-dinding tinggi dan tak seorang pun tetangga suka berkunjung.

Bila aku terbangun di pagi hari, ia telah lenyap dari sisi pembaringan. Kami tak banyak bicara, selain beberapa kalimat basa-basi. Betul kata Me Man Rindi, aku telah menyerahkan hidupku kepada seseorang yang amat asing.

Hidungku kembali diserbu bau cucian piring yang seolah membentakku untuk segera menyelesaikannya. Hanya sesaat aku sempat menarik nafas lega,  ketika cucian piring telah digantikan aroma lemon, benda-benda lain di rumah ini mulai berteriak dengan ribut. Horden yang masih belum dibuka, bantal sofa yang miring, keset yang terlipat, debu yang menempel di layar TV, kabel sambung yang tergeletak melintang. Semua benda-benda itu memanggilku dengan tidak sabar untuk segera membantu mereka.

Dadaku sesak. Ekor mataku menangkap gerakan yang amat halus dari plafon rumah. Ia bergerak semakin mendekat. Perutku mual. Dinding-dinding rumah pun makin merapat. Aku tersengal-sengal. Aku berharap seseorang, entah siapa menarikku dari rumah yang menghimpit dadaku dengan perasaan-perasaan yang mengacaukan. Atau mungkin seekor burung rajawali menerbangkanku melambung ke angkasa. Dia, dia tak mungkin memercayaiku. Dia lebih sering menertawakankan cerita-ceritaku. Laki-laki selalu menganggap aku adalah seorang perempuan dengan pikiran-pikiran konyol. Siapakah aku baginya? Pertanyaan ini makin sering menikam, dan aku tidak bisa menjawabnya. Sungguh, aku teramat kangen pada Me Man Rindi, dan kebun kelapanya. Kangen pada otot-otot besar di lengannya. Juga suaranya yang besar seperti suara raksasa. Oh Me Man…. apakah… apakah… aku sudah membiarkan diriku menjadi keset, tempat semua daki diusapkan?

 

Arti Kata-kata

Me Man = Bibi

Barong Landung= Figur yang dipuja di Bali, berwujud boneka tinggi besar

Nasi jenggo= Nasi bungkus khas Bali yang berukuran kecil.

Meme = Ibu

Mebanten = menghaturkan sesajen.

 oleh Ni Komang Ariani

dimuat di Media Indonesia, 14 Januari 2017.

 

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

ilustrasi-cerpen-aniesTohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan Indonesia. Di penghujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila bila  diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya.

“Mbah,” kata sang cucu. “Beli ini saja.”

“Apa itu?”

Smartphone model terbaru.”

“Ahhh enggak mau. Handphone  yang Mbah beli sepuluh tahun lalu masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru.”

Tetapi tiba-tiba, ponsel Tohari berbunyi, langsung yang berbicara Pak Menteri. “Maaf Pak Tohari, hadiahnya dicabut. Tolong, ini hanya mimpi saya. Lebih baik besok malam Pak Tohari mimpi saja sendiri. Hadiahnya mungkin Rp 1 miliar.”

“Tapi Pak, kalau Rp 1 miliar, saya enggak mau mimpi sendiri. Lebih baik saya mengajak teman-teman saya bermimpi bersama. Banyak tuh yang pengen bisa mimpi dapat Rp 1 miliar. Di antaranya teman-teman penulis cerpen tua seperti saya ini. Putu Wijaya, Budi Darma, atau Seno Gumira Ajidarma. Eh tapi Seno sering kali terlalu banyak improvisasi kalau diajak bermimpi. Lebih baik lagi saya mengajak teman-teman penulis muda untuk bermimpi bersama. Mereka kreatif-kreatif lho Pak kalau diajak mimpi. Kayak itu tuh, Ni Komang Ariani, Iqbal, Guntur, mereka pinter-pinter lho kalau ngimpi.”

“Silakan saja Pak Tohari. Mau mimpi sendiri atau ngajak teman-teman. Yang penting Bapak sudah cukup jelas kan bahwa hadiahnya sudah dicabut? Coba susun dulu proposal mimpi Rp 1 miliar Pak Tohari, nanti ajukan saja ke saya. Nanti saya kasih kontak nomornya Dirjen saya, si Hilmar itu. Biar nanti dia baca dulu proposal Rp 1 miliar Pak Tohari,” ujar Pak Menteri.

Tohari terdiam sejenak. Ia mencoba menafsir makna di balik perkataan Pak Menteri yang sebenarnya sudah sangat terang benderang itu.

“Maaf Pak Anies, apakah saya boleh bertanya?”

“Silakan, Pak Tohari.”

“Apakah Bapak bisa mengendalikan mimpi?”

“Mengapa tidak?”

“Bapak pernah mengendalikan mimpi?”

“Berkali-kali.”

“Wah, sungguh elok. Jadi bisa ya, saya meminta diri saya mimpi mendapat Rp 100 juta lalu saya minta sembilan pengarang lain mimpi mendapat Rp 100 juta? Bisa jugakah dalam mimpi itu saya meminta sembilan pengarang lain memberikan uang mereka untuk saya? Lalu, jika sudah terkumpul, bisakah saya meminta diri saya sendiri memberikan uang itu untuk guru-guru miskin di seluruh Tanah Air?”

“Bisa. Mengapa tidak?”

“Kok Bapak begitu yakin?”

“Saya telah melakukan berkali-kali, Pak Tohari.”

Tohari takjub.

“Boleh bertanya lagi Pak Menteri?”

“Silakan, Pak Tohari.”

“Bagaimana cara mengendalikan mimpi itu?”

“Pak Tohari harus tidur tepat pukul 00.13.”

Tohari tak bertanya mengapa harus pukul 00.13. Ia justru menanyakan posisi tidur.

“Kepala harus mengarah ke selatan atau timur?”

“Ke utara, Pak Tohari. Sebelum tidur, bersama sembilan pengarang, Pak Tohari harus membayangkan mendapat uang masing-masing Rp 100 juta bukan dari saya, melainkan dari Pak Jokowi. Pak Jokowi pasti tergerak memberikan uang itu. Hanya,  Pak Tohari dan sembilan pengarang, tidak boleh ragu-ragu dalam bermimpi. Paham, Pak Tohari?”

“Paham, Pak Menteri.”

Tohari memang paham pada setiap perkataan Pak Menteri. Akan tetapi, begitu suara Pak Menteri dari seberang menghilang, ia sedikit meragukan metode pengendalian mimpi yang tak masuk akal.

“Mimpi selalu tidak masuk akal,” Tohari membatin, “Karena itu, haruskah aku mempercayai metode mimpi Pak Menteri?”

Sunyi. Tohari merasa tak bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Karena itulah, ia perlu menelepon beberapa pengarang.

Mula-mula ia menelepon Triyanto Triwikromo.

“Apakah Anda pernah mengendalikan mimpi?”

“Belum  pernah, Pak Tohari, tetapi saya pernah mengendalikan cerita. Cerita apa pun bisa saya kendalikan sesuai keinginan suksma.”

Ia juga bertanya pada Seno. Seno menggeleng. “Saya hanya mahir mengendalikan senja, Pak Tohari. Sesekali saya mengendalikan Tuhan untuk memenuhi doa-doa saya.”

Ia juga bertanya pada Joko Pinurbo. Joko Pinurbo tertawa, “Saya hanya bisa mengendalikan sarung dan celana saya. Celana dan sarung saya jika tidak dikendalikan suka berkibar ke mana-mana, Pak Tohari.”

Tak putus asa, Tohari bertanya kepada pengarang lain mengenai teknik mengendalikan mimpi. Kali ini kepada Budi Darma. Budi Darma juga tertawa, “Satu-satunya sosok yang pernah saya kendalikan bernama Olenka. Justru Olenkalah yang bisa mengendalikan mimpi. Coba nanti saya tanyakan kepada dia.”

“Jangan-jangan saya juga bisa betanya kepada Srintil atau Rasus, ya Pak Budi?”

“Mungkin saja, Mas Tohari. Mungkin saja. Sampean tahu di mana harus menghubungi Rasus atau Srintil bukan?”

Tohari mengangguk namun tidak segera melakukan saran Budi Darma. Tohari kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menatap gerimis.

“Masih gerimis air. Bukan gerimis yang telah jadi logam,” Tohari bergumam sambil mengingat Goenawan Mohamad, penyair yang menulis “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”.

“Masih gerimis yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,” Tohari mendesis sambi mengingat Sapardi Djoko Damono, penyair “Hujan Bulan Juni”.

Tohari terus menikmati gerimis itu. Ia tidak ingin menghubungi Srintil. Ia tidak ingin menghubungi Rasus. Ia justru menelepon Putu Wijaya.

“Bli Putu, apakah Anda bisa mengendalikan mimpi?”

“Bisa. Apa pun bisa saya kendalikan.”

“Bisa bermimpi bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan lalu mengajak beliau menemui Pak Jokowi?”

“Bisa.”

“Bisa meminta Pak Jokowi memberi uang kepada 10 pengarang masing-masing Rp 100 juta?”

“Bisa.”

“Bisa meminta para pengarang memberikan uang itu kepada guru-guru miskin?”

“Bisa.”

“Caranya?”

Tak ada jawaban dari seberang.

“Caranya?”

Masih tak ada jawaban.

“Bli Putu? Ada apa? Bli Putu masih mendengarkan suara saya?”

Tetap tak ada jawaban.

“Halo, Bli? Masih mendengar suara saya?”

“Ya, masih Pak Tohari. Caranya kita harus puasa 40 hari dulu di gua yang paling gelap. Setelah itu puasa 40 hari lagi di gedung paling tinggi. Terakhir kita harus puasa 40 hari lagi di tepi sungai paling kotor.”

“Kok terlalu sulit. Ada cara yang gampang?”

“Ya, memang sulit, Pak Tohari, tetapi saya jamin kita akan bisa mengendalikan mimpi kalau sudah bisa melampaui semua itu.”

“Bli Putu mendapatkan metode itu dari mana?”

“Ya, dari mimpi. Pak Tohari. Sekarang tidur dan bermimpilah agar Pak Tohari mendapatkan metode mengendalikan mimpi! Saya doakan Pak Tohari berhasil. Pak Tohari orang baik. Alam pasti menolong Anda.”

Tohari terdiam. Tohari pun bersiap-siap tidur. Di sana ia bertemu dengan semua orang yang dipikirkannya. Pak Menteri yang senyumnya semanis gula. Pak Jokowi yang matanya memantulkan sungai yang berwarna kecoklatan. Dan semua pengarang-pengarang yang ditemuinya itu. Mereka seperti menghadiri sebuah pesta dengan sajian makanan yang serba lezat. Mulai dari kambing guling, sate maranggi, ayam panggang, sampai dengan kue tart kecil rasa cokelat dan karamel.

Tohari tidak ingat kapan pesta itu berakhir, yang jelas ia terbangun dengan badan pegal luar biasa. Seperti sehabis mencangkul sawah sehari penuh. Pintu kamar terbuka sebagian, sementara Tohari hanya tergeletak tanpa daya. Tak kuasa menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.

Di luar sana, halaman rumahnya terlihat jorok dengan tumpukan daun berserakan, yang tak sempat dibersihkan. Namun kali ini daun-daun berserakan itu terlihat berbeda. Warnanya merah terang dan ada dua foto dua orang yang sangat dikenalnya. Dua laki-laki tampan mengenakan kopiah, yang ia kenal betul, namun ujung lidahnya gagal menyebutkan nama kedua orang itu.

Istrinya sudah berulang kali ngomel.

“Tuh lihat rumah tanpa aku. Dari dulu kamu terlalu sibuk berpesta. Sibuk tertawa-tawa seperti pejabat-pejabat itu. Sibuk mencecap kue tart rasa karamel. Lupa pada bibirmu yang hitam dan keriput itu.”

Tohari mengerang keras setelah kembali gagal bangkit dari  tempat tidur. Daun-daun gugur makin menumpuk, seperti membentuk gundukan di hadapannya.

Tohari memejamkan mata mengingat-ingat ucapan Pak Menteri. Sedikit-sedikit mulai dipercayainya ucapan laki-laki itu. Karena ia pernah mengetahui seseorang melakukan hal yang sama persis. Teman dari temannya. Namanya Leonardo. Laki-laki itu berwajah kaukasia. Hidungnya mancung dan kulitnya putih seperti daging durian yang sudah dikupas.

Leonardo menjalankan sebuah misi rahasia dengan bermimpi kolektif bersama teman-temannya. Apa misi rahasianya? Jelas Tohari tidak tahu. Namanya juga rahasia. Ia tersenyum-senyum sendiri. Tohari mengernyit kesakitan, merasakan tarikan tajam di kedua pipinya yang mengeras.

Bukan saja badannya yang makin mengeras, ternyata urat-urat wajahnya seperti sudah disemen. Tohari memejamkan mata untuk memusatkan pikiran. Agar ia bisa memahami apa yang sungguh terjadi,  ketika sekonyong-konyong, seorang laki-laki, yang ia ketahui bernama Eden berbisik di telinganya. “Aku bisa menolongmu. Aku bisa mengajarimu melakukan apa yang dilakukan oleh Leonardo dan kawan-kawannya.” Suaranya serak dan dalam seperti suara Hannibal Lecter

Tohari tercengang. “Aku bisa mengajak sembilan orang lainnya untuk bermimpi secara bersamaan?” Eden mengangguk yakin. “Namun kesempatanmu hanya sekali. Dalam kesempatanmu yang sekali itu, ada dua peluang. Peluang berhasil lima puluh persen, peluang gagal lima puluh persen. Jika berhasil, mimpi 1 milliarmu akan terkabul, jika gagal, kesepuluh dari kalian akan terjebak di dalam dunia karangan kalian masing-masing.” Katanya dengan suara yang makin serak seperti tercekik.

“Hah…! Apa maksudnya?”

“Ingat-ingatlah cerpen yang pernah kamu tulis. Seingatku terakhir kau menulis tentang seorang anak yang ingin mengencingi Jakarta. Nah, jika gagal, kau akan hidup di dunia anak  anak yang kau kisahkan itu.”

Tohari merinding. Deru kereta api yang menggetarkan dan suara klaksonnya yang menjerit-jerit, menyerbu ke gendang telinganya. Bau makanan sisa bercampur bau bacin menggulung seperti tornado di depan cuping hidungnya. Kawanan lalat meriung riang  merayakan kecepatan tubuhnya yang menumpang bokong kereta yang beroma tak sedap.  Debu dan sampah-sampah kecil beterbangan membuat kelilipan.

Anginnya berpusing ke segala penjuru dan menerbangkan gundukan daun berwarna merah terang di halaman. Dua laki-laki berkopiah dan berwajah tampan tersenyum dengan manisnya. Sekilas senyumnya mirip senyum Pak Menteri. Di titik batas alam sadarnya, Tohari melenguh kecil. Aku mau tersenyum dan tertawa. Langit menggelap dan titik embun membasahi kening Tohari yang keriput. Laki-laki itu terkekeh-kekeh geli.

Catatan:

Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani, dimulai saat Malam Jamuan Cerpen Kompas, Selasa (31/5). Setelah menulis secara langsung di depan undangan, penulisan dilanjutkan secara bergantian dari meja kerja masing-masing. Keenam penulis ini dianggap mewakili 23 penulis cerpen yang diundang malam itu. Judul “Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua” ditulis secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang juga hadir. Cerpen ini dipersembahkan khusus untuk merayakan 51 tahun harian Kompas,yang jatuh pada 28 Juni 2016

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga

Oleh Ni Komang Ariani

ilustrasi-cerpen-telapak-kaki-yang-menyimpan-surgaSatu harian ini aku mengelus-elus telapak kakiku. Sesekali mencoba menghadapkannya ke arah mukaku. Untuk melihat surga yang konon tersimpan di sana.

Setiap malam menjadi dingin dan kering, ia kisahkan cerita itu. Tentang surga yang tersembunyi dibalik serat-serat hitam di telapak kakiku. “Dibalik keburukan, selalu tersimpan kebaikan. Kebaikan tak akan hilang walaupun tersimpan di tempat yang buruk. Jangan mengeluhkan telapak kakimu yang buruk, kaki yang buruk menunjukkan kau sudah memanfaatkannya sebaik-baiknya. Untuk berbakti. Untuk menjadi perempuan yang agung.”

Mahluk yang agung. Itulah yang ia katakan tentangku. Sambil mengusap keningku yang mungkin bercahaya, ia perdengarkan lagi suaranya yang merdu di telingaku. “Segala lakumu akan membanggakan aku, atau mempermalukanku. Kalau kau meninggikan dirimu, akupun menjadi tinggi. Aku mendengarkan dengan takzim. Menekuri kuku-kuku kakiku yang telah panjang dan tidak terawat.

Aku selalu alpa memotongnya, oleh sebab badan yang penat di dalam hari, dan waktu yang berlari di siang hari. “Tuh lihat kukumu, kotor dan tidak terawat seperti itu. Hal sekecil itupun dapat mempermalukanku.Aku tersipu  menanggapinya. “Saya janji tidak akan membuat malu lagi. Kataku bersungguh-sungguh.

Dia tersenyum ragu. “Bagaimana dengan baju-baju yang aku sarankan sebulan yang lalu. Kamu belum menggantinya seperti yang aku minta. Aku tersengat gundah. “Maafkan saya. Belum ada uang untuk membeli model yang seperti itu. Harga-harga sembako naik.

          Dia melengos gelisah. “Kamu jangan mulai memberi alasan, dengan menimpakan kesalahan kepadaku. Seolah-seolah aku gagal mencukupi hidupmu. Darah deras mengaliri mukanya. Urat-urat di wajahnya menegang. Seperti ada yang menariknya dari keempat penjuru. Hatiku mencelos. Dosa apa lagi yang bakal kubuat sepagi ini. Subuh bahkan belum pergi. Halaman rumah belum disapu, nasi belum ditanak. Pakaian-pakaian kotor masih menumpuk. Baru air panas yang terjerang, untuk menyeduh kopinya setengah jam yang lalu. “Tentu tidak, Mas. Uang bulanan darimu sangat cukup dan melebihi. Sayalah yang tak pandai mengaturnya. Saya perempuan yang teramat bodoh. Maafkan saya.

 Urat-urat yang sempat menegang di wajahnya mengendur. Ia kembali menyeruput kopinya. Terdengar suara kopi terhirup masuk ke liang kerongkongannya.  Wajah itu mulai terlihat tenang. Seperti tenaga dengan air tanpa riak. Ia mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya dengan nikmat. Aku menghembuskan nafas lega. Terangkatlah kecemasanku akan sebuah dosa yang akan kulakukan hari ini.

Aku membayangkan perempuan-perempuan itu. Yang matanya bening seperti air sumur dan telah mengunci rapat satupun keluhan yang dapat terlontar. Perempuan yang dinantikan oleh para bidadari di surga. Atau bidadara, laki-laki berwajah tampan berkilauan. Kelak aku akan menjadi salah satu perempuan itu.

“Ya sudah. Minggu depan saya akan ambil uang tabungan. Untuk membelikanmu baju-baju baru. Agar kau menjadi perempuan yang indah dan bisa memasuki pintu surga.”

“Terima kasih, Mas. Tanpamu apakah saya ini.”

Laki-laki itu mengulum senyum. Matanya bercahaya bangga. Perlahan ia mengusap-usap kepalaku. “Telah kuberikan kau kesempatan menjalani pekerjaan paling mulia di dunia, kau harus bersyukur”. Aku memejamkan mata. Meresapi aliran sejuk yang mengaliri hatiku. Mulai hari ini, aku berjanji untuk tidak mengecewakannya lagi. Ya Tuhan, lindungilah niat baikku.

**

Mandi adalah waktu yang teramat dingin dan menggigilkan. Jam empat pagi, aku bisa melihat kulit tubuhku yang mengkerut menahan dingin. Dan entah kenapa, aku tak hendak menyudahi dinginnya. Kulihat lagi telapak kakiku yang mengkerut dengan garis-garis hitam yang terus bertambah. Mungkin garis-garis hitam yang mirip akar-akar merambat itu adalah celah-celah permulaan dimana surga bisa kulihat. Kelak, bila seorang anak terlahir dari rahimku. Kelak, bila aku tidak melakukan kesalahan konyol lagi.

Anak itu yang akan bersimpuh di hadapanku dan mengintip tempias cahaya surga yang menerobos melalui serat-serat hitam yang makin melebar. Aku merindukan bayi mungil itu yang akan memandangku dengan mata penuh pengharapan. Seperti dia juga amat merindukannya.

Kita memang harus menunggu. Menunggu lahirnya cahaya dari surga yang memuliakan hidupmu. Hidup kita. Melanjutkan darah dan daging kita pada generasi selanjutnya.Namun menunggu bukanlah satu-satunya hal yang dapat dilakukan. Kita harus berikhtiar. Kita harus berusaha.”

“Maksud Mas?”

“Kita dapat berusaha, selain hanya menunggu.”

“Maksud Mas, kita harus berobat? Ke dokter?”

“Salah satunya itu.”

“Yang lain apa Mas?”

“Masih banyak usaha lainnya. Tentu saja yang tidak dilarang agama.”

Ada semburat di wajahnya, yang tak sepenuhnya bisa aku tangkap.

Ya sudah. Hari sudah siang. Saya harus berangkat. Jaga rumah baik-baik ya. Jaga juga kehormatan keluarga.” Pesannya waktu itu. Agak terburu. Sedan tuanya menggerung. Aku lupa kapan tepatnya aku pernah duduk di sebelahnya di mobil itu. Sungguh aku menginginkannya. Seumur-umur mobil yang kunaiki hanya angkot. Tanpa AC dan bau knalpot menyerbu dari segala penjuru.

“Aku memang berjanji untuk mengajakmu jalan-jalan, tapi ingat waktu itu akan tiba pada hari pertama ketika anak kita lahir. Aku akan menjemputmu dari rumah sakit dengan mobil ini. Namun sekarang bukan saatnya untuk bersenang-senang. Kita harus banyak menabung. Bensin mahal kalau dihamburkan untuk jalan-jalan. Jadi mobil ini hanya kugunakan untuk pulang dan pergi kerja. Kau tahu kan bahwa biaya persalinan mahal?”

Aku hanya mengangguk paham. Ia telah merencanakan semuanya. Untuk kami kelak. Aku hanya masih agak konyol. Ingin berjalan-jalan dengan mobil dengannya. Kekasihku. Aku ingin memandangnya dari pipi kiri dan memperhatikan caranya memutar kemudi. Aku memang masih teramat konyol. Aku selalu menepuk-nepuk kepalaku dengan gemas bila mengingat hal itu.

Titik-titik air tergelincir di sekujur tubuhku. Bibirku membiru, namun aku tak hendak menyudahi mandiku. Mungkin karena ini adalah hari terakhir aku mengenakan baju-baju lamaku. Aku ingin mengawasi tubuh telanjangku untuk terakhir kali, memastikannya bersih dari segala kotoran dan luruh pula segala pikiran-pikiran konyolku. Hanah yang lama akan mati. Hari ini akan terlahir Hanah baru.

Suara anjing mungil terdengar dari rumah tetangga. Makin hari, suaranya makin lembut dan jinak. Kudengar tuan rumah mencandai anjingnya dengan gemas. Seperti dia yang makin mengasihiku mulai hari ini.

Matanya bercahaya seperti bintang-bintang, tepat ketika aku mengenakan pakaian baru pemberiannya. Kuingat tumbuh telanjangku yang mengkerut dan membiru. Aku ingat telah menggosok keras-keras semua daki.

“Aku rasa inilah saatlah Hanah, aku mengatakan sesuatu yang penting padamu.”

“Sesuatu yang penting?” kataku ragu.

“Aku rasa sudah waktunya kita berhenti menungggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu seorang bayi terlahir dari rahimmu.” Katanya tenang.

Air yang mengaliri tubuhku seketika mengering.

“Maksud Mas?”

“Saya telah menemukan seorang perempuan yang dapat membantumu menjadi seorang Ibu?”

Air mataku mengering di sudut.

“Perempuan itu akan kunikahi segera. Agar sesegera mungkin, kau menjadi seorang Ibu dengan telapak kaki yang menyimpan surga.” Senyumnya lembut.

Cairan-cairan di tubuhku bergerak ke arah yang berlawanan dan saling bertabrakan satu sama lain.

“Kamu tidak keberatan kan?”

Aku menggeleng sambil membentuk garis senyuman.

Kembang api berloncatan dari matanya. Warnanya serba cerah.

“Boleh saya minta sesuatu darimu?”

“Tentu boleh Hanah. Mintalah apa saja, karena kau adalah seorang perempuan yang mulia.”

“Saya ingin sekolah. Boleh kan?” Dia terkesiap.

“Tentu boleh. Perempuan harus pintar.”

Aku menarik nafas lega.

“Namun kau harus tahu, kau sekolah tinggi bukan untuk bersaing denganku, apalagi mengungguliku. Kau sekolah tinggi untuk mendidik anak-anak kita kelak menjadi orang-orang dewasa yang berkilauan.”

“Tentu.” Jawabku dengan senyum yang merekah. Terngiang pergunjingan dua kawan perempuanku. Membicarakan tentang seorang perempuan menjijikkan yang bersuamikan dua orang laki-laki. Hatiku seperti direndam dalam cairan asam. Segalanya tak penting, ketika ia mengijinkanku bersekolah. Kelahiranku yang sebenarnya baru terjadi setelah aku sekolah. Sebuah permulaan dari hal-hal yang tidak terbayangkan kemudian.

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

oleh Ni Komang Ariani

Dewa Made Dinaya sudah menduga dimana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini. Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapa pun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orang tuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya, Dinaya menolak mentah-mentah anjuran itu. Lanjutkan membaca “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara”