Delapan tahun setelah saya ke Thailand 2018, akhirnya saya menginjakkan kaki ke luar negeri lagi. Kali ini di Korea Selatan. Kalau ke Thailand, saya hanya perlu menghabiskan sekitar tiga jam perjalanan udara, kali ini, harus menempuh kurang lebih tujuh jam perjalanan. Sesuatu yang cukup besar bagi saya yang takut terbang. Setiap tahun, saya naik pesawat ke Bali, dengan durasi hanya dua jam, itu pun sudah cukup menakutkan bagi saya. Nah, ini saya harus menempuh perjalanan sejauh 7 jam.

Selama 7 jam di dalam pesawat menuju Korea Selatan, waktu terasa sangat panjang. Satu jam terasa sangat lama. Saya terus-menerus melihat waktu yang tersisa di perjalanan. Saya menunggu pilot pesawat mengumumkan waktu mendarat. Dan tiga puluh menit terakhir, adalah saat yang paling melegakan dalam penerbangan saya menuju Korea Selatan. Selama tujuh jam perjalanan itu, pesawat cukup sering mengalami turbulance, sesuatu yang normal sesungguhnya bagi pesawat yang sedang terbang. Namun karena saya takut terbang, perjalanan tujuh jam itu terasa melelahkan.
Inilah yang membuat saya jarang ke luar negeri, walaupun saya menyukai kehidupan di luar negeri, dan perbedaan budaya yang bisa saya rasakan di sana. Sesungguhnya saya suka pergi ke luar negeri dan tinggal di luar negeri, namun untuk terbang berjam-jam ke lokasi tersebut adalah bukan hal yang saya sukai. Takut terbang itu, mungkin sebenarnya ketakutan yang normal untuk banyak orang. Saya hanya harus mengatasinya, sehingga saya mempunyai pengalaman yang lebih banyak di luar negeri. Barangkali begitu. Apalagi akan banyak program-program residensi yang tersedia untuk penulis. Dan itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa bila saya mengikutinya.
Saya harus menemukan cara untuk mengatasi rasa takut saya untuk terbang. Bukankah seorang pramugari dan pilot, terbang tiap hari, dan itu menjadi pekerjaan mereka. Contohnya, adalah rekan dosen saya di kampus. Tapi yang namanya takut, ya mau bagaimana lagi. Semoga kelak, saya bisa mengatasi rasa takut terbang saya, sehingga saya akan lebih banyak berkunjung ke luar negeri.
Ya begitulah, saya sampai di Korea Selatan. Tujuan wisata yang diimpi-impikan banyak orang. Walaupun sebenarnya tujuan saya ke Korea, adalah mengantar anak saya, yang sedang kuliah selama satu semester di Universitas Hanyang. Hari pertama, kami makan di bandara. Makanannyaya seperti mie putih dengan kerang. Harganya masing-masing 10.000 won, sekitar 100.000 rupiah. Saya kurang menyukainya, karena mie-nya agak tawar. Kami langsung menuju lokasi kost anak saya yang ada di Ansan. Perjalanan dengan taksi lumayan mahal. Mungkin bisa mencapai 700.000- 1 juta rupiah. Kami sampai sekitar jam 1 siang di kost. Lumayan lelah dan mengantuk, karena semalam, kami nyaris tidak tidur selama di pesawat.
Setelah mandi, akhirnya saya bisa tertidur, dan sore-sore saya terbangun dalam keadaan kelaparan. Untunglah, saya membawa beng-beng di dalam tas, jadi lumayan bisa mengganjal rasa lapar saya. Kemudian saya mencari aplikasi memesan di Korea Selatan, dan saya menemukannya. Nama aplikasinya shuttle. Saya memesan beberapa jenis makanan di sana, dan thanks God, rasanya sangat enak. Jauh lebih enak dari mie yang saya pesan tadi siang di Bandara Incheon. Untuk makan malam, habis 23.300 won, mungkin dirupiahkan sekitar 295.00. Lumayan mahal sih. Tapi hari pertama tidak apa-apalah. Kami masih mencoba mengenali situasi, dan belajar mencari makanan murah di sini. Mudah-mudahan akan ketemu di hari-hari mendatang.
Hari kedua, saya dan anak saya berjalan ke minimarket terdekat dari tempat kost. Ternyata seven eleven, terletak sangat dekat dengan kami. Di sana, tujuan kami adalah membeli air minum, membeli T-money, dan membeli simcard Korea. Dan kesulitan pertama kami, adalah bagaimana caranya berkomunikasi dengan ibu yang menjaga Seven Eleven. Kami sudah mencoba menggunakan bahasa Inggris, namun si Ibu tidak bisa memahami kami. Akhirnya kami menggunakan kombinasi google translate, dan bahasa Inggris yang kami miliki. Kami berhasil membeli T-money, membeli sandwich, telur, pisang, dan mie instan. Cukuplah untuk persedian makanan di kulkas. Ternyata sandwich-nya sangat enak.
Dan hari itu juga, kami bertekad untuk mencoba menggunakan bis, untuk pergi ke kampus anak saya, yaitu di Universitas Hanyang. Sangat tidak mudah memang. Menemukan stasiun yang tepat, lalu memilih bis yang tepat, dan turun di halte yang tepat. Kami berusaha menggunakan bantuan Google Map, dan Naver. Siang hari pada saat pulang, kami kesulitan untuk menemukan bis pulang, jadi saya memutuskan untuk memesan Uber. Memang agak mahal. Tapi kami sudah kelelahan, dan kehausan. Ya sudahlah, sekalian mencoba naik Uber.
Hari kedua akhirnya saya habiskan lebih banyak di kost. Saya kembali memesan makanan di Shuttle. Dua porsi, habis 25.000 won. Cukup mahal memang. Cuma kami hanya menghabiskan satu porsi makanan berdua. Itu artinya satu porsi makanan lagi, bisa makan untuk makan siang besok. Lumayan hemat sih jadinya. Semoga besok, kami lebih berhasil naik bisnya. Dan bisa menemukan toko buku tentang Korea. Saya ingin membeli buku informasi tentang Korea, seperti yang saya lakukan saat saya residensi di Thailand. Membaca buku-buku tentang Thailand, membuka pikiran saya tentang seperti apa kebudayaan orang Thailand. Saya memperhatikan bahwa di Korea Selatan, banyak orang tua yang naik bus. Itu artinya, mereka sangat mandiri dan sehat. Lalu tempat penyeberangan juga cukup aman. Beda antara Chiang Mai, Thailand, dengan Ansan, Korea adalah, Chiang Mai adalah kota turis. Jadi mereka lebih terbiasa menghadapi turis yang kebingungan, mencari jalan. Namun warga Ansan, tampaknya cukup cuek, dan tidak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka. Barangkali, mereka sangat sibuk atau tidak mau mencampuri urusan orang lain.
Malam kedua, saya tidur terlambat. Menjelang jam dua malam. Akibatnya keesokan harinya, saya agak lemas ketika bangun pagi. Jadi hari ketiga kami memutuskan pergi agak sore. Ya sudah, tidak perlu bernafsu untuk jalan-jalan di Korea. Kalau lagi lemas, badan jadi kerasa kurang enak, dan mungkin akan marah-marah nanti di jalan. Akhirnya hari ketiga kami, ke sebuah objek wisata di kawasan Ansan, yaitu Ansan Lake Park. Jaraknya tidak jauh dari lokasi tinggal kami di Bonwon. Lokasinya lumayan sepi, dan tempatnya sangat luas. Setidaknya kami berjalan sekitar dua kilometer, mengelilingi taman. Ada bunga-bunga, ada danau kecil, sungai dan jembatan, yang cukup estetik, untuk menjadi objek foto-foto kami. Ya memang sayang sih, kalau ke Korea Selatan, tidak datang ke tempat wisata tertentu. Satu hal yang saya ketahui tentang Korea Selatan adalah taksinya menyetir dengan ngebut. Selain itu orang Korea, jarang menoleh atau ingin tahu urusan orang lain, bila bertemu di ruang publik. Seakan mereka lebih ingin mengurus urusannya sendiri. Ketika kami naik bis pun, orang-orang Korea, jarang ada yang menoleh. Mereka memilih meneruskan urusan mereka masing-masing. Ketika memesan makanan dengan aplikasi shuttle pun, pengantar meninggalkan makanan di depan kamar, tanpa menyapa atau bertatap muka dengan pemesan. Saya sedang ingin bertanya-tanya, apa yang melatarbelakangi Korea menjadi seperti itu. Secara umum, kebutuhan pokok di Korea relatif lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Air minum tidak bisa dibeli dalam galon, namun galon 2 L berharga sekitar 10 ribu. Maka untuk air minum saja, bisa menghabiskan uang 300.000 ribu per bulan. Uber juga relatif lebih mahal di sini. Uber dalam jarak dekat, bisa kena sekitar 7000 won, atau sekitar 84 ribu. Jauh lebih mahal dibandingkan grab/gojek di Indonesia yang jauh lebih terjangkau.
Hari keempat saya ada di Korea, suami tiba di Korea Selatan. Dan mulai malam ini, saya akan menginap di hotel bersama suami. Kami menginap di Hotel Clover, yang jaraknya sekitar 2,7 km dari kost anak saya. Hotel ini harganya sekitar 1 juta rupiah semalam. Cukup bagus untuk ukuran segitu. Lagipula di sini, kami mendapat air botol, yang unlimited untuk kami minum. Hanya saja wifinya kurang bagus. Ini akan menjadi tantangan malam ini. Karena tanpa wifi yang bagus, entah bagaimana saya menggunakan WA dan media sosial yang lain di laptop saya. Hari ini kami mencoba makan di dekat hotel Clover. Ternyata itu restoran seafood, yang makanannya mentah semua. Dan ada ulat yang digoreng. Benar-benar makanan ekstraordinary yang kami makan. Rasanya pun kurang enak. Padahal harganya cukup mahal, yaitu sekitar 55.000 won. Biarlah itu, menjadi pengalaman berharga kami, yang kemudian bisa kami tertawakan. Semoga besok kami berhasil ke Seoul.
Hari kelima, kami memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Starfield, di Seoul. Ini pertama kalinya kami menggunakan kereta menuju Seoul. Sebelumnya dari bandara, saya dan anak saya menggunakan taksi. Yang harganya lumayan mahal. Mungkin mendekati 900.000 rupiah. Hari ini mencoba menggunakan kereta, dengan menggunakan aplikasi peta Naver, yang merupakan aplikasi peta buatan Korea Selatan. Kereta jarak jauh, berhasil kami naiki, dan kami berhenti di stasiun Sadang. Setelah sampai di stasiun ini, kami harus pindah ke kereta lokal, sebelum turun di stasiun Samseong, yang merupakan stasiun terdekat dengan Starfield Library. Sebelumnya, kami hampir saja salah menaiki kereta. Jika kami salah, bisa kami akan semakin jauh dengan tujuan kami, karena kami hampir saja menaiki kereta dengan warna biru. Itu artinya, kereta tersebut adalah kereta jarak jauh. Ya hari ini, kami berhasil mencapai tujuan kami, namun saya gagal membeli buku bahasa Inggris tentang Korea Selatan, untuk riset mendalam tentang Korea. Di Starfield Library, ternyata tidak ada buku yang dijual. Dan tidak ada buku yang berbahasa Inggris. Di toko buku di mall juga tidak ada satupun buku berbahasa Inggris. Karena sudah kelelahan berjalan-jalan di Mall COEX, akhirnya kami memutuskan segera pulang dan kembali ke Ansan.
Hari keenam, saya menyarankan agar kami pergi ke Gyeongbokgung Palace, karena landmark bangunan bersejarah selalu menjadi favorit saya di tempat wisata manapun. Hari ini kepergian kami agak terhambat, karena anak saya yang bangun siang, sehingga kami terpaksa menunggunya untuk bersiap-siap. Kami memutuskan naik uber ke stasiun Sangnoksu, karena jadwal keberangkatan bis masih lama. Dari stasiun Sangnoksu, kami harus pindah ke satu kereta lokal, sebelum sampai di Gyeongbokgung Palace. Saya merasa sangat lega, karena salah satu wishlist saya di Korea tercapai juga. Tidak seperti yang sudah-sudah, saya selalu membuat foto sendiri dengan latar landmark pemandangan yang saya kunjungi, dengan harapan, jika kelak saya membutuhkan foto sendiri, saya akan memiliki banyak persediaan. Saya senang sekali mempunyai foto saya sendiri, dan banyak video yang mendokumentasikan Gyeongdokgung Palace. Salah satu wishlist saya tercapai, walaupun kami tidak menyewa Hanbok. Menyewa hanbok mungkin lebih seru, namun saya juga kuatir, kami akan keliatan aneh dengan pakaian tradisional Korea tersebut. Rencananya, di bulan Desember saya akan kembali menjemput anak saya di musim dingin, dan melihat salju asli untuk pertama kalinya. Namun saya berpikir ulang. Pada saat itu harga tiket akan sangat mahal. Dan saya juga takut terbang. Jadi barangkali, cukuplah delapan hari traveling saya ke Korea saat ini.
Hari ketujuh, kami memutuskan untuk lebih banyak istirahat, dan anak saya ada orientasi di kampusnya di Hanyang University. Jadi saya dan suami memutuskan untuk berjalan kaki ke Hanyang University dari Hotel Clover. Jarak yang kami tempuh sekitar 2,7 km, yang harus ditempuh dalam waktu 44 menit. Dengan menggunakan peta Naver, cukup mudah bagi kami untuk mengikuti petunjuk yang diberikan. Semua jalan yang kami lalui menuju Hanyang University, memiliki trotoar yang bagus dan bersih. Kami juga bisa menyeberang tanpa rasa takut. Jadi jalan kaki 2,7 km tidak terasa sulit. Akhirnya kami sampai di Hanyang University. Dan kami berhasil sampai di fakultas Ilmu Komunikasi, dimana anak saya nanti akan berkuliah, sementara anak saya masih mengikuti orientasi di kampusnya. Setelah itu kami naik Uber ke Lotte Mart. Di sana ternyata cukup lengkap. Saya akhirnya membeli baju kedua saya di Korea Selatan. Dan saya membeli baju untuk anabul saya Hiro. Mudah-mudahan pas. Namun ketika mencari makan siang di dekat hotel Clover, kami gagal menemukan makanan yang enak. Kami malah memesan Blood Sosis, makanan Korea yang kurang kami sukai. Ya sudahlah, anggaplah itu pengalaman berharga buat kami. Ya, saya harus mengenang perjalanan saya ke Korea Selatan, sebagai pengalaman berharga. Mudah-mudahan akan ada kesempatan lagi untuk melakukan residensi ke luar negeri.


