Senja di Pelupuk Mata

Bukan Permaisuri
Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri oleh Ni Komang Ariani

Rumah kayu berhalaman luas ini demikian riuh. Dedaunan kering tersapu angin bergulung di tanah, menghadirkan bau legit setelah gerimis sempat menerpa. Inilah saat putri bungsuku, Wardhani akan berpamitan untuk pergi ke rumah suaminya. Para tetangga juga semua kerabat berkumpul memberikan ucapan selamat dan salam perpisahan.

Suasana begitu riuh namun berlawanan dengan yang kurasakan di hatiku. Entah mengapa jiwaku terasa sangat hampa. Sesak tanpa jelas sumber dan asal usulnya. Tiga anak perempuan yang kukandung selama sembilan bulan satu persatu sudah meninggalkanku. Luh Wayan, putri pertamaku sudah menikah dengan seorang bule yang menyukai kemampuan Luh menari. Greg–nama mantuku itu–memboyong putriku ke Amerika. Negeri yang begitu jauhnya hingga rasanya mustahil dapat kujangkau. Entah bagaimana rupa cucu pertamaku, aku sama sekali tidak tahu. Luh hanya menelepon mengabarkan kelahiran anak pertamanya. Seorang bayi laki-laki bertubuh montok dan berambut pirang.

Kemudian putri keduaku, Made Sari menikah setahun kemudian. Suaminya seorang wartawan asal Jakarta. Putri keduaku itu juga langsung diboyong ke Jakarta. Ia pun telah melahirkan bayi pertamanya, bayi perempuan yang diberi nama Dina. Dan kini giliran Wardhani, putri bungsuku. Hanya ialah yang akan tinggal di Bali setelah menikah. Ia masih akan tinggal satu kampung denganku. Ia menikahi seorang guru sejarah yang baik hati.

Sebenarnya aku menyukai semua menantuku, yang selalu hormat dan bersikap baik padaku. Namun tetap saja tidak mengurangi rasa sunyi yang tiba-tiba hadir. Besok, rumah ini akan jauh lebih lengang. Kami, aku dan suamiku hanya akan tinggal berdua saja.

Pikiranku melayang ke masa dua puluh tahunan yang lalu. Saat itu kutinggalkan rumahku untuk menikah dengan Bli Gede. Aku menyalami Meme dan Bapa, yang melepasku dengan linangan air di matanya. Masa itu baru berlalu sekejapan mata rasanya. Ternyata masa itu kini menghadang begitu saja di depanku. Karma terjadi begitu cepat.

Anak-anakku telah pergi dengan langkah-langkah panjang dan pandangan mata lurus. Mereka menjauh tanpa niatpun menoleh. Tak lebih tak kurang dengan yang kulakukan dulu. Masa depan bagi mereka adalah sejuta harapan dan cita-cita. Sementara masa belakang bagi mereka hanya ketuaan dan kesia-siaan. Dan di masa itulah kini aku berada.

Bli Gede sepertinya tidak peduli. Senyum cerah selalu ia tampakkan tiap kali anak-anaknya kawin. Setelah itu ia akan kembali menekuni kebiasaan lamanya. Mengelus-ngelus dan bercengkrama berlama-lama dengan ayam jago miliknya. Seakan-akan ayam itu menjadi teman yang begitu akrab. Ayam jago yang pernah menjadi bintang di desa itu, kini cuma bisa mengais-ngais sisa kenangan tentang kejayaan di masa lalu. Sudah lama ayam itu tak mencium bau taji dan darah lawan yang anyir. Dia hanya meringkuk tenang di pojokan dapur, memperhatikan dengan nanar burung-burung dara yang melenggak-lenggok di halaman berebut butir beras yang tercecer.

Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun lewat. Sisa-sisa tenaga yang kumiliki semakin menipis. Tangan dan kakiku tak lagi cekatan digunakan bekerja sebagai Juru Canang , pekerjaanku selama dua puluh tahun terakhir. Aku lebih sering sakit daripada cukup sehat untuk bekerja. Sementara Bli Gede mulai kehilangan ketajaman sebagai makelar tanah. Makin hari, makin menipis penghasilan yang ia peroleh. Tabungan yang tadinya kami simpan untuk hari tua, pelan namun pasti mulai kami kuras untuk biaya hidup sehari-hari. Belum lagi bila salah satu dari kami jatuh sakit, bobol sudah simpanan hari tua kami itu.

Dengan kondisi keuangan yang demikian pas-pasan, tiba-tiba Bli Gede melontarkan sebuah keinginan. Aku ingin ke Tanah Lot, Iluh. Ingin menikmati es kelapa muda sambil memandang matahari tenggelam di ufuk Barat. Dengan ringan aku menolak keinginan mahal itu. Pergi ke Tanah Lot dan menikmati kemewahan es kelapa muda di restoran ujung tebingnya-jelas terlalu mewah buat kami yang sudah renta ini. Umur kita masih panjang Bli, kita harus punya cukup uang untuk terus hidup. Tahanlah keinginan mewahmu itu. Kataku saat itu.

Namun rupanya keinginan suamiku bukan keinginan main-main. Ia seperti perempuan hamil yang amat mengidamkan es kelapa muda-tanah lot-nya. Berkali-kali ia lontarkan kembali keinginannya itu. Bahkan kadangkala dengan suara yang terdengar memelas. Iluh, Bli ingin sekali berdua bersamamu di sana. Ingin memelukmu seperti pacaran dulu. Tidakkah bisa kau kabulkan keinginanku ini. Ini barangkali keinginan terakhirku sebelum aku mati.

Aku tergugu mendengarnya, namun aku tidak berdaya. Dengan mengelus punggungnya yang telah mulai bungkuk, aku mencoba membuatnya mengerti. Hidup dan nyawa kita lebih penting daripada keinginanmu itu. Sabarlah Bli. Kita memang tidak mempunyai banyak pilihan. Ia memandangku dengan tatapan kecewa. Mintalah pada anak-anakmu, Luh. Mereka cukup kaya untuk membantu kita.

Meminta bantuan anak-anak? Hhh… Mungkin belum ada hukum yang mengatur bahwa anak-anak seharusnyalah bertanggungjawab pada orang tua yang telah mengasuh dan membesarkan mereka. Karena itukah–anak-anak yang telah kubesarkan dan kuperjuangkan seluruh hidupku, lupa bahwa mereka masih memiliki sepasang orang tua yang masih terus melanjutkan hidupnya?

Kata orang, mendidik anak seharusnya iklas, tidak mengharapkan balas budi. Namun benarkah demikian? Sungguhkah aku tidak boleh mengharapkan anak-anakku mencintaiku—sehingga mereka akan berusaha membahagiakanku—seperti aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Kenyataan yang menghampar di depan mata, membuat aku memutuskan berhenti berharap.

Tak seorangpun dari ketiga anakku yang mengirimi kami uang. Tidak juga para menantu yang dulu begitu manis saat melamar anak-anakku. Bukan hanya itu, mereka semakin lama semakin jarang mengunjungiku. Tahun-tahun awal pernikahannya, hampir tiap hari Wardhani mengunjungiku. Lama-lama menjadi seminggu sekali, terus semakin jarang menjadi sebulan sekali, lebih jarang lagi menjadi setiap Galungan yang enam bulan sekali, dan sekarang ia hanya datang setahun sekali. Padahal ia satu kampung denganku dan kami masih sering bertemu secara tidak sengaja di beberapa tempat. Begitu juga Made Sari. Ia awalnya pulang tiga bulan sekali, menjadi enam bulan sekali, kemudian setahun sekali setiap mudik lebaran. Sekarang ia hanya pulang dua tahun sekali dengan alasan mengirit pengeluaran. Dan yang sulung lebih-lebih lagi. Sejak menikah belum sekalipun ia pulang. Awalnya ia sering menelepon memberi kabar tentang cucuku di sana, namun sekarang tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bertahun-tahun tidak sekalipun ia menelepon kami.

Lupakan mereka. Kabarnya mereka sendiri sulit memenuhi kebutuhan hidup berumah tangga yang semakin berat dewasa ini. Tentu saja berat untuk mereka yang tidak segan-segan mengeluarkan uang berlebih-lebih demi kepuasan diri dan anak-anak tercinta. Namun tidak untuk kedua orang tua mereka yang telah renta. Pengeluaran untuk ketuaan dan kesia-siaan haruslah dipikirkan matang, kalau bisa dibuat seefisien mungkin, seolah-olah hidup mereka selama ini efisien.

Hhh… Buat apa aku mengutuki mereka yang lahir dari rahimku sendiri. Biar kuterima kesendirian kami ini sebagai takdir yang tidak memerlukan alasan ataupun sebab musabab.

Aku mau menjual si jago Luh, biarlah ia dipotong orang. Aku sangat ingin ke Tanah Lot. Kata suamiku suatu kali. Aku memandangnya lama. Mencari kesungguhan di matanya. Aku tidak menyangka ia akan berkata begitu mengingat ia begitu sayang pada jago tua itu. Si jago adalah ayam kebanggaan suamiku. Ia telah malang- melintang dari satu tajen ke tajen lainnya. Ia memenangkan pertandingan demi pertandingan dengan luka-luka di tubuhnya. Ia harus menang, karena kalah berarti mati. Jago tua itu begitu setia padamu. Kau tega menjualnya? Bli Gede hanya terdiam dan memandang nanar pada kepak-kepak sayap si jago yang terlihat di kejauhan.

Rupanya keinginan suamiku untuk pergi berjalan-jalan sudah tak tertahankan lagi. Setelah rencananya urung ia lakukan saat itu, suatu kali aku memergoki Bli Gede dengan wajah murung membuka kurungan si jago, mengambil ayam tua itu pelan-pelan, memasukannya ke dalam anyaman daun kelapa, kemudian bergegas hendak membawanya pergi. Namun entah apa yang membuatnya tiba-tiba mengurungkan niat. Barangkali suamiku itu menjadi tidak tega ketika matanya menumbuk mata si jago yang terlihat lelah dengan kantung matanya yang tebal, dan mata yang me-ungu-sayu. Suamiku mungkin melihat cermin dirinya saat melihat si jago. Jagoan yang ada di penghujung usia. Tanpa digorokpun, ayam itu sebentar lagi akan mati. Saat itu matanya terlihat jengis , mungkin ia jerih juga membayangkan maut yang setiap saat bisa datang menjemput. Maut yang kadang tak merasa perlu memberi alasan atas kedatangannya. Ketuaan, kerentaan kami, telah cukup menjadi alasan yang masuk akal. Perlahan butiran air mengalir di pipinya yang hitam dan keriput.

“Hai jago, kau sungguh beruntung, tak mati seperti ayam aduan lain. Dimana taji menembus jantung, mencabik-cabik perut. Terkapar sebagai ksatria atau kalah oleh ketidakberdayaan!” Tiba-tiba laki-laki tua itu menangis tersedu-sedu. Kadangkala kudengar raungan menyanyat. Kali ini air mata bahkan bercucuran deras.

“Puluhan jago sepertimu mati dalam kalah dan tak berdaya. Tak berdaya menentukan jalan hidupnya sendiri. Terpaksa menjadikan taji satu-satunya cara hidup. Ber-taji atau mati oleh taji. Maafkan aku jago, aku telah membuat hidupmu pun menjadi kalah dan tak berdaya. Mempertaruhkan hidupmu setiap saat untuk alasan yang tidak kau mengerti. Kamu memberi tahu aku rasa kalah tak berdaya itu sekarang. Rasanya amat menyedihkan. Aku telah membuat rasa menyedihkan pada puluhan jago aduan sepertimu…!”

Kembali dia menangis sesegukan. Terdiam, kemudian kembali meraung-raung menyayat. Aku tak sampai hati melihatnya. “Kenapa sampai begitu Bli, tenang saja, besok kita ke Tanah Lot dan beli es kelapa muda yang kamu inginkan itu. Uang depositoku masih ada. Nggak usah nangis seperti itu dong Bli. Kita memang segera akan mati, tapi kita juga tidak tahu pasti kapan waktunya. Kapan harus merasa sedih untuk itu dan berapa lama juga tidak jelas, kenapa tidak tenang saja!”

“Kamu tidak tahu, bukan ajal yang tiang takuti, atau keinginanku yang ke tanah lot itu. Tapi tiang betul-betul baru tahu rasanya, saat ajal membuat kita merasa kalah dan tak berdaya. Saat kerentaan membuat kalah dan tak berdaya. Aku telah memilihkan hidup penuh taruhan nyawa, dengan ajal yang setiap saat datang menjemput kepada puluhan jago yang pernah aku adu, kini si jago memberi tahu aku bagaimana rasanya”.

Suamiku bercerita dengan air mata yang deras mengalir. Aku tak paham dalam tubuh penyabung ayam–yang kadang kala amat keras pada anak-anaknya–tersimpan keperasaan yang demikian dalam. Dari dulu aku tidak suka melihat ia menyabung ayam dan membunuhi ayam-ayam kekar itu, walau akhirnya aku menikmati masakan garang asem yang ia buat. Lupa sudah aku pada ayam-ayam yang mengerang dan berdarah-darah seperti satria di medan laga itu.

Ah, semua rasa memang tampaknya muncul saat kerentaan tiba. Semua penyesalan, kelemahan, ketakutan, kegalauan. Untungnya, aku tidak pernah terlalu perasa. Jadi kepergian anak-anakku yang kubesarkan dengan tetesan keringat, tak terlalu menggangguku. Walau aku kian merasa dilupakan dan ditinggalkan. Mengapa setelah tua kita menjadi tak berharga, tak menarik, tak diinginkan. Mungkin dengan rasa yang samalah aku meninggalkan kedua orang tuaku saat menikah. Dengan langkah-langkah panjang, tanpa sekalipun menoleh.

Diterbitkan di Cerpen Pilihan Kompas 2008 dan terhimpun dalam Buku Bukan Permaisuri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s