Penulis: nikomangariani

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

oleh Ni Komang Ariani Dewa Made Dinaya sudah menduga dimana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini. Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapa pun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orang tuanya memintanya untuk meneruskan … Lanjutkan membaca Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

Alamat Email Media untuk Cerpen

Alamat Email Media untuk Cerpen

Kompas  opini@kompas.co.id, opini@kompas.com Honor cerpen Rp. 1.400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.  Koran Tempo sastra@tempo.co.id Honor cerpen tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp. 700.000,-  honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp. 250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha … Lanjutkan membaca Alamat Email Media untuk Cerpen

Matinya Sang Pengarang

Matinya Sang Pengarang

Oleh Ni Komang Ariani Pagi ini Maya terbangun dengan firasat yang buruk tentang pekerjaannya. Belum pernah sekalipun firasat ini datang sebelumnya. Lima tahun terakhir ini, Maya percaya hidupnya paripurna. Ketukan lembut pada keyboard laptopnya seperti lagu yang mengiringi hidupnya. Kalimat demi kalimat berhamburan. Menyusun ribuan kata, dan beratus-ratus halaman. Semua komentar orang tentang hidupnya tidak … Lanjutkan membaca Matinya Sang Pengarang

Mall

Mall

oleh Ni Komang Ariani Sepertinya memang nyaris mustahil untuk membayangkan untuk hidup dengan baik-baik saja di  Jakarta. Aku merasakan kegilaan yang hebat saat memasuki ruangan-ruangan mall  yang demikian mewahnya, yang sulit kubayangkan kubangun dengan uangku sendiri. Apa yang harus aku lakukan dalam pekerjaanku untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Apakah aku harus jungkir-balik atau nungging-nungging? Mungkin … Lanjutkan membaca Mall

Lidah Ketut Rapti

Lidah Ketut Rapti

Oleh Ni Komang Ariani Apa yang dapat terjadi dalam sepuluh tahun hidup seseorang? Bisa jadi bukan apa-apa. Setiap pulang kampung ke Karangasem, aku melihat orang-orang yang melakukan hal yang sama. Perempuan tua penjual pindang  itu masih setia menyunggi sayur-mayur, tahu, pindang, bawang merah, bawang putih, yang menjadi barang dagangannya. Mas penjual dawet itu masih menjual … Lanjutkan membaca Lidah Ketut Rapti