Kategori: Cerpen

Kantor

Kantor

oleh Ni Komang Ariani

Apakah sebuah pekerjaan bisa membunuhmu?

Kantor adalah tempat yang aku datangi setiap hari namun tempat itu seperti menelanku bulat-bulat. Menghancurkan aku pelan-pelan dan sekarang aku telah menjadi pecahan-pecahan kecil yang berhamburan.

Ini bukan aku yang datang pertama kali ke kantor ini dengan wajah sumringah dan semangat yang menyala-nyala. Bertahun-tahun kemudian, aku merasa diriku yang sebenarnya sudah habis.

Yang datang pagi dan pulang sore hari itu hanyalah robot, mahluk yang sudah kehilangan jiwanya.

Anehnya setiap hari aku merasa bertemu dengan robot-robot yang sama pada halte-halte bis yang aku lewati, pada jalan raya tempat aku menyeberang, di supermarket tempat aku belanja. Diantara kumpulan robot-robot itu, jarang sekali yang tampak sebagai manusia.

Mungkin karena itulah, aku tidak lagi memerdulikan tentang jiwaku yang sudah dirampas. Aku menganggap itu biasa. Biasa karena itu terjadi pada semua orang.

Gedung mentereng ini membuat keberadaanku sempurna. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding, menunjukkan selera tinggi pembelinya. Setiap saat ada janitor yang hilir mudik untuk membersihkan beberapa titik noda yang terlihat, padahal lantai gedung itu sudah begitu mengkilat seakan kau bisa berkaca di sana.

Pada detik berikutnya akan terlihat hilir mudik karyawan-karyawan berpakaian rapi dan wangi. Beberapa kejapan berikutnya, para karyawan keren itu akan terlihat asyik dengan laptop mereka yang tipis, proyektor, presentasi, percakapan istilah-istilah teknis. Semua terlihat sangat canggih dan memukau.

Hanya ketika suasana hening ketika semua orang sudah pulang dan aku masih bengong di hadapan laptopku, aku tidak memisahkan diriku yang sebenarnya dengan seseorang yang bukan aku. Ruhku kembali ke dalam ragaku dan aku menjadi aku yang sebenarnya.

Aku bukanlah perempuan itu yang terlihat begitu kuat di setiap rapat dengan setiap kalimat yang kuucapkan menyihir semua orang dan membuat mereka terpesona. Aku bukanlah perempuan itu, yang pada kesempatan tepat, akan membuat trik-trik untuk menjatuhkan nama atasanku, bila perlu menyebarluaskan isu yang kukarang dengan cerdiknya.

Aku yang sebenarnya adalah perempuan sederhana yang menginginkan hal-hal baik saja. Maafkanlah aku yang terpaksa melakukan hal-hal seperti itu, karena dengan cara itulah aku bisa sampai pada gaya hidupku yang sekarang.

Terus-terang saja, aku terlanjur menyukainya. Terlanjur mencandu padanya. Apa jadinya jika aku harus kehilangannya?

Aku perempuan itu, yang sering dilihat orang di sinetron-sinetron. Bertubuh ramping, berkulit mengkilat dan rambut panjang yang tergerai ke pinggang. Belakangan aku tidak pernah lagi makan di rumah. Aku makin gemar berburu makanan enak dari food court ke food court. Menghabiskan sore minum kopi latte dan sepotong croissant bercita rasa keju.

Bila aku masuk ke dalam bis yang aku tumpangi, orang-orang memandangiku seperti melihat hantu. Bintang sinetron mana nih yang masuk ke dalam bis.

Beberapa sahabatku yang masih tinggal di kota kecil berulang kali memujiku foto profil facebook-ku yang keren. Aku si gadis kota kecil tidak mungkin menjadi sekeren itu di Jakarta. Setelah itu akan mengalir chatingan tentang gaya hidupku di Jakarta.

“Kamu keren banget Salwa? Kerja apa sih sekarang!”

“Aku executive secretary.”

“Sekretaris kan, kok sekretaris bisa keren ya.”

“Aku bosnya sekretaris. Sekretaris yang jabatannya yang paling atas.”

“Sekretaris itu sebagian besar pekerjaannya mencatat dan administratif kan? Apa menariknya pekerjaanmu?”

“Aku sekretaris yang istimewa. Aku adalah pembisik para direktur dan manajer perusahaan tentang apa yang mereka harus mereka lakukan. Aku lebih berkuasa dari seorang direktur, karena setiap ia membuat kebijakan, ia akan bertanya padaku.”

“Wah hebat banget dong kamu. Pantes kamu kelihatan keren banget.”

Aku hanya tersenyum dalam hati mendengar pujian itu. Setelah itu akan mengirim tiga tanda smile kepada teman sekelasku di kampung itu, pertanda aku sangat gembira dan juga sangat menikmati hidupku. Benarkah aku segembira itu?

**

Setiap jam lima sore aku dicekam ketakutan pada keheningan. Keheningan selalu membuatku mengingat siapa diriku.

Beban pekerjaanku belakangan kian bertambah dan menuntut konsentrasiku secara penuh. Aku sering melewati malam-malam disaat aku sulit memejamkan mata.

Aku sering melewati hari-hari disaat makanan terasa tawar. Aku sering melewati pagi dengan mual dan muntah di kamar mandi. Berbagai gejala penyakit datang dan pergi silih berganti. Tapi apa boleh buat, itu harga yang harus aku bayar.

Aku selalu berfikir seharusnya kedokteran modern menemukan suatu jenis vitamin yang bisa memompa energi seseorang menjadi dua kali lipat lebih banyak. Aku memerlukan vitamin itu sekarang juga. Mungkin ada teman-teman yang tahu tentang vitamin sejenis itu.

Ono rego ono rupo, kata sebuah pepatah Jawa. Itu pertukaran yang pantas dengan semua kemewahan yang aku miliki sekarang.

Mudah-mudahan itu pun pertukaran yang pantas untuk beberapa gejala penyakit yang sering aku rasakan, seperti migren, maag, vertigo, gastritis, atau entah apa lagi yang disebutkan dokter.

Kantorku mengganti seluruh biaya perawatanku ke dokter-dokter itu. Jadi ya, memang tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Mungkin ini bukan pilihan hidup yang terlalu buruk. Semua orang melakukannya. Bahkan ini sudah menjadi gejala umum yang bernama kesuksesan. Menjadi setengah manusia dan setengah robot. Atau setengah manusia, setengah zombie.

Kedua orang tuaku melihatku sebagai putri mereka yang sukses dan membanggakan. Mengapa tidak boleh menikmati kesuksesanku yang dikagumi orang itu? Pagi akan bertemu pagi. Malam juga akan bertemu malam. Hari akan berganti dengan cepat, dan aku akan melupakannya.

**

Hari keempat belas

Di toilet restoran cepat saji, tempat aku menyantap sarapan pagi, aku memperhatikan bayanganku di cermin. Memandangi pinggangku yang ramping dan berbalut dress kuning polos.

Perempuan itu sempurna. Bayangan itu menunjukkan kesuksesan. Ketika aku melirik wajah yang terpantul di sana.

Aku menghindar untuk berlama-lama memandang tatapan perempuan itu. Hanya mata itu yang jujur menjelaskan siapa perempuan di hadapanku sesungguhnya. Aku tersengat habis.

Tidak berani mempercayainya. Bergegas aku pergi, sebelum mata itu mempengaruhiku lagi.

Setengah menggigil aku memasuki ruanganku, ruangan bosku tepatnya. Masih ada dua jam sebelum laki-laki berperut buncit itu datang. Kubuka horden, membiarkan cahaya matahari leluasa masuk melewati jendela lebar di ruangan itu.

Dari kaca lebar itu, aku bisa memandang gedung-gedung bertingkat atau lalu lalang orang-orang di jalan. Seperti menonton drama kehidupan. Mengharapkan sebuah cerita dramatis yang membuat aku merasa lebih baik.

Setelah itu aku akan memanjakan mataku dengan memandang langit lepas. Memandang langit lepas beberapa selalu membuat aku merasa lebih baik. Melupakan sejenak rasa meriang yang membuat aku agak gemetar sejak pagi tadi. Perempuan canggih sepertiku tidak mungkin menjadi lemah dan tak berdaya.

Langkah-langkah berat menuju ruangan membuat aku gentar sesaat. Sekejapan berikutnya aku sudah menegakkan bahuku dan melatih senyuman di lekuk bibirku. Aku kembali menjadi perempuan itu. Aku yang bukan aku.

Ketika jam makan siang tiba, aku menarik nafas lega. Bergegas aku menuju lift, untuk naik ke lantai lima, ke food court, seperti tawanan yang mencoba kabur dari penjara.

Di sana aku berpapasan dengan perempuan-perempuan cantik, memakai blazer mahal yang bisa aku intip mereknya. Aku adalah bagian dari mereka. Aku menelan ludah yang terasa pahit. Riska teman sekantorku menepuk bahuku dengan gembira. Membuat jantungku hampir copot.

“Hei… kok bengong kayak orang linglung gitu sih? Ngeliat aku seperti ngeliat hantu.”

Aku hanya tersenyum tipis. “Aku lagi nggak enak badan.”

Riska memandangku sekilas. “Ya kamu memang kelihatan agak pucat. Sakit apa, Wa?”

Aku hanya menggeleng perlahan. “Mungkin cuma kecapekan. Mau makan apa kamu Ris?”

“Aku lagi pengen makan burger keju kesukaan kita itu. Kamu mau?”

“Boleh juga deh.” Kataku lirih seperti tidak terdengar. Sudah sepekan ini makanan terasa hambar.

“Kamu kok pucat banget sih Salwa? Tumben ketemu kamu, karena biasanya kamu sibuk meeting ke luar kantor.”

“Ya Ris. Sudah dua minggu badanku terasa nggak enak. Tapi kerjaan tidak bisa ditinggalkan.”

“Ya minta ijin dong, nggak masuk. Namanya juga sakit.”

Aku hanya memandang lesu wajah Riska. Sejak kapankah aku tak diijinkan sakit, seolah aku bukan lagi manusia. Aku malah mencandu padanya. Aku mencandui jiwaku yang dirampas. Burger keju yang biasanya beraroma sedap itu gagal menerbitkan selera pada lidahku yang terasa semakin tawar.

“Hai Salwa, ayo dimakan burgernya. Kok malah bengong?”

“Salwa kamu kenapa? Ayo cerita dong. Wajahmu putih seperti nggak ada darah. Mungkin kita harus ke dokter. Kamu harus periksakan kesehatanmu. Ayo jangan didiamkan. Nanti bahaya lho.”

Aku menjawab pertanyaan Salwa dengan air mata yang mengalir dari kedua kelopak mataku. Pertahananku bobol. Apakah ruh robot itu sudah pergi?

“Lho kok malah nangis sih. Ada apa sebenarnya? Cerita dong ke aku. Tidak perlu sungkan.”

Entah mengapa aku tidak sanggup memberikan satupun jawaban kepada Riska atau orang-orang lainnya yang kemudian mengajukan pertanyaan yang sama. Aku hanya menjawabnya dengan air mata yang mengalir sunyi melewati pipiku.

Pertanyaan-pertanyaan Riska membuat aku tersadar bahwa aku telah membiarkan diriku tertelan bulat-bulat dan dihancurkan pelan-pelan. Membiarkan diriku sendiri habis dan menjadi tumbal.

Pada detik itu juga aku memutuskan membawa tubuhku pergi. Berharap jiwaku masih melekat di sana. Aku mengambil tasku dan berlari menuju lift terdekat.

Terdengar sayup-sayup suara Riska memanggilku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku bahkan tidak menoleh sedikitpun.

Nafasku memburu. Jantungku berdetak kencang menunggu lift yang tidak juga membuka. Ketika lift mendaratkan aku di lantai terbawah, aku merasakan kelegaan yang hebat. Apalagi ketika cuping hidungku mencium bau matahari dan melihat angkot biru melintas di depanku. Aku memanggilnya tanpa pikir panjang. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan.

Seorang Kawan Bernama Yuliana

oleh Ni Komang Ariani

Saya menemukan perempuan itu duduk lunglai dengan tatapan hampa menghadap jalan raya. Rambutnya yang kriting jarang-jarang berkibar-kibar dipermainkan angin siang yang kering. Entah angin apa yang membawa kaki saya mendekatinya. Duduk di sebelahnya dan memandangnya. Tanpa sepatah pertanyaan dari saya, ia menggumankan kisah hidupnya. Barangkali sesungguhnya ia hendak mencari seorang kawan bercerita.

Perempuan itu, lima puluh tahun usianya, orang Batak yang sudah lama merantau ke Jakarta. Ibu Emela namanya. Ia sedang menunggui anak gadisnya, Yuliana yang sedang terbaring sakit. Kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Kanker ganas itu kini membuat dagu si anak gadis, membesar hingga membuat wajahnya menjadi dua kali lebih besar. Di ujung dagu ada muara yang bernanah. Berkebalikan dengan pipinya yang besar, tubuh gadis muda itu kini ringkih tinggal kulit membalut tulang. Beratnya mungkin tidak lebih dari dua puluh  kilogram.

Perkara itulah yang merisaukan hati Bu Emela. Ia sedikitpun tidak  punya daya untuk meringankan sakit yang diderita Yuliana. Tiap malam hatinya menangis mendengar erangan Yuliana. Yuliana tak henti-henti mengeluh lelah. Air matanya meleleh-leleh menahankan sakit dan nyeri di dagunya. Terkadang anak itu tertidur di puncak rasa sakit yang sangat. Barangkali saat itu Yuliana bisa beristirahat. Namun tidak Ibu Emela. Bhatinnya semakin menyala oleh rasa pilu yang mengiris jiwa. Menyesal rasanya ia telah melahirkan putri bungsunya itu. Menyesal telah membuatnya sengsara karena kemiskinan yang membelitnya.

Putri bungsunya itu sejak bocahnya telah belajar ikut menafkahi keluarga. Yuliana yang selalu ceria dan lincah, seakan menjadi permata yang menerangi jiwanya ketika kesulitan hidup membuat ia hampir putus asa. Beranjak remaja, Yuliana menunjukkan kecerdasannya dengan kerap mendapat ranking satu di kelas. Padahal seringkali Yuliana hanya bisa makan sekali dalam sehari. Namun anak itu begitu tekun dan tidak pernah mengeluh.

Kemiskinan pulalah kemudian yang menghentikan langkah cemerlang Yuliana hanya sampai kelas dua SMP.  Dua bola mata gadis kecil itu sangat kecewa kala itu. Bu Emela hanya dapat membasuh kekecewaannya dengan pelukan erat dan air mata yang berderai-derai. Ia membisikkan kata maaf ke telinga putri tercintanya. Dengan lelehan air mata, Yuliana menganggukkan kepala.

Sejak saat itu, mulailah Yuliana bekerja sebagai buruh pabrik sablon. Setiap hari bergelut dengan bau-bau menyengat dari pewarna, dan menghirup udara berat dari pabrik. Yuliana sehat-sehat saja kala itu. Tubuhnya montok dan rambutnya panjang. Ia selalu merayakan kesenangannya dengan berlari-lari lincah dan teriakan yang ribut.

Namun bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba saja gejala-gejala aneh menggerogoti kecerahannya. Dalam beberapa bulan bobot tubuhnya merosot tajam. Panas badannya naik turun tanpa sebab yang jelas.  Muncul bisul kecil di lehernya yang makin lama makin besar. Nyeri menandai bisul yang semakin bertambah besar itu. Sementara itu, gatal-gatal yang amat mengganggu ia rasakan di seluruh sekujur tubuhnya. Mulailah Bu Emela mendatangi satu dokter ke dokter lain, satu klinik ke klinik lain, satu paranormal ke paranormal lain, hingga mereka terdampar di rumah sakit ini.

Rumah sakit yang memampang besar tulisan “Pasien Miskin Dirawat secara Gratis”. Namun papan nama itu menjadi pembohong paling culas yang tidak tahu malu. Setaktahu malu pejabat-pejabat rumah sakit yang selalu menjawab dengan diplomatis. Sebebal orang-orang dinas kesehatan yang mengaku peduli pada pasien miskin. Nyatanya sungguh jauh panggang dari api. Dua minggu menghuni kelas tiga rumah sakit ini, Yuliana layaknya hanya berpindah tempat tidur. Tidak banyak pengobatan berarti yang diberikan.

Perkaranya karena mereka tidak mampu membayar obat untuk penyakit kelas berat yang diderita Yuliana.  Padahal mereka mengantongi surat keterangan miskin. Namun surat itu tidak banyak manfaatnya. Obat mahal itu tetap harus mereka tebus sendiri. Berharap kepada pemerintah omong kosong belaka. Terlalu banyak prosedur bertele-tele yang harus mereka lalui agar uang pengobatan Yuliana dikucurkan. Padahal penyakit yang kini mengerogoti tubuh Yuliana tidak bisa menunggu berlama-lama.

Bu Emela menghentikan sejenak ceritanya. Ia menarik nafas beberapa kali sambil meraba-raba sesuatu dalam sakunya. Beberapa jenak berlalu namun ia belum juga berhasil menemukan sesuatu yang ia cari di saku bajunya. Tanpa berkata-kata saya sodorkan segelas air mineral. Ia menerimanya dengan senyum kecil yang dipaksakan. Ia meminumnya hingga tandas.

Dan tiba-tiba kesenyapan mengisi ruang kosong diantara kami. Ada suara kidung yang melengking kering terdengar sayup-sayup. Saya mencium aroma dendam yang perlahan-lahan ditiupkan napas Bu Emela yang berhembus satu-satu. Dari kisi-kisi mulutnya yang tidak tertutup rapat saya membaui aroma pahit yang mencekik kerongkongan. Bola mata miliknya bergerak-gerak, namun tidak setetespun air mata meremang di sana.

Hari ini seorang pasien meninggal di ruangan Yuliana. Darah Bu Emela tersirap memandangi tubuh perempuan tiga puluh tahunan yang terbujur kaku di sana. Perempuan yang mewakili kejelataannya. Ia datang seminggu lebih awal daripada Yuliana, dan di minggu ketiga ini nyawanya melayang.

Ia menderita kanker leher rahim yang ganas. Tiga minggu lamanya ia menunggu dioperasi, namun tidak kunjung dilakukan. Perkaranya sekali lagi uang. Rumah sakit ini telah menjadi tiang gantungan pasien-pasien miskin. Kematian mereka dibiarkan terjadi, satu demi satu. Seakan tak satupun penghuni rumah sakit ini menyimpan hati di rongga dadanya.

“Yuliana akan Ibu bawa pulang hari ini!”

Saya menatapnya dengan sorot mata bertanya. “Tidak ada bedanya mati di sini atau di rumah. Dan kami memilih di rumah, ”  kata Bu Emela.

Kidung itu kembali terdengar semakin melengking dan kering. Tiba-tiba hati di rongga dada saya rontok, dicacah-cacah lalu direbus di atas tungku yang membara. Saya rapikan notes dan alat perekam saya.  Beberapa kata ke luar dari mulut saya untuk menahan keputusannya. Saya berjanji membantunya agar Yuliana segera bisa dioperasi. Saya memintanya untuk bersabar menunggu di ruang rawatnya hari ini. Saya berjanji akan datang dengan kabar baik.

Saya berbicara dengan semua orang yang berhubungan dengan pengobatan Yuliana. Saya datangi direktur rumah sakit dan berdebat panjang dengannya. Saya menuding-nuding dokter-dokter yang merawatnya dengan marah. Beberapa perawat berbisik mengatai saya orang kesurupan. Siang telah lewat dan petang menjelang, dan ternyata tangan saya hampa dari kabar baik yang saya janjikan kepada Ibu Emela. Dengan hamburan kecamuk di kepala, saya mendatangi ruang perawatan Yuliana. Saya ingin tetap menahannya agar tak pulang, dan berjanji berupaya lebih keras lagi.

Saya melongo mendapati tempat tidur Yuliana kosong. Kemanakah ia? Ke kamar mandikah? Bisakah ia ke kamar mandi dengan penyakit seberat itu? Pasien tetangga Yuliana tidak mengijinkan saya menduga-duga lebih jauh. Yuliana sudah pulang bersama ibunya. Tulang-tulang di tubuh saya terasa lolos begitu saja dan jatuh bertumpukan di tanah.  Kemana saya bisa menemuinya, Bu? Aku tidak tahu rumahnya. Aku baru masuk pagi ini. Katanya datar. Urat nadi kehidupan seperti telah terbang dari sorot matanya yang menatap saya. Apakah iapun telah meramal skenario nasibnya?

Saya kehilangan jejak Bu Emela dan Yuliana. Ternyata semua data rumah sakit tidak mencantumkan dengan jelas alamat rumahnya. Hanya Utan Jati, Kalideres. Sepekan lamanya saya berputar-putar di Utan Jati untuk menemukan rumahnya. Namun gagal. Di hari ke delapan akhirnya saya berhasil menemukan rumahnya. Rumah milik Bu Emela menghadap sebuah lapangan rumput yang tidak terawat. Sisa-sisa bungkus makanan dan sampah dedaunan bertebaran di mana-mana.

Langkah saya terhenti tepat di depan pagar rumah Bu Emela. Sebuah rumah darurat dengan beranda kayu yang telah lapuk.  Di ruang dalam terlihat sofa biru lusuh yang terlihat sebagai benda paling mewah di rumah itu. Sebuah tonggak dengan bendera kuning di ujungnya menyedot perhatian saya.

Tonggak itu tertancap tepat di ujung jari-jari kaki saya. Sosok Bu Emela tertangkap mata saya sedang menjemur pakaian di halaman. Bu Emela yang sebelumnya menekuni cuciannya,  perlahan menangkap tubuh saya yang berdiri tegak di depan pagar.  Sebuah kesiap yang ditahan berkilat dari kedua bola matanya. Sekejapan berikutnya mata itu seperti hilang isi dan nyawa. Melompong seperti sepasang bola yang dipasang tanpa niat di wajah Bu Emela.

Yuliana meninggal di hari keenam kepulangannya dari rumah sakit. Kemarin pagi mayat Yuliana dikuburkan. Enam hari menunggui Yuliana menjelang ajalnya, adalah hari-hari paling pengap bagi Bu Emela. Semua udara yang ia hirup seperti udara comberan yang membuat nafasnya tersengal-sengal. Andai tubuhnya dapat lenyap dari muka bumi kala itu, akan ia lenyapkan pula tubuh Yuliana. Namun yang dapat ia lakukan hanyalah mendengar, melihat dan membaui sisa-sisa kehidupan di tubuh anaknya.

Saya membaui aroma dendam dari nafas Bu Emela yang berhembus satu-satu. Dari mulutnya yang tidak tertutup rapat tercium aroma pahit yang semakin mencekik kerongkongan. Dari mata miliknya meloncat-loncat percikan bunga api kemarahan. Percikan bunga api itu menyambar-nyambar menjilati tubuh saya. Bunga api itu seperti hendak menyambar hangus tubuh saya.

Saya adalah bagian dari persekongkolan khianat yang membunuh Yuliana. Saya adalah satu dari orang yang berdiri tenang membiarkan kematian demi kematian. Karena saya hanya bisa mencatat, bertanya dan berdebat. Saya adalah pembunuh yang menyembunyikan tangan di punggung.  Saya berdiri di sebuah titik dalam lingkaran kebiadaban yang mengacungkan parang dan golok ke dada-dada pasien kelas tiga. Karena saya hanya bisa mencatat, bertanya dan berdebat. Saya tidak pernah berbuat apa-apa.