Ketika Waktu Melambat

Oleh Ni Komang Ariani

              Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang demikian ganjil. Waktu bergerak sangat lambat. Aku memulai pagi dengan menonton lima jenis acara TV dengan dengan perasaan separuh enggan. Ketika aku melirik jam dinding, aku kaget bukan main. Jarum jam hanya bergerak dua puluh menit. Aku pikir, setidaknya aku sudah membuang-buang waktu tiga jam untuk menonton TV dengan tidak jelas pagi ini. Apa yang terjadi?

              Aku bangkit dan melongok ke luar jendela. Apa yang terjadi di bawah aku pikir akan memberikan jawaban atas kebingungan aku. Alangkah kagetnya aku, kerumunan pasar rakyat di bawah sana sudah menjadi sekumpulan gerakan lambat. Aku memeriksa diri dan gerakanku sendiri, apakah aku pun telah menjelma gerakan lambat? Ah sungguh sulit memeriksa gerakanmu sendiri, karena aku melihat diriku bergerak dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

              Aku tercenung. Setidaknya waktu telah melambat sepuluh kali lipat. Itu artinya umurku akan bertambah sepuluh kali lipat. Dan tiap harinya akan menjadi sepuluh kali lebih lama. Itu artinya tiap hari aku harus menjalani 240 jam di waktu terdahulu. Tambahkan itu dengan kesepian dan kesendirian yang memilin-milin seperti sarang laba-laba. Itu seperti dihukum di penjara sepuluh kali lipat lebih lama. Aku mungkin  akan mati lebih cepat daripada seharusnya.

              Telepon berdering. Menyentakkan aku dari perasaan mencekam ini. Aneh. Suara telepon pun terdengar melambat. Suaranya mirip radio yang kehabisan batere.

              “Halo…”

              “Kamu dimana? Kita berjanji ketemu di Kafe kan. Aku sudah ada di Central Festival.”

              Aku terkesiap. Aku benar-benar lupa bahwa hari ini aku punya janji dengan seorang teman. Aku melirik jam dinding. Waktu belum banyak bergerak sejak tadi aku bangkit dari tempat tidur. Masih jam 9 lebih 30 menit. Seharusnya sekarang sudah jam 12 siang. Mungkin lebih.

              “Aku masih di flat. Tiga puluh menit lagi aku sampai di sana.” Aku agak bingung. Berapa banyak tiga puluh menit? Apakah akan menjadi 300 menit. Yang jelas aku punya janji bertemu dengan Sarah jam 10 pagi di sana. Aku hanya berharap, keganjilan ini akan segera berhenti. Mungkin setelah aku mandi, waktu akan kembali seperti semula. Sebanyak mungkin aku ingin bermalas-malasan, adalah neraka jika waktu dunia menjadi sepuluh kali lipat lebih lambat.

**

              Aku berjalan dengan langkah sedang mendekati Sarah yang tampak serius dengan laptopnya. Wajahnya terlihat agak gusar. Aku melirik jam tangan. Jam sepuluh kurang lima menit. Sarah seharusnya tak gusar, karena aku memang belum terlambat.

              Ketika matanya menangkap kedatanganku, Sarah tersenyum kecil dengan agak dipaksakan. Terlihat sekali ia berusaha keras untuk menahan gusar.

              “Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggu dua jam.”

              “Ah tidak mungkin. Jam aku hanya bergerak setengah jam.”

              Mata Sarah membeliak kaget. “Jammu mati mungkin. Yang jelas orang Thailand yang tadi bersamaku di sini sudah pergi, karena tidak sabar menunggumu.”

              Aku lebih kaget lagi. Aku melepaskan jam tangan dan menyerahkan kepada Sarah. “Lihatlah jamku. Masih berdetak. Memang lebih lambat, tapi masih berdetak.”

              Sarah pun tampak kebingungan. Ia meneliti jam di tangan aku dengan hati-hati.

              Refleks aku mengamati orang-orang yang berada di Kafe itu, dan mereka benar-benar bergerak lambat. Perutku menjadi mual. Sungguh memualkan melihat semua orang dalam gerakan lambat.

              Sarah masih tampak kebingungan. Ia membandingkan jam tanganku dengan ponselku.  Keduanya menunjuk penanda waktu yang sama. Jam 10 lebih 5 menit.

              Keringat dingin bercucuran di dahihu. Sarah memandangi aku dengan kaget.

              “Ada apa denganmu? Kamu sakit?”

              “Semua orang terlihat bergerak lambat di mataku.”

              “Gerakan lambat?” Sarah memandang sekeliling. “Tidak Ava, mereka bergerak normal. Ada apa denganmu?”

              “Semua orang bergerak slow motion.” Keringat dingin makin deras mengucur di leher, dada, punggung dan kaki.

              Sarah memegangi tanganku. Aku menekan kepala dan memejamkan mata.  “Lihat aku. Pandangi aku. Apakah aku juga bergerak lambat?”

              Aku membuka mata dan melihat Sarah juga bergerak lambat. Suara yang ke luar dari mulutnya juga melambat. Seperti orang yang memiliki keterbelakangan mental. Anehnya, suara Sarah pada saat kami bertemu tadi tidak seperti itu. Semua tampak normal dengan Sarah dan orang-orang lainnya.

              Sarah merangkul dan mendudukkan aku di sofa. Aku kembali memejamkan mata. Berusaha mengurangi pengar yang aku rasakan. “Kamu sakit, Ava. Kita harus ke rumah sakit. Aku sudah memesan taksi.”

              Aku hanya terdiam dalam rangkulan Sarah. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Satu-satunya yang membuat segala sesuatunya lebih mudah adalah dengan memejamkan mata. Kegelapan membuat kengerian itu berakhir sesaat.

**

              Entah berapa hari aku memejamkan mata. Penghitungan waktu menjadi tidak jelas dalam ingatanku. Aku juga memakai penutup telinga. Aku tidak sanggup mendengarkan suara-suara lambat dari siapapun. Dari suster, dari Sarah atau dari siapapun yang menengok aku. Mereka akan berkomunikasi dengan aku lewat secarik kertas dan tulisan. Dengan demikian aku tak perlu mengetahui kecepatan atau kelambatan yang terjadi.

              Dalam dua hari mereka memindahkan aku ke ruangan lain. Aku tidak lagi terhubung dengan infus dan mesin-mesin kesehatan lainnya. Mereka mengatakan, secara fisik aku sepenuhnya sehat. Lalu apa yang terjadi padaku atau pada dunia?

              Secarik kertas disodorkan ke hadapan aku. Sarah.

              “BUKA TUTUP TELINGAMU. INI SAATNYA KAMU BERANI MENDENGAR.”

              “APAKAH DUNIA MASIH MELAMBAT?”

              “JIKA MELAMBAT, TERIMALAH KELAMBATAN ITU. MUNGKIN KAMU MEMANG PERLU MELIHAT BANYAK HAL LAINNYA.”

              “AKU TAKUT.”

              “KAMU TIDAK MUNGKIN MENUTUP MATA DAN TELINGA SELAMANYA. ITU LEBIH MENYIKSA DARIPADA MELIHAT DUNIA YANG MELAMBAT.”

              “HIDUPKU ADALAH SIKSAAN. AKU TIDAK INGIN BERADA 10 KALI LEBIH LAMA DALAM SIKSAAN.”

              “MUNGKIN KAMU HARUS MEMBUAT HIDUPMU MENJADI INDAH. KAMU BISA KAN MEMBAYANGKAN BERADA 10 KALI LEBIH LAMA DALAM KEINDAHAN HIDUP.”

              “BAGAIMANA BISA? HIDUPKU TIDAK INDAH.”

              Sepertinya Sarah kehabisan kata-kata untuk meyakinkanku. Namun Sarah benar, mana mungkin aku selamanya tidur di kamar rumah sakit ini, dengan menutup mata dan telinga. Entah berapa lama ada lubang diam yang menganga diantara kami, yang jelas aku sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengikuti saran Sarah. Hidup aku selama tiga puluh tahun ini terputar ulang. Masa kecil penuh dengan ledekan pada warna kulitku. Masa kuliah yang pahit. Orang tua melarangku mengambil jurusan seni. Masa kerja yang hambar, sekedar melanjutkan hidup. Ternyata hidup aku penuh dengan pilihan-pilihan yang salah. Sarah mencolek tangan aku. Pertanda ia mau memperlihatkan sebuah tulisan.

              “TERLEPAS DARI SEMUA  YANG BURUK. KAMU SELALU BERSIKAP BAIK DAN MENOLONG.”

              Aku memejamkan mata kembali dan merasakan air mataku mengalir dengan deras. Dunia telah menyakiti aku sedemikian rupa, namun aku belum menyakiti siapa-siapa. Mungkin aku telah menyakiti diri aku sendiri, dengan membiarkannya terjebak pada pilihan yang salah. Entah berapa lama aku membiarkan air mataku mengalir dengan deras. Mungkin aku harus menampungnya pada sebuah ember.

Air mataku habis  dan aku tidak punya hal apapun untuk dilakukan lagi. Tubuh aku bergetar hebat ketika aku membuka mata dan melepas tutup telinga.

              Sarah berdiri di hadapan aku. Juga Papa dan Mama. Teman-teman kerjaku. Mereka memandangi aku dengan mata basah.

              Mama memeluk aku. “Maafkan Mama ya..!”

              Mama masih terdengar berbicara dengan lambat. Masih sama seperti sebelumnya. “Kamu harus kuliah seni. Itulah bakatmu. Mama punya tabungan untukmu. Maafkan Mama sudah membuang waktunya empat tahun untuk jurusan yang tak kau sukai. Maafkan Mama telah menyiksa hidupmu.”

              Air mata itu mengalir kembali. Entahlah. Waktu masih slow motion. Melambat sepuluh kali lipat. Sebuah kenyataan yang harus aku terima. Seperti seseorang yang harus menerima dirinya menderita penyakit kanker stadium lanjut. Seperti seseorang yang harus menerima hukuman seumur hidup di penjara. Aku masih bisa berpergian. Aku bisa kuliah. Mendengar siapa saja dengan tempo yang lambat mungkin tidak buruk-buruk amat. Mungkin aku harus mulai melihat mereka seperti sekumpulan orang Solo yang tidak pernah tergesa dalam berbicara. Sedikit lebih lambat tapi tak apa.

Dimuat di Tribun Jabar

Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai

Mimpi yang berulang. Bunga Marigold. Candi-candi keemasan berubah warna menjadi merah. Patung setengah manusia dan setengah burung yang bisa bergerak-gerak seolah hidup. Memilin-milin dan tumpang tindih dalam mimpiku sepekan ini. Alur ceritanya semakin lama semakin ganjil. Bahkan kadang tanpa alur cerita sama sekali. Bunga marigold. Candi-candi berwarna kemerahan. Patung manusia berkepala burung. Hanya itu yang bisa aku ingat dengan jelas. Selain sebuah jejak perasaan yang mengganjal bersamanya. Perasaan sedih dan marah sekaligus. Seperti ada seseorang yang telah berbuat curang, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak berdaya. Kedua tanganku seperti dirantai, untuk menonton. Tanpa mampu berbuat apapun.

             Mungkinkah karena aku telah kelewat menjejali pikiranku dengan segala informasi tentang candi-candi di Thailand? Tentang Doi Suthep, Wat Phrasing, Wat Chedi Luang, Wat Umong, dan lain-lain. Mungkinkah kepalaku meledak karena timbunan informasi dan alam bawah sadar mengambil sebagian dari tugas itu. Atau aku sedang dituntun oleh sebuah firasat. Entahlah.

              Aku tidak punya pilihan. Hanya sebulan waktu yang diberikan kepadaku untuk menghapalkan semua informasi tentang tempat-tempat wisata di Chiang Mai. Bosku mengatakan, lafal bahasa Inggrisku lebih bagus  daripada kebanyakan orang Thailand. Para turis itu akan lebih mudah mengerti kalimat yang aku ucapkan. Masalahnya, aku teramat buta dengan sejarah candi-candi di Chiang Mai. Ini seperti sistem kebut semalam untuk menghadapi ujian.

              “Satu bulan lebih dari cukup untukmu. Apalagi kamu suka dengan candi dan segala hal yang berhubungan dengan sejarah.”

              “Betul, tapi sebulan sepertinya terlalu singkat.”

              “Jangan lupa, waktu tak akan menunggumu.” Ia menepuk bahuku ringan. “Sebulan atau tidak sama sekali.” Katanya tersenyum kecil. Khas orang Thai. Tidak ada kalimat meninggi atau bentakan. Orang Thai begitu mencintai harmoni, bahkan ketegasan pun disampaikan dengan senyuman.

              Aku tidak mempunyai pilihan lain. Sebulan atau tidak sama sekali. Selama bertahun-tahun, aku merasa tidak pernah menjadi pemilih yang mahir. Aku salah memilih jurusan kuliah. Salah memilih pekerjaan selama sepuluh tahun. Salah mengira idealismeku akan membuat keadaan membaik. Ketika semua terpuruk ke titik terendah, aku memutuskan pindah negara. Konyol.

Kenangan betapa aku adalah pemilih yang buruk mengedor-gedor ingatanku.  Aku masih ingat bagaimana aku memilih jawaban pada soal-soal pilihan ganda pada ujian sekolahku, pada UMPTN sampai dengan tes-tes TOEFL dan sejenisnya. Beberapa teman mengatakan, mereka akan menggunakan feeling untuk jawaban-jawaban sulit. Dan aku tak pernah menemukan rumus feeling itu. Aku selalu merasakan sensasi yang ganjil setiap kali dihadapkan pada sebuah pilihan. Semacam rasa gatal yang aneh. Titik kritis untuk tergelincir ke dalam tebing yang dalam dan curam. Atau tersedot ke dalam pusaran air yang mematikan.

Mungkin aku tak seharusnya memilih apapun. Aku seharusnya membiarkan diriku tidak mempunyai cukup pilihan, agar orang lain bisa membuat pilihan untukku.

              Untung ada Barry. Laki-laki itu mungkin sengaja dikirim Tuhan untukku. Setidaknya, anggaplah demikian adanya.

              “Nama saya Ava. Saya akan menemani anda hari ini.”

              “Terima kasih Ava. Nama saya Barry.”

              “Selamat pagi Barry, selamat datang di Chiang Mai. Apakah kamu sendirian?”

              Barry melongok ke sekelilingnya seolah mencari seseorang. “Sepertinya saya hanya sendiri. Tapi kamu bersama saya kan?” jawabnya setengah bercanda. Aku tersenyum kecil. Mungkin senyumanku yang paling lepas semenjak sebulan ini. Perpaduan Barat-Timur adalah cara terbaik untuk mengolah seseorang. Barry adalah perpaduan yang sempurna itu.

              “Apakah kamu akan mengikuti jalur yang saya anjurkan, atau kamu sudah mempunyai daftar tempat yang ingin kamu datangi?”

              “Aku ikuti jalur yang kamu siapkan saja.” Katanya lagi dengan senyum mengandung sengatan. Menyejukkan sekaligus menggelisahkan.

              Laki-laki blasteran Amerika-Vietnam itu telah menyelamatkan hari-hariku. Ia pula yang merelakkan syarafku, untuk yakin, untuk pertama kalinya, inilah pilihan yang baik untukku. Ia datang di hari ketiga aku memulai tugasku sebagai tour guide. Hari pertama dan kedua berjalan seperti neraka karena aku teramat tak percaya dengan kata-kata yang ke luar dari mulutku. Hari keempat segalanya menjadi lebih baik. Aku makin hapal sejarah setiap candi, dan makin percaya diri untuk menjelaskannya kepada turis yang harus aku temani. Aku mulai mencintai pekerjaan ini dan merasa pilihanku kali ini tidak buruk-buruk amat.

              Barry hanya tertawa keras ketika kuceritakan, aku baru sebulan belajar tentang Thailand.

              “Aku kaget. Kamu tampak sangat menguasai.”

Aku tergelak. “Kepada turis yang lain, saya akan mengaku sudah tinggal di Thailand selama tiga tahun.”

“Aku punya kontrak setahun untuk mengajar di Sekolah Internasional Thailand. Aku akan perlu bantuanmu untuk mencari tempat tinggal nyaman dan murah di sini.”“Aku pikir kamu hanya akan menggunakan kata nyaman, bukan murah.”

“Aku perlu menabung untuk keliling dunia. Termasuk mengunjungi Indonesia kelak.”

“Mengapa Indonesia?”

“Ada apa dengan Indonesia?”

“Pulang adalah kata yang aneh buatku sekarang.”

“Kamu ke sini bukan untuk lari kan?”

              “Aku tidak tahu apakah Indonesia memang rumahku. Rumah adalah tempat yang merangkulmu dalam kehangatan. Rumah adalah tempat yang menerimamu sebagai bagian sejati dari tempat itu. Setelah tiga puluh tahun menghabiskan waktu di Indonesia, aku masih merasa seperti orang asing.”

“Tampaknya ada sesuatu yang serius antara kamu dengan Indonesia?”

              Aku tersenyum jengah. “Maaf Barry, aku sudah menceritakan sesuatu yang terlalu serius di awal perkenalan kita.”

              “Tidak apa-apa Ava, aku selalu suka mengenal dan mengetahui sesuatu. Karena itulah aku ingin keliling dunia. Aku  yakin, kelak kamu akan menemukan alasan untuk pulang”

              Aku mengangkat bahu, sulit meyakini kata-kata Barry. Namun malam ini, kata-kata itu terus terngiang seperti mantra. Di tengah gigil demam di flatku di Chiang Mai. Rasa sakit meluas di setiap inci sendiku. Inilah saat aku hampir menyerah melupakan rumah. Masa kecil langsung hadir dan mengelus-ngelus ubun-ubunku. Kenangan tentang bagaimana Mama memelukku, untuk memindahkan panas tubuhku ke tubuhnya. Kenangan akan Papa yang membasuh kakiku dengan air bunga telang.

              Kenangan masa kecil itu berputar dengan cepat di kepalaku. Mama dan Papa mengantarku ke dokter setelah karena badanku panas makin tinggi. Dokter pun meresepkan beberapa butir parasetamol dan vitamin C. Mereka tak perlu membawaku ke dokter sebenarnya, karena obat turun panas akan meredakan panasnya setelah beberapa jam. Namun orang tua manapun akan selalu cemas pada keadaan anaknya.

              Pada saat seperti ini, aku berharap bisa kembali menciut menjadi seorang balita. Seorang anak yang masih merengek kepada orang tuanya. Aku ingin meringkuk di dalam pelukan Mama. Masa kecil mengencet hatiku dan kata pulang mengirisnya dengan ketajaman yang sama. Pulang maupun tak pulang menghadirkan rasa sakit yang sama.

              “Umat manusia di manapun pernah mengalami rasa sakit karena kebencian dan diskriminasi. Jika tidak di kampung halaman mereka, mungkin di negara lain tempat mereka berada. Politik warna kulit sudah ada sejak berabad-abad, namun belum akan berakhir di masa modern sekarang ini. Kita boleh marah dan ingin berbuat sesuatu. Namun ketika upaya itu gagal, kita tak harus menghukum diri sendiri atau menyembunyikan diri selamanya.”

              “Mudah bagimu, Barry. Dengan kulit putihmu dan ras kaukasiamu, kau tidak akan mengalami diskriminasi dimana pun.”

              “Dan orang dengan rasku bisa menjadi pihak yang mendiskriminasi? Hitler dan kebanggaan bangsa Arya-nya. Mana yang lebih buruk. Menjadi pihak yang disakiti atau menyakiti. Dalam hukum karma versi Gandhi, yang menyakitilah yang akan menerima hempasan energi buruk.”

              Waktu itu, aku hanya tercenung mendengar kata-katanya.

              “Menurutku, dunia boleh tak menerimamu. Seluruh dunia boleh membencimu. Namun pertama-pertama, apakah kau menerima dirimu sendiri. Sudahkah kau menerima dirimu secara penuh dan tanpa syarat? Yang aku tahu, kita tidak akan pernah bisa bersembunyi dari diri kita masing-masing. Dimana pun dan kapanpun. Kita boleh lari ke ujung dunia. Namun kita tak pernah bisa lari dari diri kita sendiri.”

              Malam itu, bersama gigil demam dan kesendirian yang menggigiti setiap sendi-sendi tubuhku, aku berpikir untuk belajar untuk menerima seluruh rasa sakit ini tanpa syarat. Menelan bulat-bulat kebencian yang pernah aku terima, seperti seekor hiu menelan mangsanya. Mengunyah perasaan diasingkan itu dengan gigi-gigiku yang berukuran raksasa. Membiarkannya membentuk adonan dengan rasa manis, rasa bahagia, dan rasa gembira yang pasti mampir pula dalam hidupku. Aku hanya baru menyadari mereka karib yang takkan terpisahkan.

ditulis oleh Ni Komang Ariani. Dimuat Kompas, 13 Januari 2019

Senjakala

Prolog

SENJAKALA revisiPernahkah engkau mendengar kisah tentang sepasang bocah kembar yang bermain di celah-celah tebing. Pernahkah kau dengar kisah mereka yang menjadi kesayangan raja-raja yang memerintah berabad lalu. Pernahkah kau dengar lengking tawa mereka yang nyaring saat matahari pagi berebut kuasa dengan malam yang dingin. Legenda ini telah diceritakan turun-temurun dan masih hangat dibicarakan.

Pantai Lovina, Oktober 2000

Sesosok tubuh terhempas dalam genangan berpasir. Subuh yang hening berganti dengan kegemparan. Nelayan-nelayan yang hendak menjala ikan di laut berkerumun dan mengeluarkan suara dengung yang menyerupai ribuan tawon. Tubuh itu adalah tubuh seorang bocah berkulit cokelat. Seluruh wajah dan tubuhnya bersemu kebiru-biruan. Ada darah yang mengental di sudut bibir dan kakinya. Sepertinya tubuh mungil itu telah dihantam dengan semena-mena, entah oleh siapa? Barangkali tubuh itu telah menjadi mayat, jauh sebelum hantaman terakhir menghajarnya.

Tubuh itu kemudian diangkat dari air yang menggenang. Pasir yang mengotori tubuh dan wajah dibersihkan dengan guyuran air. Alangkah tampannya wajah bocah laki-laki ini. Terdengar gumaman bernada prihatin. Nada-nada marah. Nada-nada khawatir. Anak siapakah yang gerangan bernasib demikian malang? Warga sekitar semakin banyak yang berdatangan. Ibu membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Terdengar jeritan ngeri begitu perempuan-perempuan itu melihat dengan jelas sosok tubuh bocah itu.

Kulkul bulus terdengar membahana di kawasan pesisir yang biasanya dibuai ketenangan. Semakin banyak warga yang berdatangan untuk membunuh rasa ingin tahu. Mereka tidak percaya di pantai mereka yang begitu suci ditemukan jasad manusia. Gumam dan desah terus saja terdengar tanpa putus-putusnya. Seperti tak habis-habisnya kata-kata untuk mempertanyakan. Barangkali karena pemandangan itu terlalu tak mengenakkan hati. Terlalu melukai jiwa. Terlalu menyedot rasa ingin tahu. Saat tak putus-putusnya pertanyaan, hentakan sepatu lars membuat semua orang berpaling. Dua orang berseragam polisi menyeruak kerumunan. Sejenak keduanya memeriksa mayat bocah itu.

“Kami harus membawanya ke rumah sakit untuk diautopsi,” ungkap salah satu polisi yang berkumis tebal kepada orang-orang yang masih melongo. Mereka masih bergeming ketika dua polisi itu perlahan mengangkut mayat itu dengan mobil bercat hitam. Kerumunan baru bubar setelah mobil hitam itu membentuk sebuah titik di kejauhan. Mulut itu masih saja memperdengarkan kalimat-kalimat lirih walaupun langkah kaki mereka sudah begitu jauh dari tempat itu. Siapakah gerangan bocah tak dikenal itu?
**

Gunung Kawi, Januari 2000

Matahari tepat berada di atas kepala saat Lily tiba di kawasan wisata Candi Tebing Gunung Kawi, Gianyar. Walaupun matahari bersinar dengan sangat terik, udara masih terasa sejuk. Barangkali karena daerah ini berada pada kawasan perbukitan.

Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma segar di paru-parunya. Aroma sangit tanah terasa sangat nikmat. Hampir dua pekan berada di Bali, Lily selalu melakukan ritual yang sama sebelum memulai liputannya.
Mengunjungi Candi Tebing Gunung Kawi membuat Lily merasa dibawa ke masa lalu. Candi tua yang terpahat di tebing-tebing itu terlihat begitu misterius dan menghadirkan nuansa magis. Lily sudah merasa perasaannya terpengaruh ketika ia mulai berjalan menuruni ratusan undakan menuju ke bagian dalam candi.
Liputan yang harus dilakukan Lily kali ini tergolong ringan. Mungkin atasannya berharap Lily sesekali menikmati liburannya. Karena, bagi mereka dedikasi Lily terhadap pekerjaannya sudah terasa di luar batas. Selama lima tahun terakhir Lily tidak pernah mengambil cuti tahunannya. Ia hanya tidak masuk kalau sedang sakit. Kantor koran Memoar seolah menjadi rumah kedua bagi Lily.

Mas Tony sering geleng kepala bila melihat Lily begitu suntuk dengan layar komputer di depannya. Tidakkah kamu bosan dengan suasana kantor ini, Ly? kata redakturnya itu suatu ketika. Lily hanya menanggapi kata-kata itu dengan senyuman kecil.

Lily sangat menikmati pekerjaannya sebagai wartawan. Pada saat bekerja, waktu seolah-olah hilang. Begitu Lily merasa puas dengan tulisannya barulah ia meninggalkan meja kerjanya untuk pulang beristirahat.

Itulah yang ia lakukan hari demi hari, minggu demi minggu. Ternyata tahun demi tahun pun lewat. Mungkin ada satu hal lain yang membuat Lily seolah kesetanan dalam bekerja. Lily merasa enggan pulang setelah putus dengan pacarnya, Rafa. Laki-laki yang belum juga enyah dari pikirannya.

Rafa meninggalkannya demi sebuah cinta lain. Alasannya karena Lily terlalu sibuk dengan dunianya sebagai wartawan. Aku bukan pacarmu Ly, koran itulah pacarmu, kata Rafa. Lily hanya ternganga dan kehilangan kata-kata saat itu.

Benarkah ia telah begitu sibuk, sampai-sampai Rafa berkata begitu. Ah sudahlah, barangkali itu hanya alasan Rafa untuk meninggalkannya. Lily mengembuskan napasnya kuat-kuat, berusaha membuang sakit hati yang masih tersisa di dadanya.
Pekan lalu, tiba-tiba saja Mas Tony memanggilnya dan menyodorkan tiket pulang pergi Jakarta-Bali. Buat kamu, liputan di sana. Proyek promosi wisata sekalian jalan-jalan. Aku takut suatu saat lihat kamu digiring ke rumah sakit jiwa kalau nggak pernah libur, katanya dengan senyum menggoda.

Lily memasang wajah galak untuk menanggapi candanya itu. Sudah separah itukah kegilaan Lily dalam bekerja? Bukankah ia hanya berusaha bekerja dengan serius untuk memaksimalkan hasil kerjanya? Tapi, tidak apa-apalah, Lily senang mendapat kesempatan ini. Dengan begitu ia bisa jalan-jalan gratis dengan liputan yang tergolong ringan.

Lily hanya harus meliput sejumlah tempat wisata yang mulai berkembang, namun tidak seramai tempat-tempat wisata yang sudah lebih terkenal. Ada sepuluh objek wisata yang harus ia liput, tersebar di berbagai kabupaten di Bali. Lily harus membuat tulisan ringan mengenai tempat-tempat wisata itu ditambah foto-foto kawasan wisata tersebut. Gunung Kawi adalah tempat wisata terakhir yang harus ia liput.

Langkah-langkah Lily memasuki dan menuruni anak tangga terdengar bergema di lorong gua yang dimasukinya. Hari ini Gunung Kawi terlihat cukup ramai. Turis-turis berambut pirang, berambut cokelat, dan berwajah Asia berpapasan dengan Lily di lorong itu. Lily sedang bersenandung lirih ketika telinganya mendengar suara orang berlari yang semakin dekat dengannya. Dua langkah kaki yang saling berkejaran. Ketika menoleh ke belakang, Lily terkesiap, seorang bocah laki-laki hampir saja menabraknya.

Muka bocah itu tinggal beberapa senti saja dari mukanya. Lily merutuk dalam hati pada kenakalan bocah itu. Untunglah, bocah itu dengan sigap melompat ke samping kemudian meneruskan larinya.

Jika tidak, pastinya Lily sudah jatuh berguling-guling.
Lily cepat-cepat menyingkir karena beberapa saat setelah si Bocah Laki-laki, seorang bocah perempuan berlari kencang mengejarnya. Muka si Bocah Perempuan tampak memerah dan terengah. Kedua bocah itu tentulah tinggal di kawasan ini, jika tidak, tidak mungkin balapan lari di tangga seterjal ini. Lily meneruskan langkah sambil terus merapatkan tubuhnya ke bagian pinggir. Ia khawatir ada gerombolan bocah lain yang berlarian di sana.
**

“Bagus Ly, fotomu asyik-asyik. Tapi, kayaknya masih ada yang kurang?” kata Mas Noch, redakturnya, lewat telepon.
“Yang mana, Mas?”
“Ada beberapa gambar bagus yang kamu dapat dari Gunung Kawi. Tapi, beberapa di antaranya buram karena kameranya bergerak. Kamu bisa ambil ulang?”
“Bukankah masih banyak foto yang lain, dari objek wisata lain, masih belum cukup?”
“Aku suka sekali beberapa foto itu. Foto itu akan jadi foto utama di display foto koran akhir pekan. Masih ada waktu, kamu bisa ambil ulang?”
“Bisa Mas. Besok pagi saya ke sana lagi.”

Keesokan harinya, Lily hanya membawa satu ransel kecil ke Candi Tebing Gunung Kawi. Maklum, hanya beberapa foto yang ia perlukan untuk memenuhi permintaan Mas Noch. Lily kembali memasuki bagian dalam candi. Ia memasuki ruang demi ruang. Ternyata masih banyak bagian candi yang belum dilihatnya kemarin. Mas Noch pasti akan semakin kagum dengan hasil jepretannya kali ini.

Candi Tebing Gunung Kawi terbagi menjadi dua bagian utama yang dipisahkan oleh Sungai Pakerisan yang membujur dari arah utara ke selatan. Ada sembilan gugus candi, lima di sisi timur dan empat di sisi barat. Konon candi ini dibangun untuk dipergunakan sebagai makam Raja Bali pada masa itu, yaitu Raja Udayana. Selain dua kelompok gugusan itu, di bagian timur Sungai Pakerisan juga terdapat kelompok-kelompok candi tambahan yang membentang hingga ke kawasan persawahan.

Candi-candi itu terdiri dari ruangan-ruangan yang digunakan sebagai tempat pertapaan dan tempat beristirahat bagi para petapa. Alangkah luar biasanya bangunan yang begitu istimewa diciptakan pada abad 11 Masehi. Batu yang demikian keras dipahat menjadi ruangan-ruangan yang sangat indah. Lily tidak bisa membayangkan betapa hebatnya para ahli bangunan yang mengerjakannya pada masa itu.

Setelah meneliti setiap sudutnya lebih seksama, Lily semakin mengagumi tempat wisata terakhir yang harus diliputnya ini. Lily berjanji akan datang lagi ke tempat ini suatu saat. Dengan bersenandung kecil ia menjepret setiap sudut candi yang dianggapnya menarik. Foto-foto yang sesungguhnya tidak diminta oleh redakturnya.

Lily ingin menyimpannya sebagai koleksi pribadi karena ia begitu terpesona pada kompleks candi ini. Sebuah mahakarya yang belum banyak diketahui orang sehingga tempat ini belum menjadi tempat wisata favorit. Setelah puas dengan foto-foto untuk koleksinya, Lily kemudian menuju ke lokasi gugusan lima candi yang harus ia ambil ulang. Sepuluh foto ia siapkan untuk Mas Noch. Mudah-mudahan Mas Noch puas dengan hasil jepretannya kali ini. Lily menarik napas panjang setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Lily bergegas memacu mobilnya ke kantor. Ia ingin segera menyelesaikan tugas Mas Noch agar bisa segera menyelesaikan seluruh tulisannya di semua kawasan wisata. Waktu yang dimiliki tidak banyak. Lusa, ia sudah harus kembali ke Jakarta. Pukul delapan malam lewat lima menit, Lily menuliskan titik pada bagian akhir tulisannya. Ia kemudian mengirimkannya lewat email kepada Mas Tony dan Mas Noch.

Lily mengeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena duduk terlalu lama. Ia mengembuskan napas lega. Akhirnya, rampung juga semua tugas yang harus dikerjakannya. Lily memutuskan untuk membuat satu folder untuk foto-fotonya yang berasal dari Gunung Kawi. Ternyata foto hasil jepretannya cukup banyak jumlahnya. Sebanyak enam puluh tiga foto. Lily harus menghapus sebagian foto yang jelek agar komputernya tidak terlalu berat menampung foto sedemikian banyaknya.

Lily meneliti satu per satu foto hasil jepretannya. Walaupun jumlah foto-foto yang dihasilkannya demikian banyak, ternyata hanya sedikit yang buram dan kabur. Sebagian besar foto-foto itu malah terlihat sangat hidup dengan pengambilan angle yang tepat dan pencahayaan yang bagus. Lily merasa sayang untuk menghapusnya. Ia memutuskan untuk menyimpan foto-foto itu dalam file tersendiri dalam sebuah CD.

Dari sekian banyak foto yang diamatinya perhatian Lily tersedot pada sebuah foto. Foto itu adalah foto Sungai Pakerisan yang dijepretnya hari ini. Foto itu terlihat agak seram dan bagian sungai terlihat gelap padahal waktu diambil hari masih siang. Batu-batu besar bergelimpangan begitu saja sepanjang sungai. Air sungai terpaksa mengalah, harus meliuk-liuk di antara batu-batu besar itu. Pohon beringin yang rimbun, berebut menjuntaikan sulurnya ke sungai membuat sungai semakin gelap, walaupun di siang hari. Belum lagi rumpun pohon pisang yang tumbuh di sepanjang sungai.

Lily menekan tombol zoom di keyboard komputernya. Sebuah objek menarik perhatian Lily. Ada foto seorang bocah berjongkok di pinggir sungai. Tangannya memegang benda kecil berbentuk memanjang. Rambutnya dikucir dua dan diikat tinggi. Lily kembali menekan tombol zoom di keyboard komputernya. Bocah itu ternyata seorang gadis kecil berkulit cokelat. Kacamata mungil bertengger di matanya. Lily tidak bisa melihat lebih jelas lagi karena bocah itu terlalu jauh dari fokus kameranya. Lily tidak menyadari telah mengambil gambar anak itu ketika ia menjepretkan kameranya. Siapakah bocah itu? Rasanya Lily pernah melihatnya. Namun, ia betul-betul lupa di mana.

oleh Ni Komang Ariani

Menemui Thailand, Menemui Bali Menemui Marigold

Doi Suthep 114 Agustus 2018 senjakala telah tiba ketika saya menjejakkan kaki di Thailand untuk pertama kali. Juga negeri asing untuk pertama kalinya. Selama tiga belas tahun ini, saya lebih merasa sebagai seorang ibu rumah tangga, daripada pekerjaan-pekerjaan lainnya. Saya menulis cerita, dan sejak tiga tahun terakhir ini saya mengajar. Namun saya selalu merasa, pekerjaan utama saya adalah ibu rumah tangga.

Saya merasa terikat dengan rumah. Di rumah, tugas harian saya adalah memastikan makanan yang cukup untuk anak saya, memastikan ia mengerjakan PR, menyediakan perlengkapan sekolah yang ia perlukan dan memastikan ia tidur dengan baik di malam hari. Setiap tahun, perjalanan rutin saya adalah terbang ke Bali, untuk menemui keluarga saya di sana. Saya agak cemas dengan terbang, jadi saya agak menghindari untuk sering terbang. Kali ini sebuah program residensi memaksa saya mengatasi rasa takut saya.

Grand Palace 1Saya tiba sebuah hotel kecil di Bangkok sekitar jam setengah enam sore untuk transit semalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai. Saya menggunakan waktu transit saya di Bangkok untuk mengunjungi The Grand Palace. The Grand Palace merupakan istana raja Thailand yang sangat indah. Ada perpaduan warna yang sangat semarak dari emas, perak, merah, hitam, hijau, biru dengan ukir-ukiran yang sangat rumit. Menurut Asisten Profesor Arsitektur dari Universitas Silkaporn, Fakultas Arsitektur (dikutip dari buku A Geek in Thailand, karya Jody Houton), arsitektur Thailand dipengaruhi oleh dua peradaban besar, yaitu India dan China, juga beberapa tetangga terdekat.

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan di City Art and Cultural Museum- Chiang Mai, di masa lalu, Thailand merupakan sebuah kerajaan yang bernama Siam. Kerajaan Siam sempat berperang dengan Birma untuk merebutkan Kerajaan Lanna (Chiang Mai). Kerajaan Lanna sempat dikuasai oleh Birma selama ratusan tahun. Oleh karena itu, arsitektur candi-candi di Thailand lumayan mirip dengan candi-candi yang ada di Birma.

Yang cukup menarik juga adalah beberapa candi kuno di Thailand mengingatkan saya pada arsitektur bangunan di jaman Majapahit, dan juga arsitektur Pura-pura di Bali. Sebagaimana yang tampak pada Wat Chedi Luang dan Wat Umong. Di Wat Chedi Luang, saya sempat bercakap-cakap dengan para biksu Buddha melalui program The Monk Chat Program. Program ini bertujuan untuk saling mengenalkan kebudayaan dari daerah asal dan saling berlatih menggunakan bahasa Inggris. Cukup menyenangkan juga bisa mengenal dan bercakap-cakap dengan para biksu itu, walaupun dalam perbincangan itu mereka masih terlihat malu-malu. Banyak pula hal yang sulit saling kami mengerti karena dialek bahasa Inggris kami masing-masing.

Di Chiang Mai, saya menetap di dekat kawasan Old City, yang merupakan bekas ibukota kerajaan Lanna di masa lalu. Chiang Mai adalah kota kecil yang ramah. Harga makanan, hostel dan transportasi di Chiang Mai juga relatif murah. Untuk pergi di sekitar kota, kita bisa menggunakan Tuk Tuk, Song thew, dan Grab.

Grabcar ada dalam jumlah banyak, jadi begitu memesan grab melalui aplikasi, mobil ini akan tiba menjemput kita dalam waktu 2-3 menit. Harganya juga relatif murah dan drivernya juga sangat ramah. Tidak yang kebut-kebutan seperti driver mobil online di Indonesia. Tak salah bila Thailand dijuluki sebagai The Land of Smile. Setiap orang yang kau mintai bantuan, akan menjawab dengan senyuman atau suara yang bersahabat. Sekalipun mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka akan tetap tersenyum. Ketika saya hendak menemui seorang kawan Indonesia yang bekerja di Maejo University, salah seorang mahasiswa dengan suka rela mengantar saya ke Faculty of Liberal Arts, yang lumayan jauh jaraknya. Bahasa barangkali menghalangi, namun kesediaan untuk membantu tak terhalang kendala bahasa.

Menemui Thailand dan Menemui Bali
Kuil Mini 1.jpgBegitu menginjakkan kaki di Thailand, saya cukup takjub juga mengamati praktek keagamaan di Thailand, cukup mirip dengan praktek keagamaan di Bali. Menurut penulis buku “A Geek in Thailand”, Jody Houton, jumlah pemeluk agama Buddha di Thailand mencapai 95 persen. Sementara Bali, merupakan sebuah pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Orang Thailand beragama melalui kuil-kuil mini yang mereka tempat di setiap tempat aktivitas mereka. Di rumah, di toko, di mobil, di pasar, di mall, dll. Di kuil mini biasanya ada patung Buddha, ada bunga, ada tempat dupa, ada polesan warna emas atau tidak.  Di Bali kami menyebutnya Sanggah atau Plangkiran. Sanggah adalah kuil mini di setiap rumah. Sementara Plangkiran adalah kuil yang lebih mini lagi, bisa ditemui di sebuah kamar, satu booth di pasar, satu stand pameran, dll.

Di lihat sekilas, Chiang Mai bukanlah kota yang megah. Mirip dengan kota-kota kecil di Jawa. Dibandingkan dengan Bali, Bali terasa lebih mewah. Namun Chiang Mai mempunyai semua fasilitas yang dibutuhkan agar turis merasa betah. Harga makanan, transportasi, laundry, hostel yang relatif terjangkau.

Chiang Mai mengingatkan saya pada Bali sepuluh tahun yang lalu. Mudah sekali menemui touris berambut pirang atau merah dimana pun. Di Seven Eleven atau di Mall. Waktu kecil, saya ingat bagaimana Ibu saya harus berkomunikasi dengan kalkulator atau bahasa isyarat dengan para turis saat berjualan di toko miliknya. Sekarang ini, pemandangan serupa tak saya temui lagi. Turis yang datang ke Bali sudah tak sebanyak dulu atau mereka sudah disambut langsung paket-paket tur yang disediakan para pelaku wisata. Saya sendiri tak terlalu mengikuti perkembangan pariwisata Bali. Pendapat saya, pariwisata Bali lebih mahal dari Chiang Mai. Turis yang datang ke Bali, harus merogoh kocek dalam-dalam. Sementara pariwisata Chiang Mai lebih terjangkau. Sebagai turis, saya betah mengabiskan waktu dalam waktu lama di Chiang Mai. Thailand merupakan salah satu negara dengan kunjungan wisata terbesar di dunia. Barangkali itulah resepnya, pariwisata di Thailand cukup ramah di kantong orang kebanyakan.

Marigold, dari Meksiko, India, Bali sampai Thailand
Marigold 3Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, ada satu jenis bunga yang menarik perhatian saya, yaitu bunga Marigold. Di Bali bunga ini diberi nama bunga Gumitir. Hampir di setiap candi, saya menemui keberadaan bunga Marigold ini. Kemudian ingatan saya melayang film favorit saya, film animasi Coco, yang menceritakan tentang tradisi kematian di Meksiko. Bunga marigold menjadi bunga utama pada De Muertos, atau Hari Orang Mati di Meksiko. Melalui film Coco pula ditampilkan bahwa jembatan yang menghubungkan Tanah Orang Mati dengan Tanah Orang Hidup terbuat bunga Marigold. Di India, bunga Marigold dirangkai menjadi kalung bagi patung-patung Dewa.

Di Bali, bunga marigold digunakan hampir di semua sarana upacara. Bunga Marigold bisa ditemukan di Canangsari dan Banten yang digunakan di Bali.
Bunga Marigold berasal dari Meksiko dan Amerika Selatan dan masih satu keluarga dengan Daisy. Bunganya berwarna kuning dan oranye cerah. Marigold tumbuh berupa semak dengan ketinggan antara 15 cm sampai 90 cm. Terdapat tiga jenis Marigold, yaitu French Marigold, African Marigold, dan Triploid Marigold. (disarikan dari kompas.com). Bunga marigold konon cukup banyak manfaatnya di bidang kesehatan, seperti mengeluarkan racun dari tubuh, mengobati masalah pencernaan, melawan radikal bebas, mengobati demam dan sakit tenggorokan (merdeka.com). Bunga Marigold, dengan wangi khasnya itu telah mengingatkan saya pada rumah dan juga mengembarakan imajinasi saya ke berbagai tempat di dunia.

 

Perempuan Berambut Api

Cerpen Perempuan Berambut ApiDosa terbesar saya hari ini adalah karena saya telah membiarkan rambut saya tergerai. Orang-orang memandang saya dengan kebencian yang tidak saya mengerti. Terutama perempuan tua berambut kusut itu. Ia mengira saya adalah perempuan Liak, yang gemar menari di kuburan desa untuk merapal mantra ilmu hitam. Ia menuduh saya kerap menari memutari Sanggah Cucuk, dengan menaikkan satu kaki, sambil melengkingkan tawa mengikik yang meremangkan bulu kuduk.

Perempuan itu mengatai-ngatai saya perempuan berambut api. Ia membuang ludahnya yang kental setiap saya melintas. Orang-orang lain ikut membenci saya.

“Kamu masih bau kuburan.” Katanya dengan suara yang serak dan dalam.

“Kelak kau akan diburu obor yang menyala-nyala. Di tempat itu, kau tidak dapat lagi memamerkan senyummu. Kau hanya akan menjerit-jerit kesakitan. Tubuhmu akan menjelma batang-batang kayu bakar. Kau akan menjadi makanan api. Ia akan menyulapmu, menjadi seonggok abu.”

Perempuan itu memercayai apa yang belum pernah dilihatnya. Setiap Kajeng Kliwon, ia  mematai-matai rumah saya. Berupaya menangkap basah saya  bersalin rupa menjadi kera, babi bertaring panjang, kerbau berkaki tiga, kuda atau mungkin seekor anjing yang buduk.  Menguatkan tuduhannya, bahwa saya perempuan yang kerap merapal mantra di pekuburan desa, menunggu mantra itu masak untuk bersalin rupa menjadi jenis-jenis binatang itu.

Setiap Kajeng Kliwon, ia mondar-mondir di jalan setapak  di depan rumah saya. Perempuan itu memegang sebatang tongkat yang besar dan panjang, bersiap menunggu munculnya jenis-jenis binatang yang diingatnya itu. Namun yang sering melintas adalah seekor anjing buduk, seperti umumnya jalan setapak di desa kami. Pada suatu malam, ia pernah memukul seekor anjing buduk dengan teramat keras, sampai anjing itu terkaing -kaing memilukan.

Anehnya,  ia tidak pernah punya nyali untuk benar-benar membuntuti saya ke kuburan desa, untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Ia cukup puas dan yakin dengan perkiraannya sendiri.

Tak ada warga desa yang tahu dengan tabiat perempuan tua berambut kusut itu. Tak ada pula warga desa yang mengganggap perempuan itu adalah perempuan yang kejam. Ia pemarah dan pembenci siapa saja. Setiap ada Odalan di Pura, ia  duduk di tempat yang paling tinggi. Di sebuah bangku yang beralaskan beludru dengan sulaman keemasan di beberapa bagian.

Dari tempat duduknya, ia bisa memandang orang-orang lainnya dengan leluasa. Ia selalu duduk dengan bahu tegak dan kepala mendongak. Rambutnya digelung tinggi, dengan pita berwarna perak yang membungkusnya. Tak seorang pun berani mengusiknya. Atau sekedar melempar pandangan ke arahnya. Sampai suatu ketika mata kami bertatapan di satu titik.

Itulah titik permulaaan, perempuan itu memandang saya, dengan matanya yang seperti ingin memakan saya hidup-hidup.

“Senyummu terlihat menjijikan. Rambutmu acak-acakan seperti Liak. Oh itu, apa kau baru saja mencuci rambutmu dengan bunga mawar? Mulai besok kau harus menggelung rambutmu. Namun gelunganmu tidak boleh melampuiku. Kalau sampai aku melihatmu lagi dengan rambut tergerai, aku bersumpah seluruh desa akan membencimu.”

Perempuan itu menyeringai puas saat mulut saya terkatup rapat. Ia tak tahu sedang berbicara dengan perempuan bisu. Ia puas mengira saya terdiam ketakutan. Hanya matanya… matanya yang mengawasi riak mata saya yang tak tunduk kepadanya, setajam apapun  ia mencoba melubangi keyakinan saya.

Perempuan berambut kusut itu tak tahu, sekalipun tak memiliki suara, saya dapat membaca riak telaga di matanya. Mudah sekali melesat ke ceruk terdalam dan paling hitam dari bola matanya dan mencuri rahasia-rahasianya. Perempuan itu sebetulnya letih dengan kesendirian yang panjang. Dengan penghianatan demi penghianatan. Walaupun ia telah bersikap teramat lunak pada laki-lakinya. Laki-laki itu pergi setelah memeras seluruh cairan manis dari tubuhnya. Yang tersisa adalah kebencian yang mengerak di lingkaran hitam kelopak matanya. Kebencian terlalu berat untuk disangga oleh dua kelopak matanya yang mungil. Ia harus membagikannya kepada sebanyak mungkin. Saya hanya seorang perempuan malang yang berada di tempat yang salah.

***

Konon orang yang termulia lahir tanpa rambut. Warna hitam menyimpan gelap yang mencekam. Seperti liang sumur yang sempit dan dapat menjebakmu dalam lekukannya yang  berlumut dan berlendir.

“Berarti orang gundul adalah orang-orang termulia?”

Aku tersenyum tipis. Ada hal-hal yang tak perlu ditanggapi. Perdebatan bukanlah segalanya.

Anakku mengerjapkan mata, berusaha melawan kantuk. Pagi datang, namun kantuk masih memberatinya.

“Bangunlah Nak. Sebelum Pagi dikalahkan oleh Malam. Mereka sedang bertarung dengan sengit.

Mulutnya yang mungil menguap lebar. Tidak ada hal-hal yang sungguh dikuatirkannya. Susu habis, atau mainan yang rusak?

“Kalau kau tak segera bangun. Setan Rambut akan mengejarmu?”

“Apa Setan Rambut itu Ma?”

“Setan yang berambut gimbal, dengan punggung yang berlubang. Ia suka mengejar anak-anak yang kelebihan waktu tidur. Setan itu ingin merembut mimpimu.”

Si bocah masih menguap lebar. Betul-betul tak ada yang dapat menakutinya. Bocah edan.

“Apa Setan Rambut tak takut padaku? Rambut lurus dan tajam-tajam seperti duri.”

“Setan Rambut tak takut pada apapun.”

“Aku juga tidak takut pada apapun.” Pipi tembamnya terlihat kemerahan. Membuatku terjebak dalam tawa dan tangis secara bersamaan.

“Bangunlah. Kita harus segera bersembunyi di kolong meja.”

“Aku sedang menunggu Tiko, Ma. Dia akan sedih kalau aku tidak ada.”

“Jangan menunggu seekor anjing dan membahayakan keselamatanmu. Seekor anjing hanya bisa menjilat. Ia akan dengan mudah menjilat yang lainnya.”

Muka anakku memerah seperti bola api.

“Anjing bukan penjilat Ma. Anjing setia.”

Aku belum pernah melihatnya berubah menjadi bola api. Aku segera menggendongnya menuju kolong meja. Tak ada waktu lagi untuk berdebat dengannya.

“Aku tahu apa yang salah denganmu?”

“Apa?”

“Matamu.” Aku mendelik gemas. Sekali lagi dalam tangis dan tawa.

“Matamu membuatmu menjadi pengecut. Kau selalu ketakutan setiap mata seseorang berubah menjadi bola api. Bola api tidak bisa membunuhmu. Ia hanya menyimpan warna merah yang segera akan menghilang.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan. Lawanlah. Bukan saatnya lagi bersembunyi di kolong meja.”

“Kita akan bertarung melawan Setan Rambut?”

“Kita akan bertarung dengan siapa saja. Kita melawan siapa saja yang jahat dan mengambil apa yang menjadi hak kita.”

“Betul. Seperti Setan Rambut, kita tak takut pada apapun.”

Bocahku tersenyum tipis, kemudian terlelap dalam gendonganku.

**

Kebencian itu konon seperti jamur. Mudah tumbuh di tempat yang lembab dan gelap. Orang-orang desa masih menatap saya dengan sorot mata benci dan mereka tak kunjung lelah. Padahal saya mulai bosan.

Waktu berkhianat dan memihak perempuan berambut kusut itu. TV-TV mulai menyamarkan rambut-rambut perempuan yang tampak di layar kaca. Tak seorang pun tampil dengan rambut tergerai di papan-papan reklame. Gelung rambut dengan pita keperakan terlihat dimana-mana. Saya seperti melihat senyum perempuan itu dimana-mana. Perempuan yang mengelung tinggi rambutnya dan duduk di atas tempat duduk beludru berwarna keemasan.

Perempuan itu selalu menusuk mata saya dengan belati kebencian. Mungkin merasa sia-sia membuat saya tunduk dan takluk. Merasa sia-sia untuk membujuk saya menjadi pengikutnya. Ia hanya belum tahu, saya bisu.

Yang tidak ia ketahui, setiap kali sorot mata itu membidik mata saya, saya lebih dahulu melesat ke ceruk matanya yang terlihat menganga. Mengaduk-ngaduk isinya, membuatnya membocorkan rahasia-rahasia.

Laki-lakinya pergi dengan seorang perempuan yang mengurai rambutnya. Perempuan yang menghamburkan manis  dari senyumnya. Laki-laki itu terserap oleh lesung dari pipinya. Terserap masuk, bagai jin yang terperangkap di dalam botol. Karena itu ia ingin mencabut senyum dari perempuan manapun. Agar tak ada lagi yang merebut laki-lakinya.

Saya lelah dikelilingi jamur kebencian dimana-mana. Saya ingin menyerah. Tunduk. Takluk. Beberapa kali saya memandangi bayangan saya di cermin, mencoba menggelung rambut saya seperti perempuan berambut kusut itu. Memandangi wajah saya di cermin, seketika saya tak mengenali diri saya. Seseorang seperti telah mengikat serat-serat syaraf di otak saya menjadi segenggam serabut yang kusut. Pikiran saya mandek, tak mampu lagi berkeliaran di kepala saya.

Pada suatu waktu, di depan perempuan itu, saya menggelung rambut saya dengan pita warna keperakan. Menyunggingkan sebuah senyum untuknya ketika kami berpapasan. Mencoba merayunya dengan bendera perdamaian. Perempuan itu mengamati rambut saya dan terlihat puas. Kemudian matanya tiba pada  garis senyum, dan bola api itu memijar kembali.

“Senyummu menyebalkan. Kau harus menanggalkannya dari wajahmu.”

**

Kau tahu tanah menyimpan suara-suara yang mengambang di udara dan menyimpannya di dalam dirinya. Tanah merekam apa-apa yang kau katakan dan mengubahnya menjadi struktur dalam tubuh mereka. Menjadi aroma. Menjadi warna. Menjadi kepadatan.

Orang-orang pemarah tinggal di atas tanah yang meranggas dan mengeras. Tak ada pohon yang sukacita tumbuh di atasnya. Tidak ada tamu yang berniat singgah untuk sekedar mengagumi matahari terbit. Kau harus berhati-hati dengan perkataanmu. Berhati-hati menyemburkan sumpah serapahmu. Jangan sampai tanah  mengabadikannya menjadi rasa asam.

Warga desa mengangkat tubuh perempuan itu dari kursi goyangnya, setelah bau busuk menyengat hidung mereka. Sepasang matanya mendelik tak rela.

Rumah milik perempuan berambut kusut itu, kini dibunuh sepi. Ditebas keangkeran seperti tanah pekuburan. Tak ada warga desa yang berniat menghuni rumah besar dengan bangunan elit yang ada di sana. Rumah termegah yang ada di desa kami. Semua orang memilih kembali ke gubuk bambunya masing-masing.

Entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin mereka  enggan meninggali tanah yang asam dan meranggas. Pepohonan mengering dan layu. Tak tahan pada hawa panas kemarahan yang bertahun-tahun memanggang mereka.

Mereka tak lagi ikut-ikutan memandang saya dengan kebencian. Mungkin mereka pun bosan. Mungkin karena tak ada lagi perempuan berambut kusut itu. Entah yang mana yang menjadi penyebabnya. Mereka membiarkan saya menggerai rambut saya kapanpun dan dimanapun. Mereka membiarkan saya tersenyum semau saya, tanpa berniat menanggalkannya dari wajah saya.

 

Catatan

Liak : perempuan yang mempraktekkan ilmu hitam

Sanggah Cucuk :  suatu bentuk sarana upacara yang terbuat dari anyaman bambu

Kajeng Kliwon : salah satu hari penting dalam kegiatan upacara di Bali.

Odalan : acara penting di Pura.

 

ditulis oleh Ni Komang Ariani, dimuat di Harian Kompas tanggal 12 November 2017