WARI

WARI

oleh Ni Komang Ariani

Kau harus bertemu dengan teman masa kecilku di kampung. Namanya Wari. Kisahnya, pasti akan membuatmu  mengulum senyum. Dia berkulit hitam, bertubuh pendek dan berwajah pas-pasan. Namun ia murah senyum dan gampang tertawa. Itulah yang membuat ia selalu terlihat menyenangkan. Caranya tertawa tersimpan dengan baik di kepalaku. Ha… ha…. ha…..

Aku tidak tahu asal muasal namanya yang terdengar agak aneh dibandingkan nama-nama lain seperti Made, Wayan, Gede, Yudha, dan lain-lain. Yang jelas Wari sangat terkenal di kampungku. Hampir tidak ada yang tidak mengenalnya.

Selain gemar tertawa, Wari juga terkenal dengan kalimat-kalimat yang sering diucapkannya. “Yang penting aman. Aku netral. Netral. Aku orang yang cinta damai. Berteman dengan siapa saja adalah keinginanku.” Setiap kali ia bicara, kalimat-kalimat manis berhamburan dari mulutnya. Mulutnya renyah seperti rengginang. Ha… ha… ha…. Netral. Netral. Yang penting aman.

Ketika warga kampung meruncing dalam perbedaan pendapat dalam pemilihan lurah, dengan tawa khasnya, Wari bergerak selicin belut untuk masuk ke dua kelompok dengan mudahnya. Ajaibnya, kedua kelompok menerimanya dengan tangan terbuka. Tak seorangpun curiga, Wari adalah mata-mata lawan.

Tawa khas, kedua tangan yang gemar merangkul, juga kata-kata saktinya, yang membuat Wari selalu selamat dari segala pergolakan politik. ‘Yang penting aman. Untuk apa ngotot. Yang penting aman’ Itu katanya berulang-ulang.

Warga kampung mengangguk-angguk setuju dengan pendapatnya. Bahkan ia juga menjadi kesayangan warga di kampungku. Mereka mengelu-elukan Wari sebagai orang yang bisa dekat dengan semua orang. Mereka menyebut Wari mengemban wahyu pembawa perdamaian bagi warga kampung. Sebuah anggapan yang sering membuat aku mencibir dalam hati.

Wari berkata-kata bukan untuk menyampaikan kebenaran. Ia hanya mengikuti kemana arah angin dan mengucapkan hal-hal menyenangkan untuk didengar. Boleh dibilang, Wari adalah penjilat sejati. Orang yang mempermainkan kebenaran demi keuntungan pribadinya. Sejak aku mengenalnya, nyaris tak ada ucapannya yang mengandung kebenaran.

Namun sungguh, aku tidak berani mengejek Wari di depan orang-orang kampung. Mereka terlalu mencintainya. Mereka tidak pernah mempermasalkan sikap Wari yang sering berubah-ubah layaknya bunglon. Pagi dele, sore tempe, besoknya tempe mendoan. Warga kampung menerimanya dengan sukarela. Tidak sedikitpun menyangsikannya. Sekali lagi, mulut manis Wari selalu berhasil menyelamatkannya.

“Aku hanya mendengarkan suara nurani teman-teman sekampungku. Kemudian aku menyuarakannya. Anggaplah aku penyambung lidah mereka.”

Aku sebetulnya aku agak muak dengan kepercayaan dirinya yang kelewat tinggi. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kalimat-kalimat yang diucapkannya seperti titah, yang begitu dipercaya oleh warga kampung. Kalau aku menentangnya, aku akan menjadi musuh mereka.

“Wari…wari ada saja kamu. Gayamu sok seperti tokoh politik” Kawan masa kecilku itu tak terlalu ambil pusing dengan ucapanku yang melecehkannya. “Jangan mengejek, kamu. Suatu saat aku mati, kuburku akan dikenang dengan suka cita oleh warga kampung, sementara kamu, siapa yang mengingatmu?”

Aku pun menanggapi komentarnya dengan tawa ringan. Bagimanapun, Wari hanya laki-laki kampung, yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa yang bisa membahayakan orang lain. Jadi biarlah ia menikmati jalan hidup yang dipilihnya.

Selama sepuluh tahun lebih, aku tidak pernah mendengar kabarnya. Aku terlalu sibuk dengan urusan-urusanku di seberang lautan. Aku hampir tidak pernah mendengar lagi gosip tentangnya. Apa kemampuannya memainkan kata ‘netral’ dan ‘aman’ itu sudah membawanya menjadi orang yang paling dicintai di kampung atau tidak, entahlah. Aku sibuk dengan urusan-urusan mengajar dan melanjutkan sekolahku dari S1, S2 sampai S3.

Sementara Wari yang terlalu sibuk dengan kegiatan politik kelas terinya itu, menolak untuk meneruskan sekolahnya. “Bagiku, masyarakat adalah sekolah yang tertinggi. Mereka mendidikku lebih baik daripada sekolah yang sesungguhnya. Yang kaku dan mengurung diri dalam ruangan ber-AC”.

Terdengar benar memang kalimat-kalimat yang diucapkan Wari. Indah dan menawan. Aku sempat berfikir, barangkali Wari memang terlahir sebagai politikus tulen walaupun ia tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Bahkan belakangan inim  kata-kata Wari menemukan pembenarannya.

Orang-orang kampung sudah tidak mengingatku lagi. Bila ada kesempatan pulang kampung setahun atau dua tahun sekali, aku lebih banyak mengurung diriku di rumah kami, bercakap-cakap dengan Meme dan Bapa, tanpa keinginan untuk bergaul dengan warga sekitar. Titel doktorku hanya berlaku di kampus. Di kampung, aku hanya laki-laki kutu buku, yang pendapatnya dianggap sebagai angin. Mungkin juga karena aku terlalu terlalu takut bergaul dengan mereka. Entahlah. Aku hanya bisa mengelus dada dan tersenyum masam di dalam hati.

Begitulah keadaannya. Orang-orang lebih menyukai Wari yang bermulut manis, walaupun yang dikatakan lebih banyak bohongnya daripada benarnya. Mereka membenciku tanpa alasan, karena aku tidak ikut dalam kegiatan mereka minum-minum di warung kopi, walaupun aku mengatakan  kebenaran. Jika aku mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Pada suatu pertemuan kami, pada saat aku pulang kampung, Wari meledekku karena kebenaran kata-katanya. Tawa khasnya belum berubah, hanya rambutnya yang mulai memutih.

“Betul kan seperti yang aku bilang, orang dengan mudah melupakanmu. Mereka tetap menyukaiku sampai sekarang. Padahal kau seorang doktor, sementara aku hanya seorang lulusan SMA. Ha.. ha.. ha..” tawanya penuh kemenangan.

Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut.

“Di kampung ini, kau tidak tampak sebagai sebagai seorang doktor. Kau mirip kutubuku, yang takut menghadapi orang-orang kampung’

“Aku agak merasa sia-sia bicara pada mereka.”

“Kau meremehkan mereka cuma karena mereka tidak punya titel.”

“Tidak juga. Yah, mungkin saja memang tidak ada yang cocok untuk kami bicarakan.”

Wari hanya mencibirku. “Itulah keangkuhan orang yang dibentuk oleh sebuah sekolah yang angkuh.”

“Aku tidak angkuh.”

Wari kembali hanya mencibirku. “Orang yang bersekolah tinggi, dan disebut sebagai intelektual, didesain untuk tidak cocok untuk bergaul lagi dengan masyarakat pada umumnya. Itu yang sangat aku sesali dari sekolah.”

Luar biasa. Kalimat yang luar biasa itu diucapkan oleh Wari yang tidak pernah kuliah. Mungkin ia menghabiskan waktunya untuk membaca koran dan buku-buku, sehingga beberapa kalimat itu sepertinya memang cocok diucapkan oleh seorang profesor.

Terlepas dari kata-kata mewahnya, yang banyak mengandung kebenaran itu, aku benar-benar tidak tahu, apa sesungguhnya pekerjaan Wari. Aku tidak pernah mendengar ia bekerja di satu tempat pun. Setiap pagi ia terlihat nongkrong di warung kopi di depan Bale Banjar. Siang sampai sore, ia terlihat minum-minum dan merokok di tempat yang sama.

Ia selalu terlihat berapi-api dengan obrolan politiknya. Dan pemuda-pemuda pengangguran di kampung mendengarkannya dengan terkagum-kagum. Ia baru terlihat agak sibuk ketika ada pemilihan lurah, camat, bupati, sampai dengan pemilu presiden. Dia selalu menjadi seksi sibuk, untuk kegiatan-kegiatan semacam itu, yang aku yakini, tidak bergaji. Ajaibnya, Wari tidak pernah kelihatan kekurangan uang atau melarat.

“Mungkin dia memelihara brerong” kata istriku dengan bergurau, ketika keheranan ini kusampaikan padanya. Aku hanya tertawa geli menanggapi gurauannya.

“Wari itu hebat, jangan macam-macam kamu.” Kataku bercanda. “Orang kampung lebih menyukai Wari daripada kita”

“Nggak usah iri, Bli. Tiap orang sudah mempunyai bagian-bagiannya masing-masing.”

“Aku tidak iri. Aku hanya tidak habis mengerti mengapa Wari begitu disukai.”

Kali ini istriku tidak mempunyai jawaban atas pertanyaanku. Dia hanya tersenyum kecil.

Suara ketawa Wari kembali terdengar nyaring di telingaku. Juga ucapannya yang begitu akrab. Yang penting aman. Aku netral. Netral. Cinta damai dan santun.

Meme : Ibu

Bale Banjar: Aula, tempat pertemuan warga

Brerong : sejenis ilmu hitam yang membuat orang menjadi kaya tanpa bekerja

Bli : kakak

Dimuat di Pos Bali, 12 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s