Gelegar guntur sepanjang malam tadi begitu memekakkan telinga. Beberapa kali saya terjaga dalam kaget. Terdengar air bergemuruh seperti mengepung kami dari segala penjuru. Kiamat seperti telah diambang mata. Sudah beberapa malam ini, langit Jakarta begitu gelap. Awan hitam bergulung-gulung di langit seperti menyimpan dendam. Lanjutkan membaca “Kemana Iyah Sewaktu Banjir”→
Kadang-kadang kita tumbuh besar dengan keinginan yang paling ganjil. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi memakai baju bekas. Kamu mungkin menganggapku berlebihan. Seandainya kamu tahu, sampai SMA ibuku tidak pernah membelikan aku baju baru. Ibuku seorang pembantu, ia sering mendapat limpahan baju bekas dari majikannya, dan sialnya anak majikanku seumuran denganku, jadi aku seperti sudah ditakdirkan menerima limpahan baju bekas darinya.
Bedanya, ia tumbuh menjadi anak yang tinggi dan tubuh padat berisi, jauh melampui aku. Walaupun umur kami sama, badannya tumbuh dengan cepat, sementara pertumbuhan badanku merangkak lambat. Mungkin kami berdua bisa menjadi contoh nyata perbedaan pertumbuhan karena perbedaan gizi. Tiap mengingatnya aku hanya bisa tertawa masam.
Wajah Ibu selalu berbinar-binar setiap ia mendapat limpahan baju bekas dari majikannya. Ibu senang bisa menghemat uang untuk membelikan baju-bajuku. Apalagi baju-baju bekas itu masih sangat bagus, berbahan halus, dan pasti berharga mahal. Kalau membeli baju sendiri, Ibu mungkin terpaksa membelikan aku baju berbahan kasar, yang tidak nyaman dipakai. Mungkin karena itu, Ibu senang sekali bila majikannya memberikan tas kresek hitam. Ia langsung tahu apa isinya.
Sebaliknya, setiap kali Ibu pulang dengan dengan membawa tas kresek hitam, aku melengos dengan hati perih. Aku tidak menginginkan baju-baju bekas itu. Aku menginginkan baju baru, walaupun bahannya kasar, walaupun membuat badanku gatal-gatal memakainya. Aku menginginkan baju yang masih terbungkus plastik, yang harus aku copot mereknya bila ingin memakainya. Aku ingin baju yang dibeli khusus untukku. Namun aku tidak sampai hati mengecewakan Ibu yang menyodorkan kresek hitam itu dengan mata berkilau-kilau.
“Sad, bagus-bagus nih baju dari Mas Bisma. Ada superman, batman, micky mouse, kainnya halus. Pasti baju mahal Sad. Ibu beruntung punya majikan yang sebaya dengan kamu. Nggak ada yang tahu ini baju bekas Sad. Orang ngiranya pasti beli baru.”
Aku menyembunyikan remang air mataku. Aku tidak ingin mengecewakan Ibu. Ibu tidak tahu, semua tetangga kontrakan pasti tahu kalau baju-baju yang aku pakai adalah baju bekas. Mana mungkin Ibu mampu membeli baju-baju seperti itu. Ibu lupa, para tetangga kontrakan juga banyak yang bekerja sebagai pembantu. Itu artinya, mereka pun sering mendapat baju lungsuran.
Aku hanya menulis kekecewaan hatiku di buku harian. Aku sembunyikan di bawah tumpukan baju-bajuku. Takut Hasna membacanya. Adikku satu itu memang anak paling usil dan suka menggoda. Hasna sering iri karena aku mendapat lungsuran baju-baju bagus, sementara ia tidak kebagian. Padahal aku lebih senang jika aku menjadi Hasna, dibelikan Ibu baju murah berbahan kasar, yang khusus memang dibeli untukku.
“Mas Asad bajunya bagus-bagus. Kelihatan mahal. Lihat nih bajuku. Nggak nyerep keringat. Siang kalau lagi panas, badan jadi gatel-gatel.”
“Orang kayak kita pantesnya memang pakai baju kayak begituan. Kalau mahal, orang juga tahu ini baju lungsuran.”
“Biar lungsuran tapi kan bagus.”
“Biar bagus kan tetap lungsuran.”
Perdebatanku dengan Hasna sepertinya tidak akan menemukan ujung dan pangkal, seperti perdebatan tentang duluan mana, ayam atau telur. Aku memilih diam dan mengalah. Hanya di buku harian, aku mengatakan apa yang ada di hatiku. Apa hebatnya memakai baju bekas? Baju bekas hanya menjelaskan bahwa kau memang miskin. Tidak ada orang kaya yang bersedia memakai baju bekas. Memakai baju baru membuat aku merasa bisa berdiri tegak, walaupun baju itu jelek.
Tetapi demi Ibu, aku hanya memendam kekecewaanku di dalam hati. Ia pasti kecapean harus bekerja di tiga rumah di komplek perumahan atas. Setiap malam sebelum tidur, aku sering memijit kakinya dengan balsem, dan aku melihat matanya yang berkaca-kaca sambil mengusap rambutku. Lalu mengalirlah nasihat-nasihat dari Ibu kepadaku.
“Kalau kerja kasar seperti Ibu ya pasti capek, Sad. Makanya kamu belajar yang rajin, biar cepat lulus SMA, terus kamu bisa kerja di supermarket. Kamu jadi kasir. Kerjaan gampang, tinggal mencet-mencet komputer. Hebat.”
Aku hanya tersenyum tipis. Menjadi kasir di supermarket adalah impian terbesar Ibu tentang aku.
“Terus kamu juga bisa dapat gaji lumayan. Syukur-syukur kamu bisa lanjutkan kuliahmu dan jadi sarjana. Ibu jadi tidak usah jadi pembantu lagi. Capek le. Belajar yang rajin ya.”
Aku hanya mengangguk kecil sambil terus memijit kaki Ibu.
“Jangan kayak adikmu Hasna, main melulu. Mau jadi apa dia, kalau sekolahnya tidak lulus. Ntar, belum apa-apa sudah minta kawin. Nasibnya jadi sama dengan Ibu. Jadi babu.”
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi nasihat Ibu. Aku hanya ingin melihatnya senang. Aku selalu melakukan apa yang ia minta karena itu membuat matanya berbinar-binar.
Mungkin karena itulah, aku seolah berjalan menuju cita-cita dan impian Ibu. Aku lulus SMA dengan nilai yang bagus, lalu sebuah lowongan kasir datang dari sebuah minimarket di dekat rumahku. Aku mencoba melamar, walaupun aku tidak tahu apakah aku memang ingin menjadi kasir atau tidak. Hanya selang tiga minggu, aku diterima. Ibu melonjak-lonjak gembira. Betul kan kata Ibu, kamu akan berhasil menjadi apa yang Ibu harapkan.
Menjadi kasir bukanlah cita-cita terakhirku. Aku ingin lebih dari menjadi seorang kasir. Sementara ini, aku hanya ingin menyenangkan Ibu. Menggapai cita-citanya.
Tanpa sepengetahuan Ibu, ada perayaan lain bagi diriku sendiri. Aku bertekad membeli baju-bajuku sendiri. Aku menolak lungsuran pakaian dari Bisma. Baju kaos murah seharga tiga puluh ribu mudah ditemukan di supermarket atau di bazaar-bazaar kampung. Kali ini Ibu tidak memaksaku lagi. Mungkin karena ia terlalu girang karena aku berhasil mencapai apa yang dicita-citakannya. Ia sering mampir ke minimarket itu, hanya untuk memandangku dengan penuh kebanggaan saat aku berdiri di belakang kasir dan memencet-mencet komputer yang ada di hadapanku.
Sejak aku bekerja, Ibu hanya bekerja di satu rumah untuk sekedar menambah penghasilan. Ia sekarang mempunyai kesibukan baru. Menyiapkan bekal untukku agar aku bisa menikmati masakannya di tempat kerja. Biar gajimu tak habis buat beli makan, katanya. Sekali lagi aku mengangguk untuk menyenangkannya.
Bagian yang paling kusuka sejak menjadi kasir minimarket ini adalah pada saat aku membeli dan memilih bajuku sendiri. Aku bisa memilih gambar-gambar kesukaanku. Aku memilih model-model yang menunjukkan siapa aku yang sebenarnya. Aku bisa mematut-matut sendiri baju itu, tanpa membayangkan orang lain yang pernah memakai baju itu. Dulu, aku sering mengganti wajahku dengan Bisma ketika mengamati bayanganku di cermin. Sekarang aku bisa menatap bayanganku sendiri dengan senyum puas. Ini aku Asad, bukan Bisma.
oleh Ni Komang Ariani
dimuat di harian Tribun Jabar, 26 Oktober 2014
Aku sering memandangi wajah Mak diam-diam, berharap di wajah itu ada segurat senyuman yang tidak pernah aku sadari. Usaha yang sia-sia. Tidak ada secuilpun senyum di sana. Wajah itu selalu terlihat masam dan cemberut. Apakah Mak sudah lupa cara tersenyum? Apakah hati Mak tidak pernah senang?
Bukankah sekarang Mak sudah menjadi perempuan hebat. Uangnya banyak. Ia bekerja sebagai buruh cuci di tiga rumah sekaligus. Penghasilannya hampir sejuta. Mengapa Mak tidak juga senang? Tidak tersenyum-senyum.
Dulu, ia selalu mengeluh mengenai uang yang kurang. Penghasilan Bapak yang ngepas sebagai tukang bangunan. Mak sering ngomel karena setelah lima tahun mengadu nasib di Jakarta, ia merasa belum punya apa-apa. Mak pengin punya kulkas seperti nyonya-nyonya majikannya. Betapa seringnya Mak menyebut kulkas dalam omelannya kepada Bapak.
Mestinya Mak senang dengan penghasilannya yang sekarang. Bukankah Mak hanya sekolah sampai kelas tiga SD di Jawa, sekedar bisa membaca dan menulis. Sebaliknya, wajah Mak malah semakin masam, dan semakin cemberut. Ia semakin sering marah-marah. Setiap pulang kerja, Mak mengeluh mengenai harga barang yang terus naik, majikan yang pelit, teman kerja yang pemalas sampai dengan rumah yang berantakan karena aku anak yang pemalas. Tidak pernah ada yang benar di mata Mak.
Bagiku Mak bekerja seperti orang kesetanan. Ia bekerja terus-menerus seolah tubuhnya adalah sepotong karet yang tidak membutuhkan istirahat. Mak berangkat bekerja ketika pagi masih gelap. Aku biasanya terbangun saat mendengar berisik suara air di kamar mandi. Lalu, aku akan membuka pintu kamar sedikit dan mengintip Mak. Mak selalu melakukan hal yang sama setiap pagi. Ia tidak suka sarapan. Ia hanya meminum segelas kopi susu instan, lalu memanaskan sayur singkong kesukaannya. Kadangkala ia menggoreng satu potong ayam goreng sisa kemarin. Aku tidak peduli bila Mak tidak masak karena aku tidak pernah menyukai masakannya yang keasinan. Apalagi Mak juga tidak pernah bertanya kepadaku aku suka makan apa. Aku sudah terlampau kenyang dengan keluhan Mak yang tidak pernah habis.
Mak pulang setelah petang hampir habis dengan langkah kaki yang terseok-seok karena kelelahan. Tenaganya sudah tak bersisa setelah membersihkan tiga rumah majikannya. Ia mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika dan menyiram tanaman di setiap rumah yang didatanginya. Tangan-tangannya bergerak sangat cepat, seolah ingin berkejaran dengan waktu. Mak selalu mereka-reka mana pekerjaan yang bisa dikerjakan bersamaan, mana yang harus dikerjakan lebih dahulu karena harus menunggu, mana yang dikerjakan paling akhir agar selesai pada waktu yang paling cepat. Pada saat aku mengikuti Mak bekerja, tak sekalipun ia menoleh kepadaku. Pikiran Mak kuyup pada mempercepat pekerjaannya. Mak kadang lupa memperhatikan apakah pekerjaannya sudah baik atau tidak. Sudah memuaskan buat majikannya atau tidak. Mak hanya ingin cepat pindah ke rumah lainnya.
Mak selalu menganggap bahwa aku anak yang rewel, ia selalu membandingkan aku dengan Kak Nanda, yang dikatakannya sebagai anak baik. Kak Nanda yang selalu mendapat nilai bagus di sekolah dan tidak pernah minta macam-macam. Sementara aku bagi Mak sangat merepotkan. Aku sering menangis keras di pagi hari yang membuat ia mengunciku di kamar mandi sampai aku berhenti menangis. Aku ingin protes karena Mak bekerja seperti orang kesurupan dan tidak pernah mau mendengar cerita-ceritaku. Namun ia malah sibuk mencercaku karena nilai-nilai sekolahku yang jelek.
Kalau saja Mak mau mendengarku, aku ingin bercerita banyak hal. Bercerita tentang guru kesenianku yang sering memuji gambarku yang bagus dibanding teman-teman sekelasku. Aku ingin bercerita tentang teman-temanku yang sombong. Teman-teman yang selalu memamerkan barang-barang mahal yang mereka punyai. Darimana mereka dapatkan barang-barang yang begitu mahal? Memang beberapa dari teman-temanku adalah anak pemilik kontrakan yang kaya, tapi mengapa harus memamerkan barang yang sebenarnya tidak mereka pakai? Aku sudah berusaha mengatakan itu kepada mereka, namun mereka malah menyebutku sirik karena tidak mampu membeli. Ah, mungkin mereka ada benarnya.
Aku sering melamun bahwa aku mempunyai seorang Mama seperti yang dimiliki oleh anak-anak di sinetron. Seorang Mama berpakaian rapi, berwajah lembut dan selalu memanggil anaknya dengan sebutan sayang. Mau makan apa Sayang? Mau minta apa Sayang? Mak tidak akan pernah mengucapkan itu di depanku.
Ah tidak, sesungguhnya aku tidak berharap sejauh itu. Aku cukup senang mempunyai ibu seperti Bu Lik Inah yang sangat baik pada anak-anaknya sekalipun ia juga seorang buruh cuci. Bu Lik sering membelikan anak-anaknya mainan walaupun harganya sangat murah. Namun yang paling aku suka dari Bu Lik Nah adalah Bu Lik sering bertanya pada anaknya Nisa dengan kata-kata : “Mau makan apa Nis, nanti Mak masakin.” Bu Lik Nah mestinya tidak lebih kaya dari Mak. Bu Lik Nah hanya bekerja di dua rumah di komplek atas sana dan suaminya hanya supir angkot, tapi aku lebih suka Bu Lik Nah menjadi ibuku. Bu Lik Nah berwajah lembut dan murah senyum sementara wajah Mak keras seperti batu. Mungkin karena Mak menumpuk begitu banyak kemarahan di hatinya.
Yang paling aku benci dari Mak adalah ia tidak habis-habisnya berantam dengan sesama buruh cuci yang mengontrak di rumah ini. Entah masalah apa yang membuatnya begitu sering berantam. Bila berantam, mulut Mak akan meruncing dan suaranya akan terdengar mencicit seperti suara tikus. Mak juga sering berantam dengan Bapak yang merasa tidak dipedulikan. Ah Tuhan, mengapa Mak justru menjadi begitu menyeramkan sejak ia mempunyai banyak pekerjaan di komplek sana. Dulu, ketika belum bekerja, Mak masih cukup telaten mengurusku dan Kak Nanda.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Mak? Pernah terpikir di benakku barangkali Mak sudah kerasukan mahluk halus dari kali atau pohon besar di dekat kontrakan kami. Karena kadang-kadang wajah Mak yang sedang marah terlihat sangat menyeramkan seperti genderuwo. Apalagi Mak sendiri juga meyakini dirinya sebagai orang yang sering kerasukan roh atau mahluk halus. Setiap kali tubuhnya terasa tidak enak maupun sakit, ia percaya ia sudah diganduli mahluk-mahluk yang tidak kelihatan itu. Setiap kali itu pula ia membuat ramuan dan jampi-jampi untuk mengusir mahluk halus dan mengobati dirinya.
Aku sebenarnya ingin memberi tahu Mak tentang tingkah lakunya yang menjengkelkan. Banyak tetangga kami yang sudah membenci Mak dan menjauhinya. Namun Mak tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara. Ia tidak pernah mau mendengarkanku. Ia terus saja bicara seolah-olah hanya kata-kata dari mulutnya yang layak untuk didengarkan. Jangankan untuk bicara, setiap kali melihatku, wajah Mak sudah mengeras dan tubuhnya menyala. Bagi Mak aku adalah anak perempuan yang kurang ajar dan pemalas. Ia sering membentakku karena aku lupa membantunya mencuci atau menyetrika. Anehnya, Kak Nanda tidak pernah mendapat tugas yang sama, padahal ia dua tahun lebih tua daripadaku. Mak juga sering mengungkit kebiasaanku menonton TV sehingga aku tidak pernah belajar dan nilai ulanganku menjadi buruk. Bagaimana mungkin ia akan mendengarkanku?
Beberapa teman Mak sering berbisik-bisik menggunjingkannya. Gosip yang beredar mengatakan Mak sudah membuat perjanjian dengan penghuni pohon besar dekat rumah kami yang terkenal angker. Konon Mak sering datang ke pohon besar itu, menghaturkan sesaji dan meminta agar ia selalu mempunyai banyak pekerjaan dan banyak uang. Karena itulah Mak menjadi sangat pemarah dan menakutkan. Karena jin penghuni pohon memiliki banyak permintaan yang harus dipenuhi oleh Mak. Gunjingan lain mengatakan bahwa jin itu mungkin sesekali sudah mengganduli Mak sehingga wajahnya bisa terlihat sangat hitam dan menyeramkan.
Aku sendiri tidak begitu yakin dengan pergunjingan itu. Menurutku Mak hanya terjebak pada keinginannya sendiri untuk mempunyai banyak pekerjaan dan banyak uang. Dan keinginan itu adalah keinginan yang tidak pernah ada habisnya. Seperti berjalan terus-menerus tapi tidak ketemu tujuan yang dicari. Bukankah cukup uang dan cukup pekerjaan lebih baik? Tapi Mak pasti tidak percaya dengan pendapatku, ia selalu merasa menjadi orang yang paling tahu.
**
Hari-hari selanjutnya aku berusaha tidak peduli pada perilaku Mak. Mungkin Mak memang sudah memilih jalan itu dalam hidupnya. Sampai pada suatu siang yang tidak terduga bagiku, Mak pulang lebih cepat dengan wajah kacau. Wajahnya yang kaku dan keras makin menyeramkan dengan mata yang menyala dan bayang kehitaman pada kerutan di wajahnya.
Sejak saat itu, perangai Mak berubah drastis. Tiba-tiba ia kehilangan wajah garangnya dan berganti dengan kemurungan. Di sela-sela waktu ketika ia makan, mencuci atau menonton TV, Mak terlihat sering bengong melamun, kemudian matanya berkaca-kaca. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tidak berusaha menanyainya, bahkan aku berusaha menghindarinya. Mak memang tidak pernah memedulikan keberadaanku. Hanya Kak Nanda yang terlihat prihatin pada keadaan Mak. Kak Nanda memang sangat baik. Karena itukah Mak sangat menyayanginya? Apakah memang ada anak-anak yang terlahir menjadi anak baik atau sebaliknya menjadi anak bengal sepertiku?
Ah sudahlah…. Mungkin aku memang bukan anak yang disenangi Mak. Walaupun begitu Mak adalah ibu yang melahirkanku. Sekalipun tidak menyukainya, aku tidak membencinya. Karena itu aku kuatir juga melihat keadaan Mak yang terlihat begitu sedih. Mak akhir-akhir ini sudah tidak lagi berangkat subuh-subuh untuk bekerja. Ia berangkat agak siang dan pulang lebih cepat. Aku juga pernah melihatnya menangis diam-diam, di waktu yang dikiranya tidak ada orang di rumah. Apa yang terjadi padamu, Mak?
Di suatu tengah malam yang hening, aku terbangun oleh suara tangisan lirih di kamar kontrakan kami. Aku melihat Mak menangis sesegukan di sudut kamar. Suaranya lirih namun terdengar begitu nelangsa. Diam-diam di hatiku terbetik rasa kasihan. Aku pura-pura masih tidur dan membuka segaris mataku untuk memperhatikan Mak. Tangisnya tidak juga reda bahkan terlihat semakin menjadi. Mak menutup kedua mukanya dan bahunya terguncang-guncang. Ia terlihat putus asa. Aku kembali menutup mataku berusaha meneruskan tidur sambil berfikir-fikir apa yang menyebabkan Mak menjadi begitu.
Beberapa hari lewat setelah tangis tengah malam Mak, ia sudah terlihat pulih seperti semula. Wajahnya sudah terlihat lebih tenang. Rutinitas Mak tampaknya memang berubah. Ia hanya bekerja beberapa jam saja di komplek perumahan atas. Ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan lebih santai. Yang agak menyenangkan, Mak mulai memasak makanan yang lumayan enak lagi untuk kami. Ia tidak lagi serba terburu-buru seperti orang kesetanan lagi.
Satu hal yang membuatku semakin heran, Mak tidak lagi sering marah-marah padaku. Ia tidak lagi membentak-bentakku bila aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah. Sesekali ia mengajakku bicara dan menanyakan kegiatan sekolah. Mak betul-betul sudah berubah. Apakah yang sesungguhnya mengubahnya? Diam-diam hatiku merangkai sebuah jawaban. Sekalipun aku meyakini dugaanku ini, aku tidak pernah berani menanyakannya kepada Mak. Aku cukup bersyukur Mak sudah berubah menjadi lebih lembut kepadaku, sehingga setidaknya aku tidak lagi berkhayal memiliki seorang Mama seperti anak-anak di sinetron atau ingin menjadi anak Bu Lik Inah. Mak kandungku sudah cukup membuatku bangga dan bahagia. Terima kasih atas perubahanmu Mak.
Terhimpun dalam buku kumpulan cerpen Bukan Permaisuri. Dapat dibeli melalui website ini seharga Rp. 35.000,-
Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri oleh Ni Komang Ariani
Rumah kayu berhalaman luas ini demikian riuh. Dedaunan kering tersapu angin bergulung di tanah, menghadirkan bau legit setelah gerimis sempat menerpa. Inilah saat putri bungsuku, Wardhani akan berpamitan untuk pergi ke rumah suaminya. Para tetangga juga semua kerabat berkumpul memberikan ucapan selamat dan salam perpisahan.
Suasana begitu riuh namun berlawanan dengan yang kurasakan di hatiku. Entah mengapa jiwaku terasa sangat hampa. Sesak tanpa jelas sumber dan asal usulnya. Tiga anak perempuan yang kukandung selama sembilan bulan satu persatu sudah meninggalkanku. Luh Wayan, putri pertamaku sudah menikah dengan seorang bule yang menyukai kemampuan Luh menari. Greg–nama mantuku itu–memboyong putriku ke Amerika. Negeri yang begitu jauhnya hingga rasanya mustahil dapat kujangkau. Entah bagaimana rupa cucu pertamaku, aku sama sekali tidak tahu. Luh hanya menelepon mengabarkan kelahiran anak pertamanya. Seorang bayi laki-laki bertubuh montok dan berambut pirang.
Kemudian putri keduaku, Made Sari menikah setahun kemudian. Suaminya seorang wartawan asal Jakarta. Putri keduaku itu juga langsung diboyong ke Jakarta. Ia pun telah melahirkan bayi pertamanya, bayi perempuan yang diberi nama Dina. Dan kini giliran Wardhani, putri bungsuku. Hanya ialah yang akan tinggal di Bali setelah menikah. Ia masih akan tinggal satu kampung denganku. Ia menikahi seorang guru sejarah yang baik hati.
Sebenarnya aku menyukai semua menantuku, yang selalu hormat dan bersikap baik padaku. Namun tetap saja tidak mengurangi rasa sunyi yang tiba-tiba hadir. Besok, rumah ini akan jauh lebih lengang. Kami, aku dan suamiku hanya akan tinggal berdua saja.
Pikiranku melayang ke masa dua puluh tahunan yang lalu. Saat itu kutinggalkan rumahku untuk menikah dengan Bli Gede. Aku menyalami Meme dan Bapa, yang melepasku dengan linangan air di matanya. Masa itu baru berlalu sekejapan mata rasanya. Ternyata masa itu kini menghadang begitu saja di depanku. Karma terjadi begitu cepat.
Anak-anakku telah pergi dengan langkah-langkah panjang dan pandangan mata lurus. Mereka menjauh tanpa niatpun menoleh. Tak lebih tak kurang dengan yang kulakukan dulu. Masa depan bagi mereka adalah sejuta harapan dan cita-cita. Sementara masa belakang bagi mereka hanya ketuaan dan kesia-siaan. Dan di masa itulah kini aku berada.
Bli Gede sepertinya tidak peduli. Senyum cerah selalu ia tampakkan tiap kali anak-anaknya kawin. Setelah itu ia akan kembali menekuni kebiasaan lamanya. Mengelus-ngelus dan bercengkrama berlama-lama dengan ayam jago miliknya. Seakan-akan ayam itu menjadi teman yang begitu akrab. Ayam jago yang pernah menjadi bintang di desa itu, kini cuma bisa mengais-ngais sisa kenangan tentang kejayaan di masa lalu. Sudah lama ayam itu tak mencium bau taji dan darah lawan yang anyir. Dia hanya meringkuk tenang di pojokan dapur, memperhatikan dengan nanar burung-burung dara yang melenggak-lenggok di halaman berebut butir beras yang tercecer.
Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun lewat. Sisa-sisa tenaga yang kumiliki semakin menipis. Tangan dan kakiku tak lagi cekatan digunakan bekerja sebagai Juru Canang , pekerjaanku selama dua puluh tahun terakhir. Aku lebih sering sakit daripada cukup sehat untuk bekerja. Sementara Bli Gede mulai kehilangan ketajaman sebagai makelar tanah. Makin hari, makin menipis penghasilan yang ia peroleh. Tabungan yang tadinya kami simpan untuk hari tua, pelan namun pasti mulai kami kuras untuk biaya hidup sehari-hari. Belum lagi bila salah satu dari kami jatuh sakit, bobol sudah simpanan hari tua kami itu.
Dengan kondisi keuangan yang demikian pas-pasan, tiba-tiba Bli Gede melontarkan sebuah keinginan. Aku ingin ke Tanah Lot, Iluh. Ingin menikmati es kelapa muda sambil memandang matahari tenggelam di ufuk Barat. Dengan ringan aku menolak keinginan mahal itu. Pergi ke Tanah Lot dan menikmati kemewahan es kelapa muda di restoran ujung tebingnya-jelas terlalu mewah buat kami yang sudah renta ini. Umur kita masih panjang Bli, kita harus punya cukup uang untuk terus hidup. Tahanlah keinginan mewahmu itu. Kataku saat itu.
Namun rupanya keinginan suamiku bukan keinginan main-main. Ia seperti perempuan hamil yang amat mengidamkan es kelapa muda-tanah lot-nya. Berkali-kali ia lontarkan kembali keinginannya itu. Bahkan kadangkala dengan suara yang terdengar memelas. Iluh, Bli ingin sekali berdua bersamamu di sana. Ingin memelukmu seperti pacaran dulu. Tidakkah bisa kau kabulkan keinginanku ini. Ini barangkali keinginan terakhirku sebelum aku mati.
Aku tergugu mendengarnya, namun aku tidak berdaya. Dengan mengelus punggungnya yang telah mulai bungkuk, aku mencoba membuatnya mengerti. Hidup dan nyawa kita lebih penting daripada keinginanmu itu. Sabarlah Bli. Kita memang tidak mempunyai banyak pilihan. Ia memandangku dengan tatapan kecewa. Mintalah pada anak-anakmu, Luh. Mereka cukup kaya untuk membantu kita.
Meminta bantuan anak-anak? Hhh… Mungkin belum ada hukum yang mengatur bahwa anak-anak seharusnyalah bertanggungjawab pada orang tua yang telah mengasuh dan membesarkan mereka. Karena itukah–anak-anak yang telah kubesarkan dan kuperjuangkan seluruh hidupku, lupa bahwa mereka masih memiliki sepasang orang tua yang masih terus melanjutkan hidupnya?
Kata orang, mendidik anak seharusnya iklas, tidak mengharapkan balas budi. Namun benarkah demikian? Sungguhkah aku tidak boleh mengharapkan anak-anakku mencintaiku—sehingga mereka akan berusaha membahagiakanku—seperti aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Kenyataan yang menghampar di depan mata, membuat aku memutuskan berhenti berharap.
Tak seorangpun dari ketiga anakku yang mengirimi kami uang. Tidak juga para menantu yang dulu begitu manis saat melamar anak-anakku. Bukan hanya itu, mereka semakin lama semakin jarang mengunjungiku. Tahun-tahun awal pernikahannya, hampir tiap hari Wardhani mengunjungiku. Lama-lama menjadi seminggu sekali, terus semakin jarang menjadi sebulan sekali, lebih jarang lagi menjadi setiap Galungan yang enam bulan sekali, dan sekarang ia hanya datang setahun sekali. Padahal ia satu kampung denganku dan kami masih sering bertemu secara tidak sengaja di beberapa tempat. Begitu juga Made Sari. Ia awalnya pulang tiga bulan sekali, menjadi enam bulan sekali, kemudian setahun sekali setiap mudik lebaran. Sekarang ia hanya pulang dua tahun sekali dengan alasan mengirit pengeluaran. Dan yang sulung lebih-lebih lagi. Sejak menikah belum sekalipun ia pulang. Awalnya ia sering menelepon memberi kabar tentang cucuku di sana, namun sekarang tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bertahun-tahun tidak sekalipun ia menelepon kami.
Lupakan mereka. Kabarnya mereka sendiri sulit memenuhi kebutuhan hidup berumah tangga yang semakin berat dewasa ini. Tentu saja berat untuk mereka yang tidak segan-segan mengeluarkan uang berlebih-lebih demi kepuasan diri dan anak-anak tercinta. Namun tidak untuk kedua orang tua mereka yang telah renta. Pengeluaran untuk ketuaan dan kesia-siaan haruslah dipikirkan matang, kalau bisa dibuat seefisien mungkin, seolah-olah hidup mereka selama ini efisien.
Hhh… Buat apa aku mengutuki mereka yang lahir dari rahimku sendiri. Biar kuterima kesendirian kami ini sebagai takdir yang tidak memerlukan alasan ataupun sebab musabab.
Aku mau menjual si jago Luh, biarlah ia dipotong orang. Aku sangat ingin ke Tanah Lot. Kata suamiku suatu kali. Aku memandangnya lama. Mencari kesungguhan di matanya. Aku tidak menyangka ia akan berkata begitu mengingat ia begitu sayang pada jago tua itu. Si jago adalah ayam kebanggaan suamiku. Ia telah malang- melintang dari satu tajen ke tajen lainnya. Ia memenangkan pertandingan demi pertandingan dengan luka-luka di tubuhnya. Ia harus menang, karena kalah berarti mati. Jago tua itu begitu setia padamu. Kau tega menjualnya? Bli Gede hanya terdiam dan memandang nanar pada kepak-kepak sayap si jago yang terlihat di kejauhan.
Rupanya keinginan suamiku untuk pergi berjalan-jalan sudah tak tertahankan lagi. Setelah rencananya urung ia lakukan saat itu, suatu kali aku memergoki Bli Gede dengan wajah murung membuka kurungan si jago, mengambil ayam tua itu pelan-pelan, memasukannya ke dalam anyaman daun kelapa, kemudian bergegas hendak membawanya pergi. Namun entah apa yang membuatnya tiba-tiba mengurungkan niat. Barangkali suamiku itu menjadi tidak tega ketika matanya menumbuk mata si jago yang terlihat lelah dengan kantung matanya yang tebal, dan mata yang me-ungu-sayu. Suamiku mungkin melihat cermin dirinya saat melihat si jago. Jagoan yang ada di penghujung usia. Tanpa digorokpun, ayam itu sebentar lagi akan mati. Saat itu matanya terlihat jengis , mungkin ia jerih juga membayangkan maut yang setiap saat bisa datang menjemput. Maut yang kadang tak merasa perlu memberi alasan atas kedatangannya. Ketuaan, kerentaan kami, telah cukup menjadi alasan yang masuk akal. Perlahan butiran air mengalir di pipinya yang hitam dan keriput.
“Hai jago, kau sungguh beruntung, tak mati seperti ayam aduan lain. Dimana taji menembus jantung, mencabik-cabik perut. Terkapar sebagai ksatria atau kalah oleh ketidakberdayaan!” Tiba-tiba laki-laki tua itu menangis tersedu-sedu. Kadangkala kudengar raungan menyanyat. Kali ini air mata bahkan bercucuran deras.
“Puluhan jago sepertimu mati dalam kalah dan tak berdaya. Tak berdaya menentukan jalan hidupnya sendiri. Terpaksa menjadikan taji satu-satunya cara hidup. Ber-taji atau mati oleh taji. Maafkan aku jago, aku telah membuat hidupmu pun menjadi kalah dan tak berdaya. Mempertaruhkan hidupmu setiap saat untuk alasan yang tidak kau mengerti. Kamu memberi tahu aku rasa kalah tak berdaya itu sekarang. Rasanya amat menyedihkan. Aku telah membuat rasa menyedihkan pada puluhan jago aduan sepertimu…!”
Kembali dia menangis sesegukan. Terdiam, kemudian kembali meraung-raung menyayat. Aku tak sampai hati melihatnya. “Kenapa sampai begitu Bli, tenang saja, besok kita ke Tanah Lot dan beli es kelapa muda yang kamu inginkan itu. Uang depositoku masih ada. Nggak usah nangis seperti itu dong Bli. Kita memang segera akan mati, tapi kita juga tidak tahu pasti kapan waktunya. Kapan harus merasa sedih untuk itu dan berapa lama juga tidak jelas, kenapa tidak tenang saja!”
“Kamu tidak tahu, bukan ajal yang tiang takuti, atau keinginanku yang ke tanah lot itu. Tapi tiang betul-betul baru tahu rasanya, saat ajal membuat kita merasa kalah dan tak berdaya. Saat kerentaan membuat kalah dan tak berdaya. Aku telah memilihkan hidup penuh taruhan nyawa, dengan ajal yang setiap saat datang menjemput kepada puluhan jago yang pernah aku adu, kini si jago memberi tahu aku bagaimana rasanya”.
Suamiku bercerita dengan air mata yang deras mengalir. Aku tak paham dalam tubuh penyabung ayam–yang kadang kala amat keras pada anak-anaknya–tersimpan keperasaan yang demikian dalam. Dari dulu aku tidak suka melihat ia menyabung ayam dan membunuhi ayam-ayam kekar itu, walau akhirnya aku menikmati masakan garang asem yang ia buat. Lupa sudah aku pada ayam-ayam yang mengerang dan berdarah-darah seperti satria di medan laga itu.
Ah, semua rasa memang tampaknya muncul saat kerentaan tiba. Semua penyesalan, kelemahan, ketakutan, kegalauan. Untungnya, aku tidak pernah terlalu perasa. Jadi kepergian anak-anakku yang kubesarkan dengan tetesan keringat, tak terlalu menggangguku. Walau aku kian merasa dilupakan dan ditinggalkan. Mengapa setelah tua kita menjadi tak berharga, tak menarik, tak diinginkan. Mungkin dengan rasa yang samalah aku meninggalkan kedua orang tuaku saat menikah. Dengan langkah-langkah panjang, tanpa sekalipun menoleh.
Diterbitkan di Cerpen Pilihan Kompas 2008 dan terhimpun dalam Buku Bukan Permaisuri.
Dia hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berfikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih, pertanda itu diucapkan oleh orang yang berhati bening.
Seperti dia. Laki-laki yang yang bagi saya tidak mempunyai cela sedikitpun. Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung hasil anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara.
Dengan berlinang air mata ia mengisahkan cerita itu. Membuat saya makin mabuk pada pesonanya. Berfikir telah menikahi seorang malaikat. Ia memegang erat tangan saya, dan menghapus air mata yang mengalir di pipi. Saya terbenam dalam perasaan yang campur-aduk. Saya makin menginginkan laki-laki itu.
Saya harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugas kita sebagai umat manusia. Kita tidak mungkin membiarkannya terlunta-lunta tanpa pertolongan. Saya sangat sedih harus melakukannya. Ini akan menjadi berat untukmu, karena kau tidak lagi menjadi satu-satunya.
Mulut saya terkunci. Betapa inginnya saya menjadi seorang pahlawan, yang rela berkorban sepertinya. Yang membuat dia terlihat makin gagah dan bercahaya. Membuat saya ingin merangkumnya dalam pelukan. Membuat saya semakin ingin memilikinya seorang diri. Hanya seorang diri.
Namun katanya saya tidak boleh egois. Hanya mementingkan perasaan sendiri. Mau berkorban untuk orang lain. Seperti dia. Samakah kami?
Bagaimana cara membagi suamimu dengan perempuan lain? Telah ditemukankah caranya oleh seseorang? Karena saya ingin datang padanya untuk belajar.
Saya sudah berulangkali menasihati diri sendiri untuk menjadi sabar, pasrah dan lemah-lembut, saya tak pernah sungguh tahu caranya. Saya hanya menyimpan kengerian yang menjelma mimpi-mimpi aneh selama sepekan ini.
Sudah seminggu saya bermimpi melihat seekor gurita raksasa sedang menunggu di ambang pintu rumah kami. Gurita itu merentangkan tentakel-tentakelnya sehingga tampak jelas di jendela rumah kami. Di waktu-waktu tertentu, si gurita mengibaskan tentakelnya ke jendela dan menimbulkan suara ketukan. Semakin lama ketukan itu semakin sering. Setiap saat gurita itu bisa menghancurkan pintu dan mengambil alih rumah kami. Mimpi yang ganjil. Namun saya tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.
Saya pernah mencoba menceritakan hal-hal seperti ini, dan teman-teman saya mengatakan saya cengeng, egois, manja dan lain sebagainya.
Pikirkanlah dulu. Saya tidak akan memaksamu. Pikirkanlah semalam suntuk. Saya menunggumu besok pagi. Karena waktu yang kita miliki tidak banyak. Lusa mungkin terlambat.
Siapakah saya yang harus membuat keputusan yang begitu pelik? Jika saya mengatakan tidak, saya membayangkan berpasang-pasang mata yang mengatakan saya sebagai perempuan yang tidak mempunyai belas kasihan.
Jika saya mengatakan iya, tentakel-tentakel raksasa itu akan memecah jendela-jendela kaca di rumah kami, memasuki rumah dan duduk di sofa TV yang biasa saya duduki.
Saya tidak mengerti ada orang-orang yang begitu mudah membuat keputusan seperti ini. Mereka yang terlihat anggun dengan senyumnya yang manis dan menenangkan. Mengapa saya tidak bisa meniru mereka sedikitpun?
Saya membayangkan perempuan muda itu di kepala saya. Dengan wajah ranum tak berdosanya? Dengan senyum polosnya yang memantik belas kasihan. Sanggupkah saya melihat perempuan muda itu masuk ke kamar yang sama dengannya. Laki-laki milik saya. Rasa sakit yang sama. Terus berulang sejak saya mengenalnya. Setiap iris rasa bahagia seolah selalu berteman dengan rasa sakit. Mereka teman abadi yang tidak bisa dipisahkan.
Pikiran saya terus berputar-putar, seakan tidak ada batasan untuk perputarannya. Detak jam di jam dua belas malam menyentakkan saya. Subuh akan segera datang, dan saya belum mengambil keputusan.
Dan saya membayangkan kengerian yang lain. Dia akan meninggalkan saya demi menepati janjinya pada perempuan muda itu. Demi hasratnya yang besar untuk berkorban. Karena ia terlalu banyak mendengar cerita-cerita kepahlawanan. Jika begitu, saya hanya bisa menangisi kepergiannya. Merindukan bau kulitnya tiap malam tiba.
Saya terdesak oleh kebuntuan.
Saya menyalakan komputer, ingin mendapat inspirasi seperti yang sudah-sudah untuk tulisan saya. Saya ketik nama perempuan muda itu. Saya cari gambar-gambarnya di internet. Saya mengagumi wajahnya yang bening, dengan rambut panjang yang berkilauan. Perempuan itu begitu indah. Pantas saja membuat laki-laki manapun terpesona. Saya hanya bisa menangkap kegembiraan pada wajah perempuan itu.
Perempuan yang sedang mekar dan menunjukkan ranumnya. Ia pantas menjadi keponakan saya, karena ia begitu muda, dan juga tidak berdosa.
Saya akan berdosa jika tidak menerimanya menjadi teman hidup kami. Perempuan itu bisa menjadi adik saya. Begitu cerita-cerita perempuan anggun yang dapat membagi suaminya. Wajah tidak berdosa itu tidak mungkin mengancam. Kami bisa menjadi keluarga yang rukun.
Saya telah bulat membuat membuat keputusan untuk menerimanya ketika sebuah gambar membuat saya sesak nafas. Perempuan muda itu memeluknya dalam kehangatan. Wajah perempuan muda itu mekar oleh kegembiraan. Dia tersenyum dengan kilauan yang lebih cemerlang daripada matahari. Gambar serupa bermunculan dan memenuhi layar komputer di hadapan saya. Di gambar terakhir, keduanyanya berkecup mesra. Perut saya bergolak mual.
Saya memejamkan mata pada berdetik-detik yang lewat. Menghirup angin yang lewat di hadapan saya. Mengingat bertahun-tahun yang saya lewati bersama dia. Mengingat kalimat demi kalimat yang pernah ia ucapkan. Helai demi helai membuka di hadapan saya. Mengingat rasa sakit yang sama. Bahagia yang berhimpitan dengan rasa sakit. Kadang-kadang terasa ganjil tapi entah mengapa saya tidak pernah memikirkannya.
Di awal pertemuan kami, lima belas tahun yang lalu, ia selalu mengatakan kau adalah matahari yang menyinari hidupku. Di waktu lain ia juga mengatakan tanpamu, hidupku akan menjadi sekumpulan senja.
Setelah itu, entah mengapa saya tidak pernah lagi bertanya atau sekedar bertanya-tanya dalam hati tentangnya. Saya percaya ia adalah laki-laki tanpa cela.
Pun ketika pada malam-malam tertentu, ia tidak pulang ke rumah dengan alasan yang terasa ganjil. Tak pernah terbetik kecurigaan. Seharusnya saya bertanya dan menatap matanya. Kemana kau pergi? Apakah kau bersama perempuan lain?
Kokok pertama si jago menyentakkan saya dari lamunan. Seluruh hidup saya selama lima belas tahun sudah saya putar ulang dalam semalam. Saya memasukkan baju-baju tanpa suara. Memilih barang-barang terpenting yang saya miliki. Saya meliriknya sekilas yang masih lelap dalam tidurnya. Wajahnya menyunggingkan senyum tipis. Saya tak lagi berselera padanya.
Seharusnya ketika ia datang dengan kisah palsunya itu saya memberikan sebuah syarat padanya. Sudakkah kau temukan juga untukku seorang laki-laki muda dan menderita karena ditinggalkan oleh istrinya dengan semena-mena. Laki-laki muda dengan otot yang liat dan senyum yang semanis gula. Kau memintaku untuk menyelamatkannya dan membawanya ke rumah kami.
Tepat ketika selubung gelap berganti dengan terang, saya sudah berdiri di depan rumah, menunggu tukang ojek yang sudah saya pesan. Melintas dalam ingatan saya, kata-kata seorang kawan, bersikaplah awas jika kau hidup dengan seseorang yang kau anggap tidak mempunyai cela sedikitpun. Karena ada dua pilihan yang tersedia, ia bukan manusia atau kau tidak mengenalnya sama sekali.
Cerpen oleh Ni Komang Ariani, dimuat di Media Indonesia, 14 September 2014